Connect with us

Sulselbar

Gerakan Perlawanan Terbesar Rakyat Luwu

-

HARI ini, 23 Januari 2016, Masyarakat Luwu Timur memeringati Hari Perlawanan Rakyat Luwu yang ke-70 bersamaan dengan Peringatan Hari Jadi Luwu ke 748. Momentum untuk memperbarui semangat pembangunan Tana Luwu yang lebih maju, sejahtera, mandiri dan berdaya saing.
Pejabat Bupati Luwu Timur, Irman Yasin Limpo, mengatakan di Sulsel, perlawanan rakyat Luwu memang menjadi gerakan terbesar melawan penjajah. Dikisahkan, pada 18 Agustus 1945 Kapten Sakata, perwira tentara Jepang menyampaikan kabar kepada Andi Ahmad yang merupakan putra Andi Djemma, bahwa kemerdekaan RI telah diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta.
Atas informasi itu, Andi Ahmad langsung mengambil inisiatif menggelar pertemuan rahasia dengan tokoh pemuda progresif pendukung kemerdekaan dan memprakarsai pembentukan wadah perjuangan “Soekarno Muda”, sekaligus menyampaikan berita ini kepada Kepala Pemerintahan Kerajaan Luwu, Paduka Andi Djemma Datu Luwu, untuk mengambil sikap.
Semangat kemerdekaan merebak ke dada seluruh Rakyat Luwu. Kabar kemerdekaan pun menyebar mulai dari Kota Palopo sebagai pusat pemerintahan Kedatuan Luwu, sampai ke distrik-distrik atau kesatuan-kesatuan pergerakan di seluruh pelosok desa, kampung dan gunung-gunung. Meskipun badan-badan atau kelompok-kelompok perjuangan ini beraneka ragam, tetapi mempunyai tekad dan tujuan yang satu yakni, “Merdeka atau Mati”. Kerajaan Luwu menyatakan berintegrasi masuk ke dalam Negara Republik Indonesia.
Hal itu ditandai dengan adanya pernyataan Sri Paduka Datu Luwu pada masa itu Andi Djemma yang antara lain menyatakan “Kerajaan Luwu adalah bagian dari Wilayah Kesatuan Republik Indonesia”. Perjuangan Rakyat Luwu dalam menentang penjajah mendapat pengakuan secara nasional dan dikukuhkan dengan piagam penghargaan angkatan perang Republik Indonesia tanggal 5 Oktober 1951.
Kini di masa kemerdekaan, rakyat Luwu bahu-membahu melaksanakan pembangunan untuk kesejahteraannya, tak terkecuali masyarakat Kabupaten Luwu Timur. Irman mengatakan sangat mengapresiasi semangat kebersamaan masyarakat Luwu Timur.
“Meski masyarakat Lutim heterogen, terdiri dari berbagai suku dan keyakinan, namun menciptakan kedamaian dalam persatuan yang utuh, untuk menciptakan kemandirian sehingga terwujud kemakmuran dan kesejahteraan,” ujar Irman
Irman mengingatkan, Hari Perjuangan Rakyat Luwu dalam konteks kekinian, hendaknya dimaknai sebagai tugas nersama, Tugas Empat Wilayah Administratif di Tana Luwu, yakni Pemkot Palopo, Pemkab Kabupaten Luwu, Pemkab Luwu Utara dan Pemkab Luwu Timur. “Semuanya memiliki satu tekad, mengejawantahkan seluruh mimpi bersama yaitu Tana Luwu menjadi pilar utama pembangunan Sulawesi Selatan, menuju peradaban yang lebih maju. Mimpi ini bukan sekedar mimpi biasa, Tana Luwu memiliki segala Potensi Besar baik dari Sektor Pendidikan, Kesehatan, Infrastruktur terlebih lagi Sektor Pertaniannya,” paparnya.
Inilah saatnya, bagi Tana Luwu, bukan lagi berjuang dengan menggunakan Bambu Runcing di tangan, tapi Tana Luwu dengan Potensi Besarnya harus mampu menjadikan dirinya sebagai Pilar di Timur Sulawesi Selatan.
“Ini momen besar kita mewujudkan mimpi besar kita bersama, bukan saatnya lagi kita beradu otot tapi mari bersatu tekad, dengan Ide Besar, dengan Potensi Tekhnologi, Potensi SDA dan potensi SDM yang dimiliki Tana Luwu, mari ciptakan suatu peradaban baru di Sulsel. Peradaban yang membawa kesejahteraan dan kedamaian bagi seluruh masyarakat tana luwu,” kata Irman.
Irman menambahkan bukanlah sebuah kemustahilan, jika masyarakat Luwu bermimpi bahwa Tana Luwu nanti memiliki Stasiun Kereta Api, memiliki Bandara sehingga mempersingkat jarak tempuh antar wilayah. “Jangan ragu untuk bermimpi, kalau bermimpi itu jangan setengah-setengah, mimpilah yang besar dan tekad yang besar untuk mewujudkannya, maka hal yang besar pula akan tercapai,” tegas None, sapaan akrab Irman. “Kita tentu tidak melupakan Perjuangan para Pahlawan memperjuangkan Kemerdekaan RI dan Tana Luwu. Sebagai generasi penerus semangat kepahlawanan, dengan tidak mengesampingkan tradisi dan budaya serta kearifan lokal Tana Luwu, seluruh Rakyat Tana Luwu sebagai sesama Wija To Luwu, serta seluruh komponen masyarakat harus bersikap optimis dan berpikir positif bahwa menjadi pahlawan diera saat ini tidak lagi memperjuangkan kedaulatan negara tapi bagaimana membangun kesepahaman untuk menyatukan langkah meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” papar Irman.
Menurut Irman, sebagai bentuk komitmen Wija To Luwu, Empat Pemerintah Daerah kini telah membentuk Badan Kerjasama Pembangunan Tana Luwu (BKP-TL) yang diawali dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) oleh Walikota Palopo, HM Judas Amir, Bupati Luwu, H Andi Mudzakkar, Bupati Luwu Utara, H Arifin Djunaedi dan Bupati Luwu Timur, H Andi Hatta Marakarma. Penandatanganan disaksikan Sri Paduka Datu Luwu, H. Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, Para Ketua DPRD se Tana Luwu, Sekda, Bappeda, Dinas Pendapatan, dan Kabag Organisasi dan Kabag Hukum se Tana Luwu di Rujab Bupati Luwu Timur, Selasa (25/8/2015).
“Ini menjadi sebuah tonggak baru dalam memberikan makna terhadap sejarah perjuangan Rakyat Tana Luwu. Apalagi dasar hukum kerjasama daerah ini dimungkinkan karena telah diatur dalam Permendagri Nomor 22 Tahun 2009 tentang Petunjuk Teknis Kerjasama Daerah,” kata Irman.
Dengan dibentuknya BKP-TL maka diharapkan pembangunan di Tana Luwu akan semakin berkembang, dengan kondisi yang lebih kondusif. Masyarakat Luwu juga diharapkan dapat menjaga kebersamaan dalam hubungan yang lebih erat, serta mampu menghindari hal-hal yang bisa merusak kekompakan yang berpotensi menghambat pembangunan untuk kesejahteraan bersama. (alp/C)

Share

Komentar Anda

Populer Minggu ini