Connect with us

Headline

Kakak Beradik Jual Senpi Ilegal Lintas Provinsi

-

SIDRAP, BKM — Penjualan senjata api (senpi) dan senjata tajam (sajam) ilegal lintas provinsi dibongkar aparat Satuan Intelkam Polres Sidrap, Rabu (27/1). Pengungkapan kasus di wilayah Kelurahan Tanrutedong, Kecamatan Dua Pitue ini merupakan yang terbesar di awal tahun 2016.
Bermula dari pengembangan informasi terkait penemuan paket kiriman di Bandara Husein Sastranegara Bandung, Jawa Barat. Paket tersebut berisi senpi jenis revolver yang hendak dikirim ke alamat atas nama Kang Agus di Kampung Baru Bojoe RT 008/RW 002, Kelurahan Batu Lappa, Kecamatan Watang Pulu, Sidrap.
Terungkapnya penjualan senpi jenis air softgun ilegal lintas provinsi ini, bermula dari Satuan Khusus Pengamanan Bandara dan Polisi Militer TNI Angkatan Udara Husein Sastranegara. Mereka berhasil menggagalkan penyelundupan senjata api laras pendek jenis revolver, Selasa (26/1) siang.
Saat itu, petugas mencurigai bandara bersama TNI AU mencurigai sebuah boks berukuran 15×25 cm. Pengirimnya bernama Satria Pamungkas, beralamat di Jalan Raya Ujung Berung kilometer 10-20, Kota Bandung. Pengiriman barang ini menggunakan jasa JNE.
Saat dibuka, boks itu ternyata berisi senjata api revolver kaliber 38 merek Adler buatan Italia Mod 1873 dengan nomor pab 4557. Untuk pengembangan lebih lanjut, kasus ini ditangani TNI AU Husein Sastranegara yang langsung berkoordinasi dengan aparat Polres Sidrap.
Dari pengembangan dan penggerebekan yang dipimpin langsung Kasat Intelkam Polres Sidrap AKP Fantry Taherong dibackup Kapolsek Dua Pitue AKP Slamet Paryanto, berhasil diamankan dua orang bersaudara yang juga sebagai pemilik senpi, masing-masing Suharto alias La Dora (23) dan Agus (27).
Usai penangkapan kemarin, AKP Fantry Taherong menjelaskan pengungkapan kasus ini berawal dari pengiriman paket melalui JNE dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Saat dikembangkan di alamat yang tertera pada tujuan, polisi berhasil menyita puluhan barang bukti seperti senpi organik, air softgun dan puluhan senjata tajam berupa pedang dan samurai.
Dalam keterangannya, AKP Fantry menjelaskan kronologisnya. ”Penangkapan dilakukan sekitar pukul 10.00 Wita. Tersangka Agus diamankan lebih dulu ke Mapolsek Dua Pitue. Setelah diinterogasi, Kapolsek AKP Slamet dan Kanit Reskrim Aiptu H Usman, Kanit IK Bripka Irwan Taufik dan Babinkamtibmas Desa Kalosi Aiptu Yohannes Lolok melakukan pendekatan kepada keluarga Agus,” terang Fantry.
Kemudian, lanjut dia, pada jam 11.00 Wita, dari keterangan Agus dilakukan lagi pulbaket dan penggeledahan di rumah mertua Agus di Desa Kalosi Alau. Di rumah itu disita puluhan barang bukti berbagai jenis senpi dan sajam.
Diantaranya senjata softgun jenis pistol lima pucuk, sepucuk softgun jenis revolver, ua bilah samurai, empat bilah badik, keris dua bilah, sebilah pedang persia, sebilah pedang Kadga Pora, sebilah pedang perwira, sebilah celurit, sebilah rencong souvenir serta satu buah lempengan baja.
Selain itu juga turut disita tabung gas softgun sebanyak 34 buah, satu unit laptop Toshiba warna hitam, satu buah laptop Asus warna merah, handphone Androif merek Acer dua buah, handphone Samsung lipat warna putih satu buah, handphone merek Mito warna hitam satu buah, dan modem satu buah, serta SIM card satu buah.
Ada pula tujuh dos pembungkus senpi air softgun, satu set perangkat CCTV, serta 11 dos paket pengiriman. Termasuk satu lembar baju kaos bertuliskan Perbakin.
AKP Fantry menegaskan, mereka yang diamankan merupakan sindikat penjualan senpi organik dan non organik secara ilegal. Melihat fakta dan hasil barang bukti yang disita, Agus yang menjadi pemilik utama barang tersebut menajdi sindikat penjualan lintas provinsi.
“Hasil pengembangan dari Polda Jawab Barat melalui petugas Bandara Bandung, lelaki Agus merupakan pemesan semua barang tersebut, untuk selanjutnya dikoleksi dan dijual di Sidrap. Pengembangan sementara, Agus belum mengakui jika barang itu dijual. Dia hanya menjadikannya sebagai barang koleksi pribadi,” papar AKP Fantry.
Namun demikian, kasus ini tetap didalami dan dikembangkan. Apalagi peredaran senpi ilegal di Sidrap semakin marak. “Kita curigai Agus, karena sudah banyak yang terjual ke umum. Senpi jenis airsoftgun itu di pasaran harganya antara Rp3 juta hingga Rp5 juta, tergantung jenisnya. Kalau senpi organik harganya bisa mencapai puluhan juta, lengkap amunisinya,” papar perwira tiga balok lulusan Akpol tahun 2003 ini.
Kapolres Sidrap AKBP Anggi Naulifar Siregar,SIK menegaskan, kasus kepemilikan senpi dan sajam secara ilegal ini harus diusut hingga tuntas. Karena kuat dugaan pelaku telah menjualnya kepada masyarakat umum.
“Ini harus ditelusuri dari senpi yang sudah terjual. Semuanya harus ditarik dari tangan masyarakat umum, karena bisa membahayakan warga sipil. Ingat, senjata jenis Air Softgun juga bisa membunuh manusia,” tegas AKBP Anggi NS saat menggelar rilis di Ruang Data Mapolres Sidrap, kemarin.
Mengenai kepemilikan senpi ilegal itu, kata dia, untuk saat ini pihaknya masih melakukan pengembangan terkait dugaan adanya jaringan yang lain. Sebab diduga kuat pelaku melakoni penjualan senpi ilegal melalui online.
“Kita selidiki juga kemungkinan bisnis penjualan senpi ilegal ini melalui online,” tandasnya.
Sementara tersangka Agus yang telah dikaruniai dua orang anak, mengaku sudah setahun melakoni bisnis ini. Sepucuk senpi yang dijualnya dihargai antara Rp1,5 juta hingga Rp5 juta.
“Ini saya lakukan murnis bisnis, Pak.Tidak ada kaitannya dengan kegiatan teroris seperti yang diduga petugas,” aku Agus, yang kemudian digiring petugas masuk ke ruang sel tahanan Mapolres Sidrap. (ady/rus/b)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com

Populer Minggu ini