Headline

Semua Bisa Terpapar, Hilangkan Stigma Negatif


Dari Hotel Menyintas Covid-19 (3-habis)

BERBULAN-BULAN sudah pandemi covid-19 telah berlangsung. Hingga saat ini belum ada tanda kapan akan berakhir. Mereka yang terpapar angkanya terus bertambah. Menjadi pertanda bahwa virus ini menular dengan sangat cepat, dan semua berpotensi untuk terinfeksi.

DI hotel yang menjadi tempat karantina, mereka yang masuk kategori orang tanpa gejala (OTG) dan positif covid-19 tampak sehat-sehat saja. Usianya pun bervariasi. Ada yang sudah paruh baya, orangtua, remaja, bahkan anak-anak. Malah ada bocah mungil yang berusia kurang lebih empat atau lima tahun.
Seorang pemateri yang memperkenalkan dirinya bernama Ima, dalam sebuah kelas edukasi bagi peserta karantina, menjelaskan tentang stigma di tengah masyarakat yang melekat pada mereka dengan virus corona di tubuhnya. Kata dia, sejak kasus corona muncul di Indonesia, anggapan negatif terhadap orang yang terpapar corona langsung muncul.
Ia menyebut sejumlah contoh. Di antaranya penolakan pemakaman jenazah penderita covid. Mengucilkan mereka bersama keluarganya dan tak lagi ingin bergaul dengannya.
”Untuk kita di Sulsel, khususnya Makassar, hal ini juga terjadi. Karena itu, mereka yang selesai mengikuti program di lokasi karantina nantinya menjadi duta di tengah masyarakat. Memberikan edukasi agar tidak memberikan stigma negatif terhadap mereka yang terpapar covid-19. Semua berpotensi terpapar jika tak menerapkan protokol kesehatan. Ini bukan aib. Beda dengan penyakit AIDS,” jelasnya.
Protokol kesehatan 3M menjadi penekanan khusus bagi para penyintas covid-19 jika kelak kembali ke tengah keluarga dan masyarakat. Selalu menggunakan masker, menjaga jarak, serta rajin mencuci tangan merupakan kunci agar terhindar dari penularan virus yang belum ditemukan obatnya itu.
Salah satu bukti dari stigma negatif terhadap orang yang terpapar corona, disampaikan seorang perempuan berinisial IA. Dia bersama suaminya terkonfirmasi positif covid-19 berdasarkan hasil swab. Tempat kerja IA menjadi klaster perkantoran. IA bersama puluhan orang teman pegawainya pun mesti menjalani karantina, karena masuk kategori OTG.
Keduanya pun harus meninggalkan anak-anaknya di rumah dan menjalani isolasi mandiri. Terhadap mereka, ada tetangga yang mengawasinya. Gerak-geriknya diperhatikan. Jika hendak keluar rumah, langsung dilaporkan ke tim gugus.
Fakta seperti ini cukup banyak terjadi di tengah masyarakat. Padahal, yang patut untuk dilakukan terhadap penyintas covid-19 dan keluarganya adalah memberikan empati. Karena ingat, semua bisa terpapar virus ini apabila lalai dalam menjalankan protokol kesehatan. Tak pandang apakah anda masih muda atau sudah tua. Jadilah orang yang bijak dan peduli sesama.
Sebab, di ujung seorang peserta karantina, akan mendapatkan selembar surat yang berisi penegasan bahwa dirinya telah dinyatakan sembuh. Ada pula piagam yang ditandatangani Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah. Ini menjadi bukti bahwa orang tersebut telah selesai mengikuti Program Rekreasi Program Duta Pencegahan Covid-19, dan berhak menjadi duta. (*/rus)

Komentar Anda





Comments
To Top
.