Headline

La Tunreng: Tidak Banyak Pengusaha Sulsel Terdampak Pandemi


MAKASSAR, BKM — Pandemi covid-19 yang menghantam dunia, termasuk Indonesia, meluluhlantakkan berbagai sendi kehidupan. Termasuk dunia usaha.
Tidak sedikit pengusaha terpaksa harus gulung tikar. Ada juga yang dengan susah payah harus bertahan dan banting setir ke usaha lain yang lebih ‘aman’ untuk dijalankan selama pandemi terjadi.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) La Tunreng, menjelaskan pada semester I tahun 2020, masyarakat dikejutkan dengan mewabahnya virus corona. Termasuk pengusaha yang sangat merasakan dampaknya.
Dia mengatakan, secara nasional, sekitar 30 persen sudah ada yang gulung tikar. Sisanya 70 persen, setengahnya masih bisa bertahan walaupun dalam kondisi terseok-seok. Selebihnya masih bagus dan bisa bertahan dengan mendirikan usaha yang menyesuaikan kondisi saat ini.
Kalau di Sulsel, kata dia, sangat beruntung karena pengusaha yang terdampak tidak terlalu signifikan seperti di Jawa. “Sulsel itu keunggulannya beda di Jawa. Sulsel belum terlalu banyak industri. Di Sulsel kita masih banyak dominan sektor pertanian. Pengusaha kita belum cukup satu persen di Sulsel. Kalau di Jawa mencapai 4 persen. Ada baiknya kita industri kurang, walau sebenarnya industrilah yang mengelola dan mengangkat potensi alam,” jelasnya.
Dia melanjutkan, berbeda dengan kondisi ekonomi yang juga terpuruk pada tahun 1998 di mana sektor UMKM tidak terdampak, di tahun 2020 sektor itu sangat merasakan kerugian. Itu disebabkan karena adanya pembatasan akftifitas, apakah lewat kebijakan lockdown atau pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
“Orang dilarang bergerak. Harus diam di rumah. Otomatis pergerakan ekonomi juga jadi stagnan. Di satu sisi, manusia hidup bergerak terus untuk memenuhi kebutuhan hidup,” imbuhnya.
Dia menjelaskan, di semester I tahun 2020 ini, di Sulsel pertumbuhan ekonomi di kisaran minus tiga. Menyikapi kondisi saat ini, tambahnya, agar bisa tetap bertahan, pengusaha tentu juga mencari terobosan baru dengan meminta berbagai regulasi untuk dilakukan penyesuaian. Termasuk meminta pemerintah melakukan intervensi terhadap kondisi usaha yang cukup terpuruk.
“Alhamdulillah, pemerintah sudah bergerak. Contohnya, melalui OJK sudah melakukan relaksasi di perbankan. Tapi sebenarnya itu bukan sesuatu yang menggembirakan bagi pengusaha. Karena tiga bulan berturut-turut bunga yang direlaksasi akan dimasukkan lagi menjadi pokok. Kita suka atau tidak suka, agar rapor kita bagus di bank dan juga neracanya bagus, harus walaupun hanya menambah nafas namun beban tidak berkurang. Malah bertambah. Tapi minimal ada solusi dari pemerintah untuk sama-sama kita keluar dari persoalan ini,” tandasnya. (rhm)

Komentar Anda





Comments
To Top
.