Bisnis

BPJS Kesehatan Diproyeksikan Catat Surplus Rp2,56 T


JAKARTA, BKM — Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS Kesehatan, Fachmi Idris, memperkirakan, defisit lembaga yang dipimpinnya akan hilang pada akhir tahun 2020.
Bahkan, BPJS Kesehatan diproyeksikan bakal mencatat surplus arus kas Rp2,56 triliun. Fachmi menyampaikan hal tersebut di dalam rapat kerja dengan Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang digelar, Kamis (17/9).
Rapat tersebut juga dihadiri Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, dan Kementerian Kesehatan. Lebih jauh Fachmi memaparkan, BPJS Kesehatan telah membuat proyeksi defisit berdasarkan tiga periode pemberlakuan besaran iuran.
Pertama, pada periode Januari sampai Maret 2020, iuran yang dibayarkan sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) 75/2019 tentang Jaminan Kesehatan. Periode kedua yakni pada April sampai Juni 2020, saat iuran dibayarkan berdasarkan Perpres 82/2018, yakni saat iuran BPJS Kesehatan sempat turun.
Terakhir pada periode ketiga sepanjang Juli sampai Desember 2020, iuran kembali naik dan dibayarkan berdasarkan Perpres 64/2020. ”Kami memproyeksikan berdasarkan baseline data Juli 2020, surplus arus kas BPJS Kesehatan (pada akhir 2020) itu Rp2,56 triliun,” ujar Fachmi.
Angka ini, menurut Fachmi, telah memperhitungkan dampak pandemi Covid-19, perkiraan bayi yang baru lahir, dan faktor lainnya. Proyeksi itu, menurut Fachmi, dapat terealisasi karena BPJS Kesehatan telah melunasi seluruh utang jatuh tempo kepada seluruh rumah sakit.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2020, BPJS Kesehatan telah membayarkan klaim senilai Rp 71,33 triliun kepada fasilitas kesehatan. ”Sehingga Juli 2020 sudah tidak ada lagi gagal bayar,” ujarnya.
BPJS Kesehatan diketahui terus mengalami defisit keuangan BPJS Kesehatan sejak resmi beroperasi pada 2014. Mulai saat itu, lembaga tersebut belum pernah tercatat sekalipun mengalami surplus.
Namun per 31 Agustus 2020 BPJS Kesehatan mencatat bahwa nilai utang jatuh tempo nihil atau Rp0. Sementara utang klaim belum jatuh tempo sebesar Rp1,75 triliun dan klaim yang masih dalam proses verifikasi (outstanding claim) senilai Rp1,37 triliun.
Hingga akhir tahun 2019, kata Fachmi, BPJS Kesehatan mencatatkan defisit hingga Rp15,5 triliun. Jumlah defisit pun sedikit menurun pada akhir Januari 2020 menjadi Rp15,04 triliun dan angka tersebut diharapkan dapat tuntas pada akhir tahun ini. (int)

Komentar Anda





Comments
To Top
.