Sulselbar

Peran Industri Perkebunan Kelapa Sawit Dalam Pembangunan


TANAM MANGROVE -- Salah satu kegiatan penanaman mangrove yang dilakukan PT Astra Agro di lokasi di daerah aliran pantai.
PASANGKAYU, BKM — Salah satu komoditi unggulan di Provinsi Sulawesi Barat adalah kelapa sawit. Tidak kurang dari 50 persen penduduknya yang bermukim di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Mamuju, Mamuju Tengah, dan Kabupaten Pasangkayu, menggantungkan hidupnya dari usaha industri perkebunan kelapa sawit ini. Kondisi tanah yang subur, didukung curah hujan yang cukup menjadikan kelapa sawit tumbuh subur di daerah ini.  Selain perkebunan kelapa sawit yang dikelola perusahan swasta nasional, masyarakat juga sudah familier dengan komoditi ini. Baik melalui sistem plasma maupun yang diusahakan secara mandiri. Selain pabrik pengolahan kelapa sawit, daerah ini juga memiliki akses pelabuhan sendiri. Sehingga untuk kegiatan pengapalan/pemasaran tidak mengalami kendala berarti. Dengan pola kemitraan yang telah berjalan selama ini antara perusahaan dengan masyarakat petani plasma dan swadaya telah tercipta iklim usaha yang saling menguntungkan semua pihak demi kemajuan daerah .
Digitalisasi Usaha Industri Perkebunan sebagai Kebutuhan

BELAJAR — Kegiatan belajar mengajar di SD PT Pasangkayu.

Saat ini industri perkebunan kelapa sawit juga telah banyak melakukan revolusi dengan memanfaatkan teknologi dalam pengelolaan usahanya. Hal tersebut bukan karena sekadar mengikuti trend, tetapi memang pemanfaatan teknologi sudah menjadi suatu kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Kecepatan dan akurasi data sangat diperlukan untuk mempermudah pengambilan keputusan secara cepat, tepat, dan efisien.
Khusus PT Astra Agro, program digitalisasi sudah dikembangkan sejak tahun 2017 lalu. Setiap pekerjaan dibuatkan sistem yang berbasis teknologi dan terhubung langsung dengan layar monitor yang ada di kantor pusat.
”Kita mengenal program AMANDA, DINDA, dan MELLI yang masing–masing untuk memonitor pekerjaan dibagian operasional tanaman di level supervisi (mandor), staff dan operasional bagian pabrik ditingkat supervisi dan staff. Dengan program tersebut, setiap detail operional mulai dari kegiatan persiapan kerja (apel), selama kerja dan selesai kerja untuk perencanaan kerja hari berikutnya secara detail dan termonitor setiap saat,” jelas Teguh Ali Musiaji selaku CD Area Manager PT Astra Agro.
Dalam masa pandemi ini, program digitalisasi AMANDA, DINDA, dan MELLI  sangat terasa manfaatnya disaat semua memiliki keterbatasan untuk tatap muka secara langsung. Pimpinan di kantor pusat tidak harus ke lapangan untuk mengetahui apa yang terjadi di lapangan. Cukup melihat monitor yang terpampang di kantor pusat. Demikian juga karyawan dan pimpinan yang ada di lapangan, bisa berkomunikasi langsung dengan pimpinan di kantor pusat untuk mendiskusikan setiap permasalahan yang muncul di lapangan. Sehingga keputusan dapat diambil dengan segera.
”Kami pantas bersyukur, selama pandemi Covid-19 ini, operasional kebun tetap berjalan baik dengan mengikuti semua protokol kesehatan yang dikeluarkan pemerintah maupun perusahaan. Dan dalam kesempatan ini, saya mewakili staff dan karyawan mohon maaf jika kami melakukan pembatasan-pembatasan akses masuk ke wilayah kerja kami. Ini semata-mata kami lakukan untuk kebaikan dan keselamatan bersama,” ujar Teguh Ali Musiaji selaku CD Area Manager PT Astra Agro.
Di sisi lain, program digitalisasi ini juga menjadi daya tarik bagi generasi milenial untuk berkarya di industri kelapa sawit . Perkebunan kelapa sawit diindentikkan dengan jauh dari pusat kota, keterbatasan akses dan lain sebagainya. Dengan sistem digitalisasi ini menjadikan semuanya lebih mudah. Karena bagaimanapun juga industri perkebunan kelapa sawit telah menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Sekaligus sebagai salah satu kekuatan  ekonomi bangsa Indonesia.
Menurut data yang dikeluarkan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), komodoti kelapa sawit telah menjelma menjadi usaha yang memberikan sumbangan devisa terbesar bagi Indonesia. Nilai ekspor produk ini pada tahun 2019 saja tercatat Rp318,78 triliun. Belum lagi jika dilihat dari serapan tenaga kerja yang terlibat dalam industri ini. Tidak kurang dari 17 juta jiwa masyarakat Indonesia yang menggantungkan hidupnya dari industri kelapa sawit, baik langsung maupun tidak langsung. Sebuah angka yang luar biasa besar.
Bersama Membangun Lingkungan
Salah satu pilar pembangunan masyarakat PT Astra Agro adalah pembangunan lingkungan. Dimana, sebagai implementasi dari pilar tersebut PT Astra Agro melalui anak perusahaannya, yaitu PT Letawa dan PT Mamuang, telah melakukan penanaman mangrove di pesisir pantai Desa Jengeng Raya dan Desa Tikke,  Kecamatan Tikke Raya serta Desa Pedongga, Kecamatan Pedongga.
Rustam selaku staff bagian konservasi lingkungan menjelaskan, memiliki program terkait dengan konservasi lingkungan, salah satunya adalah penanaman mangrove. Tercatat sejak dicanangkan program penanaman mangrove pada tahun 2009 sampai dengan tahun 2020 ini, pihaknya telah menanam mangrove sebanyak 292.500 pokok yang terdiri dari jenis rhizophora stylosa, rhizophora apiculata ,rhizophora mucronata , sorenatia ,avicennia marina di pesisir pantai Desa Jengeng Raya, Tikke dan Pendongga.
”Saat ini kondisi mangrove apalagi yang ditanam pada tahap awal program telah memberi dampak positif bagi perbaikan kondisi lingkungan serta telah menjadi tempat yang baik bagi tumbuh kembangnya biota biota laut,” tambah Rustam yang merupakan lulusan fakultas kehutanan dari Universitas Tadulako Palu ini.
Program penanaman mangrove tersebut juga telah menciptakan tempat tempat wisata lokal yang sangat berpotensi di kembangkan di waktu waktu mendatang.
Atas kerja keras ini,  PT Letawa dianugerahi Piala Kalpataru sebagai pemerhati lingkungan pada tahun 2014. Piala diserahkan langsung wakil presiden kala itu, Budiono. Tentu hal tersebut bukan saja menjadi kebanggaan PT Letawa, tetapi juga masyarakat Kabupaten Pasangkayu umunya.
Selain itu, untuk mendukung program pendidikan nasional, PT Astra Agro juga melengkapi sarana pendidikan disetiap tempat usahanya mulai dari tingkat Taman Kanak kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) lengkap dengan guru dan sarana pendukungnya.
Walaupun sekolah sekolah tersebut dibangun di areal HGU perusahaan, tetapi juga terbuka untuk siswa siswi dari masyarakat selama kapasitasnya masih mencukupi.
”Saat ini sekolah yang ada di lingkungan kebun PT Astra Agro, sebanyak 30 persen di antaranya adalah masyarakat luar non karyawan,” ungkap Teguh.
Banyak sudah prestasi yang dicatatkan sekolah-sekolah di lingkup perusahaan baik di tingkat kabupaten/kota , provinsi maupun nasional. Kita berharap, semoga program-program tersebut dapat terus berjalan sebagaimana mestinya dan memberi manfaat yang sebesar-besarnya untuk kemajuan bangsa,’kata Teguh Ali Musiaji.
Di akhir pertemuan Teguh Ali Musiaji tidak lupa mengucapkan selamat ulang tahun untuk Provinsi Sulawesi Barat yang ke-16. ”Semoga diusianya yang masih relatif muda ini, Sulawesi Barat terus bergeliat membangun wilayah menuju masyarakat yang lebih sejahtera, damai, dan berkeadilan,” ungkapnya. (alaluddin)
Komentar Anda





Comments
To Top
.