Sulselbar

Teguh: Industri Kelapa Sawit Dorong Pembangunan Sulbar


PASANGKAYU, BKM — Salah satu komoditi unggulan kelapa sawit mampu mendorong pembangunan di Provinsi Sulbar. Tidak kurang dari 50 persen penduduknya yang bermukim di tiga kabupaten yaitu Kabupaten Mamuju, Mamuju Tengah dan Pasangkayu menggantungkan hidupnya dari usaha industri perkebunan kelapa sawit ini.

CD Area Manager PT Astra Agro Teguh Ali Musiaji kepada BKM, Senin (21/9) mengatakan kondisi tanah yang subur dan didukung dengan curah hujan yang cukup menjadikan kelapa sawit tumbuh subur. Selain perkebunan kelapa sawit yang dikelola perusahan swasta nasional, masyarakat juga sudah familir dengan komoditi ini baik melalui sistem plasma maupun yang diusahakan secara mandiri. Selain pabrik pengelohan kelapa sawit, Sulbar juga memiliki akses pelabuhan sendiri sehingga untuk kegiatan pengapalan atau pemasaran tidak mengalami kendala yang berarti.
Dengan pola kemitraan yang telah berjalan selama ini antara perusahaan dengan masyarakat petani plasma dan swadaya telah tercipta iklim usaha yang saling menguntungkan semua pihak demi kemajuan daerah.
Digitalisasi usaha industri perkebunan sebagai kebutuhan saat ini industri perkebunan kelapa sawit juga telah banyak melakukan revolusi dengan memanfaatkan teknologi dalam pengelolaan usahanya. Hal ini tidak sekedar mengikuti trend tapi pemanfaatan teknologi sudah menjadi suatu kebutuhan yang tidak bisa di hindari. Kecepatan dan akurasi data sangat di perlukan untuk mempermudah pengambilan keputusan secara cepat, tepat dan efisien.
Bagi PT Astra Agro, program digitalisasi sudah dikembangkan sejak tahun 2017 lalu. Setiap pekerjaan dibuatkan system yang berbasis teknologi dan terhubung dengan layar monitor di kantor pusat.
”Kita mengenal program AMANDA, DINDA dan MELLI yang masing-masing memonitor pekerjaan di bagian operasional tanaman di level supervisi (mandor), staf dan operasional bagian pabrik di tingkat supervisi dan staf . Dengan program tersebut setiap detail operasional mulai dari kegiatan persiapan kerja (apel) selama kerja dan selesai kerja untuk perencanaan kerja hari berikutnya secara detail dan termonitor setiap saat,” ujar Teguh.
Di masa pandemik, ketiga program digitalisasi tersebut sangat terasa manfaatnya di saat kita semua memiliki keterbatasan untuk tatap muka secara langsung. Pimpinan di kantor pusat tidak harus ke lapangan untuk mengetahui apa yang terjadi di lapangan dengan cukup melihat monitor yang terpampang di kantor pusat.
Karyawan dan pimpinan yang dilapangan bisa berkomunikasi langsung dengan pimpinan di kantor pusat untuk mendiskusikan setiap permasalahan yang muncul di lapangan sehingga keputusan dapat diambil dengan segera.
“Kami pantas bersyukur selama pandemik covid-19 operasional kebun tetap berjalan dengan baik dengan mengikuti protokol kesehatan,” tandas Teguh. (ala/D)

Komentar Anda





Comments
To Top
.