Headline

Malu Gegara Suaminya Dijadikan Passampo Siri


Pengakuan Istri yang Aniaya Imam Masjid saat Pimpin Salat

PINRANG, BKM — Seseorang bisa saja bertindak nekat jika emosi telah sampai pada titik klimaks. Jika hal itu terjadi, apa yang dikehendakinya bisa saja dilakukan.
Seperti yang dilakoni Fitriani alias Fitri (30). Warga asal Batri, Desa Kaballangan, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang ini pun harus berurusan dengan polisi.
Ibu rumah tangga ini diduga terlibat dalam penganiayaan seorang pria sekampungnya. Korbannya bukan orang biasa. Melainkan seorang imam masjid.
Namanya Ustas Asgan (47), warga Kampung Batri, Desa Kaballangan Kecamatan Duampanua. Ia imam masjid Nurul Huda di Desa Kaballangan.
Peristiwa ini berlangsung, Selasa (22/9) pukul 12.15 Wita. Kala itu korban tengah memimpin salat dzuhur berjamaah di masjid. Ketika melakukan aksinya, Fitri menggunakan sebatang balok kayu.
Berawal ketika korban Asgan bersama 12 orang makmun melaksanakan salat di Masjid Nurul Huda. Tetiba pelaku datang dari arah belakang jamaah. Dia pun langsung menghantam balok yang dibawanya pada korban. Posisi korban saat itu sementara sujud di rakaat pertama, sehingga membuat pelaku leluasa bertindak.
Fitri dengan kalap menghantamkan kembali balok kayu dan mengenai punggung. Serangan itu membuat sang ustas jatuh tertelungkup.
Masih belum puas, pelaku kemudian mencoba melancarkan aksinya dengan mengarahkan hantaman balok kayu ke arah kepala korban.
Namun, Asgan tersadar dan segera bangun. Dia pun sempat menangkis pukulan balok tersebut, yang mengakibatkan jari manis pada tangan kanannya retak, serta punggung memar membiru.
Peristiwa ini kemudian dilaporkan korban ke Polsek Duampanua, Polres Pinrang. Tindak pidana penganiayaan tersebut tertuang dalam laporan Nomor: LP/52 /IX/2020/Sek. Duampanua/SPKT, tertanggal 23 September 2020.
Kapolres Pinrang AKBP Dwi Santoso melalui Kasat Reskrim AKP Dharma Praditya Negara yang dikonfirmasi, Kamis (23/9), membenarkan adanya kejadian tersebut.
“Korban sudah melapor dan saat ini kasusnya sudah ditangani penyidik Reskrim Polsek Duampanua,” ujar AKP Dharma Praditya via telepon selularnya.
Kapolsek Duampanua melalui Kanit Reskrim Ipda Suharman Tahir, mengatakan terduga Fitri sudah diamankan dan masih tengah dimintai keterangan.
“Motif sebenarnya adalah kecemburuan dan emosi, karena pelaku sakit hati korban menikahkan suami pelaku secara diam-diam tanpa persetujuan istrinya. Makanya dia menganiaya korban di dalam masjid,” terang Ipda Suharman.
Suharman mengakui, kini masalah tersebut tengah dimediasi oleh kepala Desa Kaballangan. “Sementara dimediasi oleh kepala desa, hari ini (kemarin) baru kita panggil korban untuk dimintai keterangan,” ujarnya.
Sementara pelaku penganiayaan diamankan di mapolsek. Ia datang sendiri guna mengamankan diri lantaran takut diamuk massa jamaah masjid.
“Terlapor ini datang sendiri ke polsek, kemarin. Dia datang karena takut dengan jamaah. Katanya mau dimassa,” ucap Suharman lagi.

Dendam Nikah Siri

Dihadapan penyidik polsek saat di interogasi, Fitri mengakui perbuatannya. Ia sangat emosi dan dendam pada korban setelah mendengar kabar soal nikah siri suaminya terbongkar.
Kapolsek Duampanua Iptu H Muhammad Nasir yang dikonfirmasi terpisah, menjelaskan bahwa pelaku kesal kepada korban lantaran ia menjadi imam pernikahan saat suaminya menikah dengan wanita lain.
“Pengakuan sementara, pelaku ini kesal terhadap korban, karena telah menikahkan suaminya dengan wanita lain tanpa sepengetahuannya,” kata Suharman.
Menurut keterangan saksi-saksi, lanjut Suharman, pernikahan itu berlangsung beberapa bulan lalu dan baru diketahui pelaku. Ia kemudian menyelidiki dan mencari tahu kebenarannya.
Setelah informasinya didapat, Fitri mengarah ke korban Asqar. Sebab ia disebutkan telah menjadi imam nikah siri suaminya. Akibatnya, pelaku menaruh dendam.
Terpisah, Fitriani menjelaskan mengapa ia melakukan perbuatannya.
Ceritanya, ia tidak mengetahui bila suaminya dijadikan passampo siri (penutup aib) untuk seorang wanita yang tengah hamil tiga bulan. Sebut saja perempuan itu Bunga, bukan nama sebenarnya. Juga warga Desa Kaballangan, satu kampung dengan Fitri.
Bunga tengah hamil dan lelaki yang menghamilinya telah kabur dan tidak bersedia bertanggung jawab. Melihat perkembangan janin perutnya semakin besar, maka sepakatlah pihak keluarga Bunga dengan suami Fitri, sehingga nikah siri pun dilaksanakan beberapa bulan lalu.
Fitri sebagai istri sah, mulai resah manakala desas desus isu pernikahan suaminya santer jadi pembicaraan warga sekampungnya.

Dia pun mulai mencari kebenaran informasi tersebut. Ternyata itu bukan isu, tapi benar adanya.
Jengkel dan kesal, korban yang juga imam desa menjadi sasaran. Fitri sangat menyayangkan kenapa suaminya dinikahkan tanpa sepengetahuan dan persetujuan dirinya.
“Saya benar-benar khilaf pak. Liwe ladde siriku sibawa keluargaku, Pak. Masiri laddekka, Pak lakkaikku yala passampo siri. (Saya dan keluarga sangat malu, Pak. Suamiku dijadikan penutup aib),” terang Fitri dalam bahasa Bugis, menceritakan motif penganiayaan itu.
Menurut Fitri, penganiayaan itu itu akan tidak terjadi seandainya aib ini disampaikan dirinya. “Itumi, Pak. Saya mungkin tidak marah kalau seandainya semua pihak menyampaikan ke saya. Paling tidak saya yang minta cerai sebagai jalan terbaiknya, atau suamiku bisa kawin cerai saja,” cetusnya.
Namun, bagaimanapun nasi sudah jadi bubur. Aib yang tadinya tersembunyi rapi kini terbongkar setelah insiden penganiayaan ini.
Fitri harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Penyidik kepolisian telah menyiapkan pasal KHUPidana sebagaimana diterangkan Pasal 351 ayat (2) KUHP, yang menyatakan jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, maka akan diancamkan lima tahun penjara. (ady/b)

Komentar Anda





Comments
To Top
.