Headline

Padukan Tugas Istri, Ibu, dan Anggota Dewan


Keseharian Mussadiyah Rauf Mendampingi Wabup Gowa

IST DAMPINGI WABUP-Mussadiyah Rauf dalam kesehariannya mendampingi Wakil Bupati Gowa Abd Rauf Malaganni Karaeng Kio.

LIMA tahun bukan hal mudah dijalani bagi seorang Mussadiyah Rauf. Istri Abd Rauf Malaganni Karaeng harus mendampingi sang suami yang terpilih menjadi wakil bupati Gowa, bersama Bupati Adnan Purichta Ichsan.

MENJADI orang kedua  di Kabupaten Gowa nyaris tanpa istrahat.  Agenda kegiatan, jika diurutkan sejak hari pertamamenjalankan tugas pada 17 Februari 2016 lalu, tercatat ribuan jumlahnya. Namun semuanya bisa dijalani dengan baik.
Salah satu orang penting yang turut sibuk dalam setiap agenda sang wabup adalah istrinya, yakni Mussadiyah. Ibu tiga putri, dua menantu, satu cucu ini terbilang sebagai wanita tangguh. Ia ibaratnya sekretaris paling pribadi bagi Abd Rauf Malaganni.
Sebenarnya, Mussadiyah termasuk seorang perempuan yang sibuk. Karena dirinya juga seorang politisi dan tercatat sebagai wakil rakyat di parlemen Gowa. Walau begitu, ia mampu menjalankan tugasnya sebagai istri, ibu sekaligus anggota dewan.
Mussadyah adalah figur wanita penyabar namun ulet. Wanita yang akrab disapa Ajji Ati ini, tak seperti wanita biasanya. Seabrek tugasnya sebagai anggota dewan dari Fraksi Partai Demokrat, tak mengurangi kepiawaiannya dalam mengurus rumah tangga.
“Sebenarnya, kalau dilihat dari tugas-tugas sebagai anggota dewan, saya sangat sibuk. Namun ada hal yang saya tidak bisa kesampingkan, bahwa saya ini istri seorang wakil bupati. Karena itu saya tidak pernah lupa kodrat untuk mengurus suami, anak-anak, dan pekerjaan,” terang Mussadiyah, saat ditemui di rumah jabatan wabup, Jumat (25/9), sehari sebelum meninggalkan tempat tersebut seiring cutinya Abd Rauf Malaganni untuk menjalankan tahapan pilkada Gowa.
Menurut Mussadiyah, menjadi istri pejabat, harus memiliki rasa sabar yang lebih, serta daya pemahaman yang lebih tinggi. “Menjadi istri seorang pejabat, membutuhkan kesabaran serta pemahaman yang tinggi untuk semua hal. Tidak hanya dari sisi waktu yang sudah tentu sangat banyak tersita pada pekerjaan. Tapi juga harus sabar dalam memberikan dukungan saat semangat atau beban tugas berada pada puncaknya,” kata Mussadiyah, yang kini memiliki penyemangat lebih, yakni seorang cucu perempuan.
Diakuinya, mendampingi suaminya sebagai wabup Gowa adalah amanah besar bagi dirinya sebagai istri. Apalagi tugas utama seorang pejabat adalah melayani masyarakat, yang mesti dijalankan dengan baik. 

“Dibutuhkan pemahaman dari seluruh keluarga untuk tugas mulia tersebut. Hal yang paling sangat terasa dalam kehidupan berkeluarga adalah waktu berkumpul bersama keluarga yang memang agak berkurang. Beda dengan dulu sebelum bapak menjadi wakil bupati. Kalau dulu beliau bisa mengantar anaknya ke kampusnya. Sekrang tidak bisa lagi. Bahkan berkumpul untuk bisa makan bersama di meja makan pun menjadi momen yang sangat berarti saat ini. Bahkan yang sangat istimewa. Karena kesibukan yang tidak bisa diprediksi. Kadang anak-anak kumpul semua, bapak yang tidak ada. Bapak ada waktu, anak-anak yang tidak bisa. Kadang momen itu hanya terjadi sekali sebulan,” jelasnya. 
Meski begitu, Mussadiyah yang juga sebagai wakil ketua Tim Penggerak PKK Gowa ini mengungkapkan, bahwa hal tersebut tidak menjadi kendala. Karena baik dirinya maupun anak-anaknya memahami dengan sangat jelas amanah yang diemban ayah mereka sebagai seorang wakil bupati.
“Anak-anak sudah besar dan paham dengan tugas ayahnya. Justru mereka memberikan support kepada bapak. Misalnya mengingatkan waktu makan atau memperhatikan pola makan dan menu ayahnya setiap hari meski dari jauh sekalipun. Perhatian itu dilakukan dengan mengontrol semua lewat ajudan. Demikian juga saya sebagai istri, harus bisa memahami beban tugas bapak. Paling tidak, saat tiba di rumah saya harus menyambutnya memberikan ketenangan melalui senyum. Itu jika saya tidak ikut dalam kegiatan beliau,” tuturnya.
Sebagai ibu, istri, dan anggota DPRD, Ajji Ati harus bisa melakoni semua dengan baik. Mengatur waktu untuk bisa menyelesaikan semua dan itu menjadi tanggung jawabnya. 
“Harus bisa mengatur semuanya dengan baik. Seperti menyiapkan makanan. Itu saya lakukan sendiri. Kalau pagi itu saya pasti di dapur. Semua bahan untuk pagi hari, saya sudah siapkan sejak sore atau malam hari. Saya harus memastikan semua tersaji dengan baik di pagi hari, sebelum semua berangkat, semua harus makan. Dan di sini, sarapan itu, menunya harus lengkap. Sama seperti makan siang. Ada buah, sayur, ikan dan lainnya. Intinya adalah menu harus beragam dan bergizi seimbang. Itu sangat diperlukan dalam aktivitas yang tinggi dan padat,” ungkap Mussadiyah.
Selain tak mengabaikan tugas memasak dan menyiapkan makanan bagi keluarga, Mussadiyah juga tetap mengontrol semua yang ada di rumah, meskipun sedang mendampingi wabup dalam tugas. 
“Kami berdua, memastikan bahwa anak-anak di rumah tetap aman dan semua tercukupi. Jadi meskipun dalam tugas, kami tetap berkomunikasi dengan baik dengan anak-anak,” tambahnya.   
Saat disinggung tentang menu, ibu dari Annisa Verawati Rauf, Ratih Rauf Istiqomah Rauf, dan Ningrum Sekarsari Rauf ini mengaku tak membiasakan keluarganya mengonsumsi makanan tinggi lemak. Selain karena tak sehat jika selalu dikonsumsi, juga karena menu andalan keluarga hanya kisaran sayur bening, ikan bakar, raca mangga, serta cobek lombok. 
“Cobami lihat di dapur. Itu yang selalu ada sayur bening, ikan bakar, raca mangga dan cobek-cobek. Selain sehat, memang itu yang disukai bapak. Buahpun tak pernah ketingalan. Buah naga, pepaya, dan jeruk. Ditambah juga vitamin. Itu semua menjadi makanan favorit,” katanya.
Terkait kesibukan, Mussadiyah juga mengatakan bahwa hal yang saat ini berubah adalah silaturahmi dengan keluarga. “Sekarang, untuk bisa bersilaturrahmi dengan keluarga baru bisa dilakukan setelah tugas selesai. Contohnya saat ada keluarga sakit, karena tugas, mengunjunginya baru bisa kita lakukan setelah semua tugas selesai. Itu terkadang menjadi duka bagi kami. Karena tak bisa seperti dulu. Tapi itulah risiko dari amanah tugas,” kata Mussadiyah.  
Sementara tentang perannya sebagai PKK, Mussadiyah menilai, perempuan Gowa itu memiliki potensi yang sangat besar. Dengan keinginan yang kuat, ulet dan memiliki daya kreatifitas tinggi. Hanya saja, diperlukan edukasi dan dorongan bagi wanita Gowa untuk bisa terus percaya diri dengan kemampuannya. 
“Mereka sangat potensial. Diperlukan edukasi dan dorongan bagi mereka, agar bisa terus berkreasi. Pelatihan berkesinambungan, akan menjadi program yang benar-benar bermanfaat bagi mereka. Sehingga tak hanya mampu berkreasi bagi diri dan keluarga, tapi juga bagi Kabupaten Gowa,” katanya.
Ditanya soal kesiapannya mendampingi suami yang kini kembali mencalonkan diri sebagai wakil bupati berpasangan dengan Adnan Purichta Ichsan sebagai calon bupati untuk pilkada 9 Desember 2020 ini, Mussadiyah mengatakan, tentunya sebagai istri dirinya siap lahir batin.
Periode pertama Abd Rauf sebagai wakil bupati, menurut Mussadiyah, menjadi pengalaman berarti. Baik ketika menjalani proses pilkada, hingga resmi menyandang sebagai wabup Gowa.
“Sebagai istri tentulah kesiapan fisik dan mental akan kembali saya siapkan menghadapi proses tahapan demi tahapan pilkada. Yang pasti, saya akan berbuat lebih maksimal sebagai istri dan sebagai politisi Partai Demokrat, di mana partai saya menjadi salah satu pengusung pasangan AdnanKio ini,” jelas Mussadiyah, yang selalu rutin menemui konstituennya di derah pemilihannya, yakni Kecamatan Bontomarannu, Pattallassang, Manuju dan Parangloe. (sar)

Komentar Anda





Comments
To Top
.