Headline

Kadang tak Percaya Bisa Hasilkan Buku


Evie Husain, Membangun Literasi dari Desa

BKM/WAID AMIN PENULIS BUKU-Evie Husain dengan nama pena Assyifa Barizza dan dua buku hasil karyanya.

BULUKUMBA, BKM — Menulislah agar namamu abadi. Dari kutipan kalimat yang dirangkai Pramoedya Ananta Toer itu, banyak orang yang kemudian tergerak untuk melakukannya. Salah satunya Evie Husain.

DI sebuah desa dalam wilayah Kabupaten Bulukumba, tepatnya di Desa Salassae, Kecamatan Rilau. Di sinilah Evie bermukim. Perempuan yang dikenal dengan nama pena Assyifa Barizza ini lahir dan besar di desa itu. Kini ia tinggal bersama suaminya Husain Muhammad, dan putri semata wayangnya Asyyifa Alilatulbariza.
Tidak banyak yang tahu kalau Evie Husain adalah seorang penulis. Merangkai aksara kini telah dilakoninya. Nama penanya ia ambil dari nama sang anak perempuan.
Evie –sapaan akribnya– berkecimpung di dunia literasi pada akhir tahun lalu. Siapa sangka, dalam rentang waktu itu ia telah menghasilkan dua buku hasil karyanya sendiri. Masing-masing Takdir Cinta Perawan Tua, serta Jodoh Gadis Desa.
Setting Bulukumba-Makassar identik dengan karya Evie. Hal itu sebagai bukti kecintaan alumni S1 Pendidikan Agama Islam Al-Ghazali, Bulukumba ini.
Tidak hanya itu, ia juga telah menghasilkan belasan antologi bersama penulis berbakat yang ada di pelosok tanah air. Sebut saja Soulmate (Love or Friendship) yang diterbitkan Cleopatra Publisher, Penggoda (Miranda Novelia), Story Fear (Faithful Strokes of Phobia) oleh Cleopatra Publisher, Kembara Semesta (Yama Publisher), Reinkarnasi (Cleopatra Publisher), Dari Sudut Kampus (Penerbit Babad Bumi).
Ada pula Our Love Story (Cleopatra Publisher), Permata Dalam Tembikar (Setiap Anak Istimewa)/Cleopatra Publisher, Dalam Dekapan Iman (Event Terbaik Hijrah)/Millenial Publisher dan Lovrinz.
Single Dad (Cleopatra Publisher), Duda Tangguh (Cleopatra Publisher), Melodi Varsha (Tarian Pena Sang Philuvophile)/ Cleopatra Publisher, serta Renjana (TwinsMedia).
Selain menulis, Evie juga telah mengeditor dua buku. Yaitu Single Dad dan Melodi Varsha.
Kepada BKM, ia bertutur bahwa hingga sekarang dirinya kadang tidak percaya bisa menulis dan menghasilkan buku solo. Memang, menulis adalah impiannya sejak kecil yang bisa diwujudkan di kekinian.
”Sejak kecil saya memang suka membaca. Buku apapun saya baca,” ujarnya.
Dari hobinya itulah, Evie bisa ‘mencuri’ ilmu para penulis. Selanjutnya dia menciptakan gaya khas dalam setiap tulisannya.
Sampai sekarang, Evie mengaku belum bisa menyebut dirinya sebagai penulis. ”Belum layak,” katanya merendah.

Dia beralasan bahwa apa yang dilakukannya saat ini hanya sekadar menyalurkan hobi dan menuangkan ide yang ada dalam kepalanya. Dalam setiap tulisannya, Evie hanya menggunakan bahasa sederhana. Namun, dia tak pernah berhenti belajar tentang ilmu kepenulisan. Ingin menulis dengan diksi yang indah dan prosais menjadi salah satu keinginannya.
Hobi menulis Evie memang sudah lama ada. Sejak duduk di bangku SMP ia rajin menulis. Rangkaian kata yang disusunnya menjadi kalimat dituangkan dalam bentuk diari. ”Apa yang saya rasakan dan alami, itu yang saya tuangkan dalam diari,” imbuhnya.
Di akhir tahun lalu, secara tidak sengata Evie menemukan platform daring milik Asma Nadia dan suaminya, Isa Alamsyah yang bernama KBM (Komunitas Bisa Menulis). Sejak saat itu ia rajin menulis cerpen dan mengirimnya ke sana. ”Alhamdulilah, disambut baik oleh pembaca,” katanya.
Ia pun kemudian memberanikan diri menulis cerita bersambung dengan judul Takdir Cinta Perawan Tua yang bergenre romantis-religi. Lagi-lagi mendapat respon baik dari pembaca.
Evie tak menyangka bila tulisannya dipinang oleh dua penerbit sekaligus. Disusul kemudian novel keduanya yang berjudul Jodoh Gadis Desa, juga dipinang dua penerbit sekaligus.
Tentang latar belakang menulis, Evie mengaku tak memilikinya. Pendidikan formalnya adalah S1 PAI. Tapi dari hobi membaca, banyak ilmu yang didapatkan dan diterapkannya dalam menulis. Karena guru terbaik dalam menulis adalah membaca.
”Semua tulisan saya bergenre romantis. Meski ada keinginan, suatu saat akan menulis dengan genre lain. Saya menulis karena itu adalah impian sejak kecil. Alasan lainnya sebagai terapi jiwa. Dengan menulis, saya seperti menemukan kepuasan, bisa menuangkan imajinasi saya dan merangkainya dalam aksara,” imbuhnya.
Untuk menulis sebuah novel, Evie biasanya butuh waktu sebulan menyelesaikannya. Bila idenya lagi mandek, dia memilih untuk menonton atau membaca.
”Biasanya, setelah melakukan dua hal ini ide langsung mengalir. Berbeda dengan cerpen, tidak cukup sehari untuk menyelesaikan,” tutupnya. (min/b)

Komentar Anda





Comments
To Top
.