Headline

Mampu Eksis dari Memproduksi Masker


Abd Muis, Difabel yang Berjuang di Tengah Pandemi

IST PRODUKSI MASKER-Abd Muis, difabel yang pantang menyerah dan memproduksi masker di tengah pandemi.

GOWA, BKM — Di mana keinginan di situ ada jalan. Ungkapan klasik ini diyakini betul oleh Abdul Muis. Di tengah pandemi covid-19 yang melanda, ia berjuang untuk bertahan hidup. Usaha yang dilakoni mampu memberinya penghidupan.

DI sebuah ruangan yang tidak terlalu luas, terpasang mesin jahit. Seorang pria menjalani rutinitasnya menjahit. Sekilas semua tampak biasa saja. Namun setelah diperhatikan lebih detail, lelaki tersebut adalah seorang difabel.
Ia tunadaksa kaki. Kaki kanannya normal, sementara yang kiri berukuran kecil. Kondisi tersebut dialami Abdul Muis sedari lahir, hingga akhirnya ia telah dikaruniai dua orang buah hati.
Dengan sebuah mesin jahit, ia mulai rutin mengais rezeki sejak tahun 2004 silam. Berbekal ilmu menjahit pascamengikuti kursus yang dilakukan Panti Sosial Bina Daksa Wijaya Makassar. Muis mulai membuka usahanya di rumahnya di Kampung Jangka, Kelurahan Pangka Binanga, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa.
Dengan usaha dan modalnya sendiri, Muis kini mampu membiayai kebutuhan hidup keluarga kecilnya. Pun dia mampu membiayai sekolah dua putrinya, yakni Asmawati yang duduk di bangku SMA kelas 1, dan Asrina kelas 1 SMP. Istrinya Hermawati pun turut membantu menjahit sambil mengajar mengaji anak-anak tetangganya.
“Alhamdulillah, saya bisa membangun rumah tangga dengan usaha jahitan ini. Langganan pun, Alhamdulillah sudah banyak dan rata-rata pegawai di Pemkab Gowa. Semoga mereka semua selalu senang dengan hasil jahitan saya,” kata Muis, yang dalam beraktivitas dibantu alat berupa tongkat.
Sebuah cita-cita besar digantungkan Muis dari usahanya saat ini. Suatu waktu kelak dirinya bisa memiliki usaha garmen ataupun konveksi. Namun, dengan tersenyum ia menyadari bahwa semua itu baru sebatas impian. Sebab modal usaha besar tidak dimilikinya.
“Saya itu awalnya tidak punya keterampilan jahit. Namun karena desakan ekonomi, akhirnya saya mencoba ikut kursus dan memilih kursus jahitan yang dibuka salah satu panti di Makassar. Alhamdulillah, ternyata saya bisa di profesi ini. Menurut pelanggan saya, jahitan saya sedikit bagus. Makanya, saya sudah dapat orderan dari mereka yang sudah mengenal saya,” kata Muis.
Di tahun-tahun sebelumnya, Muis mengaku banyak menerima order jahitan, baik pakaian wanita maupun laki-laki. Namun, di kala pandemi covid-19 melanda, orderannya pun menurun drastis.
Untuk bisa tetap eksis di tengah kondisi saat ini, Muis pun harus pintar-pintar melihat peluang agar dapurnya bisa tetap mengepul. Masker kain yang banyak dibutuhkan, menjadi alternatif produksinya. Dia pun kini lebih banyak menghasilkan alat penutup mulut dan hidung tersebut.
“Iye, sekarang orderan jahitan pakaian kurang. Jadi saya lebih banyak menjahit orderan masker saja. Itupun berdasarkan pesanan orang,” terang Muis.
Masker-masker yang dijahitnya pun laku. Kadang dalam sebulan omzetnya bisa mencapai hingga Rp1,5 juta. Dalam sehari ia mampu menghasilkan 30 lembar makser.
Meski mengalami keterbatasan fisik, namun Muis tak pernah mengeluh ataupun patah semangat. Memang, diakui Muis, di masa pandemi saat ini sangatlah sulit bertahan bagi pelaku usaha. Namun dirinya terus bekerja demi kelangsungan hidup anak dan istrinya.
Dia bisa sedikit berlega hati, karena mendapatkan bantuan satu unit mesin jahit dari Dinas Koperasi Gowa. Muis pun bersyukur karena selalu dibina Dinas Sosial sebagai penyandang disabilitas yang produktif.
Seandainya mendapat kesempatan masuk UMKM dan menerima bantuan modal usaha sebesar Rp2,4 juta, Muis mengaku sangat bersyukur.  “Yang paling pertama saya lakukan adalah melengkapi seluruh kebutuhan menjahit yang masih kurang. Ya… semoga saja dapat,” harap lelaki kelahiran 7 Juli 1979 ini.
Di tengah keterbatasan yang dimilikinya, ternyata Muis punya sifat mulia. Walau pendapatannya kurang, ia masih mampu berbagi dengan tetangga yang membutuhkan. Baik membagi-bagikan masker, maupun sembako.
Terpisah, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Gowa Syamsuddin Bidol didampingi Kepala Seksi Kessos, Lansia, dan Disabilitas Siti Hasnah, Rabu (30/9) mengatakan hingga saat ini data penyandang disabilitas di Gowa yakni DTKS (BDT) sebanyak 721 orang. Sementara data yang belum ada dalam DTKS (BDT) sebanyak 331 orang.
“Itu jumlah total keseluruhan penyandang disabilitas yang kami data. Namun dari semua itu, penyandang disabilitas yang produktif hanya 108 orang. Inilah yang kami dampingi sebagai upaya pembinaan,” jelas Syamsuddin Bidol. (sar)

Komentar Anda





Comments
To Top
.