Headline

Saling Serang Itu Kuno dan Bodoh


Yahya: Mayoritas Warga Makassar Pemilih Cerdas

MAKASSAR, BKM — Pertarungan politik pilwali Makassar di tahapan kampanye kian panas. Beragam taktik dan strategi menarik simpati dan dukungan dari calon pemilih pun ditempuh.
Ada tim sukses pasangan calon (paslon) yang melakukannya dengan terjun langsung ke tengah masyarakat sambil menebar senyum dan janji-janji politik. Ada pula yang memberi bantuan dan sumbangan kepada warga yang membutuhkan.
Tapi pada sisi lain, ada juga kesan munculnya kampanye hitam. Seperti saling menghujat serta menyerang guna menjatuhkan reputasi dan prestasi paslon lain.
Saling serang yang dilakukan semakin kencang dan massif. Para pendukung empat pasangan calon menyerang melalui selebaran, di media sosial seperti Facebook hingga grup WhatsApp.
Pantauan koran ini, tak hanya pasangan calon yang mendapat cemohan atau serangan, namun juga tokoh yang berada di balik pasangan calon. Mereka dinilai tidak netral lantara berada di kubu salah satu paslon.
Pengamat politik dari Fisip Unismuh Makassar Dr Muhammad Yahya, mengingatkan bahwa pertarungan politik memperebutkan kursi nomor satu di kota metropolitan ini seharusnya dilaksanan secara fair. Tentunya dengan menjunjung tinggi etika politik.
”Silakan para calon wali kota dan tim suksesnya menarik simpati pemilih dengan strategi komunikasi masing-masing, tanpa harus saling menghujat, apalagi menyebarkan pesan hoaks. Sebaiknya para calon wali kota memperbanyak tawaran kepada pemilih apa yang akan dikerjakan sekiranya diberi amanah memimpin Makassar,” terang Yahya, Minggu (11/10).
Lebih bagus lagi, lanjut Yahya, bila ada tawaran dari calon wali kota apa strategi akan dilakukan dalam penataaan pelayanan publik, mengurai sarana transportasi agar Makassar ini jauh dari kesan kota macet dan semrawut.
”Selain itu, dibutuhkan program dan strategi memberikan dan menghadirkan rasa aman bagi warga,” katanya.
Warga Makassar, menurut Yahya, mayoritas adalah pemilih cerdas. Karena itu mereka akan memilih calon wali kota sesuai dengan hasil amatan dan perhitungan secara matang.
Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kota Makassar Raisuljaiz menilai saling serang merupakan hal yang tidak menarik.
“Ini sama sekali tidak menarik. Harusnya yang dikedepankan adalah adu program, adu visi misi setiap kandidat. Harusnya masyarakat disuguhkan proses pilkada yang mengedepankan etika, sopan santun. Bukan saling serang, saling menjatuhkan,”ujar Raisuljaiz, Minggu (11/10).
Menurutnya, adu strategi dan adu program yang harusnya menjadi pilar pilkada. Biar masyarakat dapat melihat mana program yang memang dibutuhkan oleh masyarakat sekarang ini, mana program yang hanya ilusi dan angan-angan.
Muwaffiq selaku juru bicara pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Irman Yasin Limpo-Andi Zunnun Armin NH (Imun), menjelaskan secara keseluruhan terkait tembakan serangan ke paslon lain adalah cara yang kuno dan basi.
Menurutnya, masyarakat Kota Makassar ini paham siapa paslon terbaik, karena paslon yang terbaik adalah yang punya konsepsi originalitas terkait program yang ia tawarkan.
“Saya harus menyebutnya kalau hanya pasangan Imun yang punya originalitas tentang programnya. Program Imun sangat dibutuhkan masyarakat. Terbukti dari perjalanan kampanye sejauh ini,” jelasnya.
Jadi, tambah dia, untuk saling menjatuhkan merupakan cara yang kuno, langkah bodoh yang ingin memengaruhi masyarakat ke arah yang keliru.
Sementara itu, juru bicara pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Munafri Arifuddin-Abdul Rahman Bando (Appi-Rahman), Muhamamd Fadli Noer menyebut hal itu tidak bersifat personal dan ad hominem.
“Menurut kami, mempertentangkan pandangan di ruang publik itu sah-sah saja selama tidak bersifat personal dan ad hominem. Berpolemik di ruang publik dengan dukungan data dan fakta serta opini yang argumentatif itu justru mencerahkan publik agar tidak direpresi oleh info sepihak dan klaim kebenaran tunggal,” ujar Fadli Noer, kemarin.
Menurut Fadli, bagi yang pernah menjadi pejabat publik seperti Danny Pomanto, Deng Ical maupun None, wajar jika publik menggugat apa yang pernah mereka lakukan saat menjabat. Sebab jabatan publik itu dibiayai oleh uang rakyat.
“Kami pikir beragumentasi dengan terang-terangan tentu lebih akuntabel dan dapat memperjelas posisi dan pandangan politik kandidat. Soal apakah dapat menarik simpati, itu tergantung bagaimana preferensi pemilih dalam memutuskan dukungannya,” jelas ketua PSI Sulsel ini. (rhm/rus)

Komentar Anda





Comments
To Top
.