Headline

Danny-Fatma Unggul Telak


Elektabilitasnya 40,4 Persen, Appi-Rahman 23,5 Persen

BKM/CHAIRIL MEMAPARKAN--Manajer Riset CRC Muhammad Nur Hidayat memaparkan hasil survei lembaganya, yang mengunggulkan paslon Danny-Fatma di pilwali Makassar.

MAKASSAR, BKM — Pasangan calon (paslon) wali kota dan wakil wali kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto-Hj Fatmawati Rusdi unggul telak. Elektoral atau tingkat keterpilihan (elektabilitas) Adama lebih tinggi dibanding tiga paslon lainnya.
Lembaga survei dan konsultan pemenangan Celebes Research Center (CRC) memublikasikannya, Senin (12/10) di Hotel Santika, Makassar. Manajer Riset CRC Muh Nur Hidayat memaparkannya di depan media.
Dari hasil survei CRC, elektabilitas pasangan Adama sebesar 40,4 persen. Urutan kedua ditempati pasangan Munafri Arifuddin-Abdul Rahman Bando (Appi-Rahman) dengan 23,5 persen.
Di tempat ketiga ada pasangan Samsul Rizal MI-dr Fadli Ananda (Dilan) dengan 14,0 persen. Adapun pasangan Irman Yasin Limpo-Andi Zunnun Armin Halid (Imun) berada di posisi terbawah dengan elektabilitas 5,6 persen.
Hidayat menyebut, survei yang dilakukan lembaganya melibatkan 1.000 responden. Menggunakan multistage random sampling dengan marging of error sebesar 3 persen, serta tingkat kepercayaan 95 persen.
“Nama Ramdhan Pomanto masih berada di posisi paling di atas. Survei ini adalah hasil temuan dari kami dan sama sekali tidak mengubah hasil sedikit pun,” ujar Nur Hidayat.
Hidayat mengatakan, penelitian yang dilakukan CRC ini merupakan survei pertama setelah penetapan pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Makassar 2020 oleh KPU pada 23 September lalu.
“Lingkup penelitian adalah seluruh masyarakat di Kota Makassar yang sudah memiliki hak pilih. Berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah. Beredar di 15 kecamatan yang terdistribusi secara proporsional,” terangnya.
Nur Hidayat memaparkan, hasil survei untuk empat calon wakil wali kota, baik soal program, kemampuan hingga tingkat kepercayaan publik.
Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara tatap muka langsung (face to face) menggunakan kuesioner 25 September – 5 Oktober 2020.
“Quality control terhadap hasil wawancara dilakukan secara random sebesar 20 persen dari total sampel oleh supervisor dengan kembali mendatangi responden terpilih (spot check),” jelasnya.
Nur Hidayat mengemukakan, perebutan dukungan masih cukup terbuka lantaran masih besarnya swing voter atau yang belum menentukan pilihan, yakni 15,6 persen.
Untuk tingkat pengenalan atau popularitas, Danny juga masih teratas dengan angka 94 persen dan paling disukai, dengan angka 78,5 persen dibandingkan kandidat lain. Selain itu, Danny dianggap paling mampu memimpin di angka 73,6 persen, paling jujur 49,3 persen, bersih dari pelanggaran hukum 43,9 persen, peduli dan merakyat 71,1 persen.
Hidayat menambahkan, faktor latar belakang yang paling berpengaruh yakni kinerja dan pengalaman.

Tanggapan Beragam

Hasil survei CRC yang menempatkan elektoral Danny-Fatma yang jauh meninggalkan pesaingnya Appi-Rahman, mendapat tanggapan beragam.
“Kami tidak terlalu peduli dengan hasil survei yang dikeluarkan oleh lembaga lain, karena kami juga menjalankan survei internal menggunakan beberapa lembaga survei nasional untuk memotret progress dari upaya elektoral yang kami lakukan,” ujar Appi melalui juru bicaranya, Mohammad Fadli Noer, Senin sore (12/10).
Dijelaskan, klaim elektoral itu seringkali keliru dan menyesatkan publik yang tidak paham membaca survei. Setahu Fadli, CRC pernah survei di pilkada Wajo 2018 menempatkan Pammase hanya 34,3 persen. Namun akhirnya menjadi pemenang pilkada dengan 57,95 persen, jauh meleset dari survei CRC.
Pada pilkada Takalar 2017 pun, survei CRC jauh panggang dari api. Angka CRC menunjukkan pasangan SK-HD hanya memperoleh 29,8 persen. Namun, pleno KPU menunjukkan kemenangan SK-HD dengan 50,58 persen.
“Bagi kami di Appi-Rahman, rekam jejak lembaga survei menjadi pertimbangan utama dalam menggunakan output surveinya untuk membaca progress capaian elektoral,” jelasnya.
Pengamat politik Dr Arief Wicaksono yang dimintai tangapannya soal survei CRC, memberi respon biasa saja. “Kalau menurut saya sih, biasa saja. Kalau lihat kurang terperincinya metodologi, MoE, dan hasil, nampaknya itu survei opini saja. Apalagi publik Sulawesi Selatan dan Makassar juga, sudah familiar dengan eratnya hubungan antara CRC dan Danny. Selama masa pemerintahan Danny, kan CRC juga yang selalu melakukan survei kepuasan publik. Jadi, menurut saya tidak ada hal yang istimewa. Mungkin masyarakat juga sudah paham track record yang melakukan survei, dan yang disurvei,” jelas Arief Wicaksono.
Hal berbeda disampaikan akademisi Unhas Dr Andi Haris. “Ya, saya kira elektoral Danny cukup baik. Karena bagaimana pun juga dia sudah pernah memimpin Makassar beberapa tahun lamanya. Dan dari pengalaman itu, banyak masyarakat yang memberikan apresiasi atas keberhasilan dia dalam membangun kota Makassar,” pungkas Andi Haris. (rif)

Komentar Anda





Comments
To Top
.