Headline

Bersiap Hadapi Dampak La Nina


Bisa Picu Banjir di Sulsel, Terutama Makassar

MAKASSAR, BKM — Wilayah Indonesia secara umum akan mengalami fenomena global La Nina. Banjir pun mengancam wilayah di Sulsel, terutama Makassar.
Prakirawan Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar Rizky Yuda, mengatakan fenomena La Nina mengakibatkan hujan menjadi lebih banyak dari kondisi normal pada musim hujan biasanya. Dampaknya, sebagian wilayah diprediksi akan banjir, terutama wilayah perkotaan.
La Nina merupakan fenomena iklim yang berlawanan dengan El Nino yang menyebabkan terjadinya kemarau panjang. El Nino dikaitkan dengan pemanasan di Pasifik tropis bagian tengah dan timur. Sedangkan La Nina adalah kebalikannya.
Dengan demikian, yang terjadi pada fenomena La Nina adalah pendinginan yang tidak biasa, di mana anomali suhunya melebihi minus 0,5 derajat celcius di area yang sama dengan El Nino.
“Efek dari La Nina ini adalah penambahan massa uap air di wilayah Indonesia. Artinya, hujan lebih banyak dari normalnya,” kata Rizky.
Ia menambahkan, dari pantauan saat ini, perairan Samudra Pasifik sebelah barat mengalami kondisi yang lebih dingin dibanding normalnya. Sehingga massa udara bergerak ke wilayah Indonesia.
Fenomena ini pun diperkirakan terjadi pada Oktober bulan ini hingga Maret 2021 mendatang secara umum di Indonesia. Sementara pada Desember 2020 hingga Maret 2021, terkhusus terjadi di wilayah Sulawesi hingga Papua.
Apalagi, ditambahkan Rizky, pada Oktober ini di Sulsel bagian barat memasuki masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Diperkirakan musim hujan terjadi pada November bulan depan.
“Pada masa peralihan ini memang cuaca tidak menentu. Kadang cerah, kadang hujan. Hujan biasanya sore hari. Itu di Sulsel bagian barat. Kalau Sulsel bagian timur, sekitar Maret baru masuk musim hujan,” jelasnya.
Catatan historis menunjukkan, La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40 persen di atas normalnya.
Olehnya, BMKG pun mengimbau kepada para pemangku kepentingan untuk dapat lebih optimal melakukan pengelolaan tata air terintegrasi dari hulu hingga hilir. Misalnya dengan penyiapan kapasitas sungai dan kanal untuk antisipasi debit air yang berlebih.
Masyarakat juga diimbau agar terus memperbaharui perkembangan informasi dari BMKG dengan memanfaatkan kanal media sosial infoBMKG, atau langsung menghubungi kantor BMKG terdekat.

Antisipasi BPBD

Mengantisipasi dampak-dampak yang diakibatkan La Nina, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi.
Kepala BPBD Kota Makassar Muh Rusli, menjelaskan berbagai persiapan telah dilakukan BPBD untuk menghadapi kemungkinan bencana, terutama genangan air yang cukup tinggi.
“Persiapan yang dilakukan BPBD, mulai dari potensi sumber daya manusia, peralatan seperti perahu karet, hingga logistik,” ungkapnya saat ditemui di Posko Covid-19 Kota Makassar, Senin (12/10).
Dia melanjutkan, saat ini instansi yang dipimpinnya memiliki enam perahu karet untuk langkah evakuasi warga, tenda pengungsian, serta logistik. Semuanya sudah siap jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Selain itu, pihaknya juga dilengkapi personel yang sudah lumayan banyak, karena ada penambahan 20 orang. “Personel bertambah 20 orang. Jadi jumlahnya sekarang 80 orang. Secara umum, baik ASN maupun kontrak 110 orang, siap diterjunkan setiap saat,” terangnya.
Menurut Rusli, ada sejumlah kecamatan yang perlu diantisipasi karena kerap menjadi langganan banjir. Yakni Kecamatan Biringkanaya, Tamalanrea, Manggala, Rappocini, dan Panakkukang.
Namun dia berharap, berbagai dampak buruk saat musim hujan tiba ditambah adanya La Nina, tidak terjadi. Pihaknya pun siap berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup untuk menghadapi kemungkinan terjadinya pohon tumbang.
Dia menambahkan, sejak dibangunnya bendungan Nipa-nipa, potensi banjir besar bisa diminimalisasi. Dia berharap ke depan Makassar tetap aman. (nug-rhm)

Komentar Anda





Comments
To Top
.