Headline

Tiga Usungan PDIP Rawan, Dilan Termasuk


BKO-kan Anggota Fraksi 12 Daerah yang tak Berpilkada

BKM/SITUJUA KETERANGAN PERS-Pengurus DPD PDIP Sulsel memberikan keterangan pers terkait pilkada di 12 daerah, Minggu (18/1).

MAKASSAR, BKM — Sedikitnya ada tiga pasangan calon (paslon) usungan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dalam zona rawan. Mereka adalah calon wali kota dan wakil wali kota, serta calon bupati dan bupati yang akan bertarung dalam pilkada serentak di Sulsel pada 9 Desember mendatang.
Tiga paslon tersebut masih harus berjuang keras untuk berada pada tingkat elektoral yang cukup aman. Masing-masing pasangan Syamsu Rizal-dr Fadli Ananda (Dilan) di pilwali Makassar. Pasangan Kalatiku Paembonan-dr Etha di Toraja Utara, serta pasangan Albertus Patarru-John Diplomasi di Tana Toraja.
Tak hanya itu, tiga pasangan lainnya juga masih bersaing ketat sehingga diharap dapat meningkatkan elektoralnya. Mereka adalah pasangan Suardi Saleh-Aksa Mappe di Barru, Thoriq Husler di Luwu Timur, serta Tomy Satria Yulianto-Andi Makkasau di Bulukumba.
Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Sulsel Rudi Pieter Goni (RPG), tetap merasa yakin atau optimistis bilamana pasangan yang diusung partainya dan masih berada di urutan kedua atau ketiga, akan terus berjuang agar berada di posisi puncak.
“Elektabilitas semuanya meningkat. Bahkan ada yang meningkat secara drastis,” ujar RPG dalam keterangan resminya usai menjadi pembicara pada kegiatan pelatihan manajer kampanye di Hotel Colonial Tanjung Bunga, Makassar, Minggu (18/10).
RPG mengakui usungannya di Bulukumba, Makassar, dan Toraja Utara belum begitu aman. “Di Pangkep kita seimbang. Sementara di Barru trend kita memang agak turun, tapi masih menguat,” bebernya.
Untuk usungan di Luwu Timur, RPG yang juga ketua badan anggaran (Banggar) DPRD Sulsel ini mengklaim masih bagus. “Di Toraja kita nomor dua, sedangkan pasangan Dilan di Makassar punya elektoral 20 sampai 29 persen,” jelasnya.
Cabup Toraja Utara petahana Kalatiku Paembonan diakui masih leading, meski pasangan dari dr Etha itu mendapat pesaing yang elektoralnya semakin mendekati.
Adapun Tomy Satria di Bulukumba juga dilaporkan masih bagus, karena diuntungkan oleh tingkat kepuasan publik selama Tomy mendampingi Andi Sukri Sappewali sebagai bupati Bulukumba.

NA Wajib Menangkan

Dukungan HM Nurdin Abdullah (NA) selaku kader PDIP, tentu sudah sejalan dengan rekomendasi partai yang dikeluarkan Megawati Soekarno Putri selaku ketua umum. Bahkan, NA sejak awal mengaku siap mendukung dan memenangkan usungan PDIP di 12 daerah.
“Memang kita harus bedakan Pak Nurdin Abdullah sebagai kader maupun selaku gubernur. Kami juga tetap konsultasi ke pada Pak NA soal usungan PDIP. Sebagai gubernur, kami paham karena gubernur adalah kepala pemerintahan. Tapi Pak NA sebagai kader tentu wajib mendukung seluruh usungan PDIP didaerah,” jelas RPG.
Tak hanya itu, partai berlambang kepala banteng gemuk ini juga akan memanggil seluruh anggota fraksi PDIP, baik provinsi maupun kabupaten/kota di Sulsel. Tujuannya untuk menungaskan mereka di daerah yang melaksanakan pilkada serentak.
“Kami akan memanggil seluruh anggota fraksi PDIP untuk menugaskan mereka di daerah yang berpilkada. Di antaranya dari Jeneponto, Takalar, Bone, Palopo, dan Luwu. Ada 12 daerah yang tidak berpilkada. Mereka akan kita beri tugas seperti, di-BKO-kan di daerah yang berpilkada,” terang RPG.
Soal masih adanya kader PDIP yang tidak taat azas atau mendukung pasangan lain, Wakil Ketua DPD PDIP Sulsel Andi Ansyari Mangkona menegaskan bahwa partai akan menyiapkan sanksi. “Kita akan siapkan sanksi. Sebagai kader tentu harus tegak lurus. Memang setiap pilkada ada pro dan kontra,” jelasnya.
Ketua Fraksi PDIP DPRD Sulsel ini memberikan contoh kasus yang terjadi di Lutim dan Lutra. Di Lutim, dengan kesadaran sendiri ketua DPC-nya mundur. Begitu juga sekretaris DPC PDIP Luwu Utara juga sudah mundur. “PDIP selalu ingin menang secara konstitusional,” tambah Andi Ansyari.

Dukung yang Lain

Pengamat politik Dr Arief Wicaksono, mengungkapkan bahwa untuk meningkatkan persentase elektoral figur yang diusung, partai politik biasanya akan berupaya mengoptimalkan peran struktur partai dari atas hingga ke bawah.
”Tapi, untuk jumlah kursi parlemen tidak serta merta bisa menentukan. Karena ada faktor lain. Misalnya strategi gerakan, kampanye, dan faktor figurnya itu sendiri. Maka saya pikir kecil sekali sebenarnya kontribusi partai politik di dalam upaya peningkatan keterpilihan itu,” ujarnya ketika dihubungi, Minggu sore (18/10).
Ia lalu mencontohkan PDIP di Makassar. Meskipun telah secara terbuka mengusung Dilan, tapi itu saja ternyata tidak cukup. ”Hampir semua jaringan DPC ternyata bergerak mendukung yang lain. Padahal DPC inilah yang dianggap paling berjasa dalam mendapatkan jumlah kursi di parlemen,” imbuhnya.
Olehnya itu, lanjut Arief, yang harus dilakukan oleh figur-figur usungan PDIP yang dianggap rawan untuk meningkatkan persentase elektabilitasnya masing-masing, adalah dengan mengandalkan tim sendiri yang solid dan militan.
Dosen komunikasi politik UIN Alauddin Makassar Dr Firdaus Muhammad, mengemukakan bahwa usungan partai harus dimaksimalkan guna mengatur strategi berdasar peta politik dan lebih massif. “PDIP sebagai partai penguasa dapat memanfatkan pengaruhnya,” ujarnya. (rif)

Komentar Anda





Comments
To Top
.