Headline

Orangtua Jangan Cuek Anak Belajar Daring


Reskrim Gowa Usut Kematian Siswi yang Minum Racun

GOWA, BKM — Permasalahan terkait sekolah daring dan meningkatnya tingkat stres yang dirasakan anak mungkin saja terjadi. Namun, hal tersebut bisa dicegah jika orangtua memiliki keterlibatan selama anaknya belajar daring dan bisa mengubah karakter anak tersebut.
Dosen Psikologi Universitas Hasanuddin Makassar Andi Juwita Amal,SPsi,MPsi, mengatakan perilaku anak yang merasa tidak sanggup lagi menghadapi beban tugas menumpuk selama melaksanakan sekolah daring dan keterbatasan koneksi internet, perlu menjadi perhatian semua pihak. Utamanya orangtua dan guru.
“Bentuk pertahanan anak dalam kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit itu berbeda-beda. Contohnya kasus anak itu (yang meninggal di Gowa), yang berbeda pertahanannya dengan anak yang lain. Belum lagi mungkin ada pengaruh keluarga, lingkungan dan teman-temanya sendiri yang memicu adanya peningkatan kesehatan mental yang menjadi masalah timbulnya keinginan untuk bunuh diri,” terang Andi Juwita, Senin (19/10).
Ia pun mendorong pemerintah untuk mencari cara guna mengatasi permasalahan tersebut. Sebab bukan tidak mungkin hal tersebut bisa saja terjadi lagi, jika seorang anak melihat kasus itu. Keterlibatan para guru dan orangtua juga perlu dalam membimbing anak di tengah sistuasi seperti saat ini.
“Lagi-lagi yang dibutuhkan anak saat sekolah daring ini adalah dorongan dan dukungan orangtua. Bagaimana anaknya bisa didukung belajar daring, dan guru pun harus mengerti situasi sekarang. Artinya, sekarang ini kan semua anak sekolah online. Tapi belum ada dan ini baru terjadi, anak bunuh diri karena stres tugas sekolah. Nah, di sini perlu masuk peran orangtua. Karena kasusnya sekarang banyak orangtua cuek dan sibuk kerja, yang akhirnya anaknya kurang mendapat dukungan. Beda halnya jika anak tersebut berada di sekolah. Ada teman-temannya yang membantu,” jelasnya.
Selain itu, kondisi sekolah daring memang mengalami begitu banyak dilema, baik terhadap siswa maupun guru. Namun hal tersebut bisa diatasi jika siswa dan guru mau beradaptasi dengan kebiasaan baru tersebut.
“Saya yakin bahwa anak ini bukan secara spontan saja ingin bunuh diri. Melainkan ada rentetan panjang yang dialami sehingga dia tidak kuat menanggungnya sendiri, dan tidak ada yang mau mendengarkan permasalahannya. Sehingga jauh sebelumnya terpikirkan untuk mengakhiri hidupnya,” tandasnya.

Rekam Dirinya

Kasat Reskrim Polres Gowa AKP Jufri Natsir yang dikonfirmasi terpisah, Senin sore (19/10), mengatakan kasus kematian M, siswi kelas 2 SMA di Manuju yang bunuh diri akibat menenggak racun hama, masih dalam proses lidik.
”Ya, kami masih melakukan pengembangan. Kasus ini masih dalam lidik. Hingga saat ini belum ada perkembangan baru yang kami dapatkan,” kata AKP Jufri Natsir.
Sejak ditemukannya mayat gadis belia itu dengan kondisi mulut berbusa di bawah tempat tidur dalam kamarnya, pihak keluarga maupun warga di Dusun Bontote’ne, Desa Bilalang, Kecamatan Manuju, masih penasaran. Mereka bertanya-tanya apa sebenarnya motif pasti di balik nekatnya korban menghabisi hidupnya dengan menenggak racun hama merk Dangke tersebut.
Seperti dibeberkan Kapolsek Manuju Iptu Jamaluddin sebelumnya, jika motif sementara yang diperoleh berdasarkan informasi dari sejumlah keluarga, korban sering mengeluhkan banyaknya tugas-tugas sekolah melalui daring. Sementara jaringan telepon selular untuk belajar daring sangat susah, bahkan kerap terputus. Lokasi tempat tinggal M dan keluarganya berada di daerah ketinggian.
Dikatakan kapolsek, sebelum meninggal korban sempat mengunggah sebuah status dirinya dengan berswafoto mengenakan hijab biru dan baju hitam.
Selain unggahan status, korban juga sempat merekam dirinya sendiri bagaimana ia meminum racun hama tersebut sambil berkata ‘kuminum tidak yaaa…’
Kematian M sekitar pukul 08.30 Wita, Sabtu (17/10) itu terjadi tanpa terlihat kedua orangtuanya, yakni Dg Tutu dan Dg Sannang. Mereka sudah berada di kebunnya.
Hal yang menjadi isyarat korban sebelum kematiannya, karena M sempat bilang ke teman-temannya bahwa dia akan meninggal hari Sabtu atau Minggu. Tidak ada yang menyangka jika perkataan korban itu bakal menjadi kenyataan.
“Iya, korban meninggal dunia diperkirakan minum racun, karena cairan sisa racun tersebut masih ada ditemukan di bawah tempat tidur korban. Pihak keluarga juga menerima kejadian ini sebagai suatu musibah dan mereka menolak untuk dilakukan pemeriksaan dan otopsi. Karena itu, personel unit Reskrim Polsek Manuju membuatkan  surat pernyataan dan berita acara penolakan autopsi,” jelas AKP Jufri Natsir. (ita-sar)

Komentar Anda





Comments
To Top
.