Headline

Kadisdik Yakin Bukan karena Beban Tugas


Sebut tak Ada Motif Asmara, Polisi Usut Kematian Siswi SMA

GOWA, BKM — Ada keyakinan berbeda yang disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Gowa, Dr Salam terkait kematian M, siswi SMA di Kecamatan Manuju yang menenggak racun hama. Secara pribadi, ia tidak yakin jika pilihan korban mengakhiri hidup dengan meminum cairan insektisida berwarna biru itu disebabkan karena beban tugas dari sekolah.
“Saya tidak yakin itu penyebabnya. Dari sisi akademik saya tidak yakin. Apalagi di umur yang masih cukup muda.  Sepanjang sepengetahuan saya tentang ilmu-ilmu semacam itu, level SMA itu hanya pada level analisis. Namanya saja hanya menganalisis pelajarannya, jadi sebenarnya tidak berat. Tapi saya tidak punya kewenangan untuk terlalu jauh, apalagi SMA itu kewenangan Disdik provinsi. Kita serahkan semuanya kepada penyidik,” jelas Salam yang dihubungi, Selasa (20/10).
Bagaimana dengan penerapan pembelajaran daring selama masa pandemi covid-19 ini? Salam menjelaskan, jika berbicara dari usia belajar TK dan SD, maka kita paham betul bahwa beban belajarnya itu hanya pada level C1 dan C2. Mereka hanya mengingat dan memahami.
”Hanya sebatas itu. Ini namanya taksonomi bloom. Penekanannya segala bahan penilaian atau materi itu, wilayahnya hanya sebatas bagaimana anak bisa mengingat dan memahami. Kalau itu naik ke jenjang SMP, maka ini meningkat ke jenjang yang namanya penerapan atau level C3. Kalau sudah SMA, naik lagi pada jenjang aplikasi, yakni C4. Kalau perguruan tinggi masuk di jenjang C5 sintesis dan C6 evaluasi. Jadi sebanyak apapun sebenarnya bahan yang diberikan, tidak akan pernah melewati batas yang ditentukan kalau SD itu C1 dan C2. Begitupun SMP dan SMA, semua tetap pada levelnya,” bebernya.
Karena itu, menurut Salam, dari segi psikologi belajar, pola dan strategi level-level ini sudah diterapkan di Gowa. “Agar anak didik tidak merasa tugas  itu sebagai sebuah beban, maka kita kemas itu dengan joyfull learning (pembelajaran dalam suasana menyenangkan). Ada tahapan-tahapan yang ditempuh di dalamnya sehingga anak tidak merasa sedang belajar. Bahkan pembelajaran daring ini ditekankan tidak harus di dalam rumah, tapi bisa di mana saja,” tambahnya.
Dikatakan Salam, khusus di Gowa,  pihaknya sudah mengantisipasi jauh hari sebelumnya mengenai beban psikologis yang dialami anak dalam pembelajaran daring. Karena itu, tambahnya, Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan telah memerintahkan agar pembelajaran daring dilakukan senyaman mungkin. Sebab tidak akan ada anak yang betah duduk depan laptop atau androidnya selama 15 menit hanya untuk belajar daring.
Dihubungi terpisah, Kasubag Humas Polres Gowa AKP Mangatas Tambunan mengatakan, hingga kini penyidik kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait penyebab kematian M.
“Iya, sampai hari ini (kemarin), penyidik masih terus menggali apa motif sesungguhnya di balik kematian korban. Untuk sementara kami masih pada data awal yang kemarin,” kata Mangatas Tambunan.
Sampai saat ini, lanjut dia, dugaan sementara penyebab M nekat menghabisi nyawanya adalah karena beban tugas belajar daring yang diberikan sekolah selama pandemi covid-19.
“Jadi tidak ada motif asmara. Yang jelas korban mengalami stres, karena banyaknya beban tugas sekolah melalui sistem daring yang dirasakan korban. Sebelum meninggal dunia, korban sudah menyampaikan ke teman-temannya bahwa dia akan mati pada hari Sabtu atau Minggu. Bahkan korban melalui pesan WhatsApp menginformasikan itu. Ini keterangan dari pihak keluarga,” tandas AKP Mangatas. (sar)

Komentar Anda





Comments
To Top
.