Headline

Angka Kelahiran Remaja Menurun


IST REVISI TARGET-Kepala Perwakilan BKKBN Sulsel Andi Ritamariani (tengah) didampingi Sekban Faizal Fahmi dan pejabat lainnya menandatangani revisi target kinerja di sela-sela Review Program Bangga Kencana di Hotel Mercure, Kamis (22/10).

MAKASSAR, BKM — Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulsel mencatat dua angka penurunan sektor kependudukan di tengah pandemi covid-19. Masing-masing menurunnya angka kelahiran remaja dan usia kawin pertama perempuan.
Untuk angka kelahiran remaja, target sebesar 40.00 per 1.000 kelahiran, pencapaiannya 31.00. Atau 133,33 persen. Artinya, dari 1.000 remaja yang berusia antara 15-19 tahun, ada 31 orang yang melahirkan.
Sementara usia kawin pertama perempuan, dari target 21.90, yang tercapai 21.50. Atau 98,17 persen. Median usia kawin pertama perempuan (MUKP) umur 25-49 tahun.
Khusus jumlah peserta KB baru, BKKBN Sulsel mencatat angka capaian 112.641 dari target 204.066, atau 55,20 persen. Dari jumlah pencapaian tersebut, per bulanya ada 12.516 akseptor baru.
Untuk persentase pencapaian peserta KB aktif terhadap jumlah PUS (Pasangan Usia Subur) pada tiga kabupaten/kota tertinggi, yaitu Kabupaten Selayar 78,7 persen, Jeneponto 78 persen, dan Soppeng 77,4 persen.
Sedangkan persentase pencapaian peserta KB aktif terhadap jumlah PUS paling rendah pada tiga kabupaten/kota, yakni Kabupaten Toraja Utara 61,5 persen, Pinrang 64,2 persen, dan Kota Parepare 65,3 persen.
Kepala Perwakilan BKKBN Sulsel Andi Ritamariani memaparkan data ini kepada wartawan, usai pembukaan Review Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Banggakencana) di Hotel Mercure, Kamis (22/10). Kegiatan ini dibuka Deputi Bidang Pengendalian Penduduk (Dalduk) BKKBN Pusat Dr Dwi Listyawardani.
Dalam penjelasannya, Deputi Dalduk Dwi Listyawardani menjelaskan tentang upaya yang dilakukan guna terus meningkatkan jumlah akspetor KB di tengah pandemi. Salah satunya melalui program 1 juta akseptor pada rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) beberapa waktu lalu. Angka yang dicapai ketika itu berhasil melampaui target, yakni 1,4 juta akseptor.
”Kami terus memacu dan memberi semangat kepada nakes (tenaga kesehatan) untuk tetap meningkatkan pelayanan. Tentunya dengan menerapkan dan menaati disiplin protokol kesehatan,” ujarnya.
Dwi pun sangat menyayangkan ketika ada larangan untuk tidak mendatangi fasilitas kesehatan (faskes) bagi akseptor ataupun PUS. Sebab hal tersebut berdampak pada terjadinya peningkatan jumlah putus penggunaan kontrasepsi, karena akseptor khawatir dan takut datang ke faskes untuk memperpanjang penggunan alat kontrasepsinya.
Di bagian lain data yang dijelaskan Andi Rita, angka ketidakberlangsungan pemakaian kontrasepsi sebesar 14,71 persen, dari target 30,96 persen. Atau pencapaiannya 210,51 persen. Sementara persentase kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi (unmeetneed) sebesar 31.00 per 1.000 kelahiran, dari 40.00. (*/rus)

Komentar Anda





Comments
To Top
.