Headline

Demo tak Terbukti Picu Lonjakan Kasus Covid


Isolasi Mandiri Sebabkan Peningkatan Penyebaran di Daerah

MAKASSAR, BKM — Ada kekhawatiran bahwa aksi demo yang berlangsung selama beberapa hari dengan jumlah massa besar, akan memincu terjadinya lonjakan kasus covid-19 di Makassar. Sebab ketika unjuk rasa digelar, protokol kesehatan terabaikan.
Namun, kekhawatiran itu tidak terbukti. Di gelombang ketiga saat ini, jumlah kasus positif melandai di kisaran antara 5-13 persen. Sementara angka positivity rate berada di angka 0,98. Angka kesembuhan 85 persen, lebih tinggi dari nasional sebesar 74 persen. Sedangkan angka kematian, 2,5 persen. Hal ini menempatkan Makassar berada pada zona oranye.
Ketua Tim Konsultasn Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Prof Dr Ridwan Amiruddin memaparkan hal itu ketika menjadi narasumber dalam diskusi yang digelar Harian Fajar, Jumat (23/10) di lantai sembilan Graha Pena. Diskusi yang mengusung tema; Liburan Aman Tanpa Sebar Virus itu juga menghadirkan dua pembicara lainnya, yakni Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel Kemal Redindo Syahrul Putra, serta Traveller/Trip Planner Zulkarnaen Bachtiar.
Walau penularan covid-19 di Kota Makassar mulai bisa dikendalikan, namun Prof Ridwan tidak memungkiran jika ada kecenderungan kasus ini berpindah ke wilayah kabupaten. Sehingga banyak muncul kasus baru serta klaster baru pula.
”Setelah ditelusuri, peningkatan angka kasus di daerah disebabkan karena mereka yang terpapar memilih untuk melakukan isolasi mandiri. Angkanya di kisaran 25 persen,” beber Ridwan.
Walau begitu, Ridwan tetap mempersilakan para pelaku pariwisata untuk melakukan aktivitasnya. Tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan.
”Misalnya di Pantai Akkarena. Sampaikan kepada masyarakat bahwa air laut bisa meningkatkan imun. Ini akan mendorong mereka untuk datang berwisata pantai,” ujar Prof Ridwan, mencoba memberi saran kepada pengelola wisata Pantai Akkarena yang hadir sebagai peserta diskusi.
Demikian pula ketika Indri dari Gowa Discovery Park menyampaikan apa yang dilakukannya di tengah pandemi saat ini. Kata dia, hingga sekarang pihaknya masih menutup fasilitas wisata di tempat tersebut untuk meminimalisasi penularan.
Namun, Ridwan langsung meminta agar pengelola GDP segera beroperasi dan membuka tempatnya. ”Buka saja. Asalkan protokol kesehatannya dijaga,” tandasnya.
Tentang belum dibukanya operasional bioskop, Ridwan menjelaskan bahwa jika daya tampung tempat hiburan tersebut dibatasi hanya 25 persen, tentu pengelola akan rugi. Belum lagi kondisi ruangan tertutup serta ber-AC yang berpotensi memicu terjadinya penularan.
Sekdis Budpar Sulsel Kemal Redindo Syahrul Putra, mengakui bahwa pandemi covid-19 telah berdampak besar terhadap pariwisata di Sulsel. Namun diyakini, bahwa sektor pariwisata ini akan kembali menggeliat dan Sulsel menjadi pintu gerbang di Indonesia timur.
”Nantinya pariwisata di alam terbuka akan menjadi primadona setelah pandemi ini berlalu. Dan Indonesia timur punya banyak objek wisata seperti itu. Termasuk Sulsel,” terangnya.
Zulkaraen Bachtiar sebagai traveller, juga mengakui hal itu. Masyarakat yang berwisata akan berusaha menghindari ruang tertutup dan memilih alam terbuka untuk berwisata bersama keluarga. (*/rus)

Komentar Anda





Comments
To Top
.