Headline

Ini Pilkada Luar Biasa dan Unik


Ketua KPU Luwu Timur Zainal

PEMILIHAN kepala daerah (pilkada) serentak 9 Desember mendatang berlangsung di tengah pandemi covid-19. Kabupaten Luwu Timur (Lutim) menjadi satu dari 12 daerah di Sulsel yang turut melaksanakannya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) selaku penyelenggara di daerah tersebut.

KETUA KPU Lutim Zainal, menyebut pilkada kali ini luar biasa dengan nuansa dan tantangan yang berbeda. Sebab tahapan pilkada ini mestinya berjalan normal seperti sebelumnya, namun terpaksa harus berhenti karena pandemi covid-19. Kemudian dilanjutkan lagi tanpa harus menunggu pandemi berakhir, namun harus berjalan dalam tatanan normal baru. Perlakuan dalam menjalankan setiap tahapannya berbeda karena harus mematuhi protokol kesehatan.
”Pilkada kali ini juga terbilang unik, karena prinsip pemilu itu adalah bagaimana mengumpulkan orang sebanyak-banyaknya dalam satu tempat lalu diberikan edukasi dan pendidikan politik. Sementara protokol covid-19 tidak membolehkan hal itu. Di sisi lain, target kita adalah bagaimana tingkat partisipasi pemilih bisa tinggi. Di sinilah letak keunikannya. Namun demikian, kami selaku penyelenggara tetap bekerja profesional dengan berpedoman kepada aturan yang ada,” ungkap Zainal.
Walau sejumlah regulasi banyak yang tergolong baru, namun Zainal bersama empat komisioner KPU Lutim lainnya berusaha untuk melaksanakannya secara baik. Hal itu didasari pada kesadaran masing-masing, yang merasa terpanggil untuk menghadirkan suasana demokrasi di dalam lembaga KPU.
”Jadi intinya adalah kami tetap selalu menjaga kekompkana dan profesionalisme sesama komisioner KPU,” ujar ayah satu anak ini.
Mampu bersinergi untuk menyatukan langkah pikiran dengan lima kepala, diakui Zainal sebagai hal yang paling berkesan. Atas dasar itu pula, hingga saat ini tidak pernah ada gesekan yang sampai membuat para komisioner terbelah.
Kemampuan Zainal dalam menghadirkan suasana demokratis di KPU Lutim, tidak terlepas dari latar belakangnya selaku penyelenggara di tingka bawah. Ia memulai kiprahnya sebagai penyelenggara pemilihan umum di tahaun 2005. Kala itu Zainal menjadi panitia pemilihan kecamatan di Burau.
”Waktu itu masih KPU Luwu Utara yang melakukan seleksi dan saya salah satunya yang terpilih. Di situ awalnya saya belajar dan menimba pengalaman,” tuturnya.
Zainal mengakui, awalnya ia tidak pernah menyangka akan menjadi ketua KPU Luwu Timur. Namun, dengan terjun menjadi PPK, menjadi cikal bakal bagi dirinya untuk dapat berkiprah ke tingkatan yang lebih tinggi lagi sebagai penyelenggara pemilu, yakni komisioner KPU.
DI PPK kecamatan, Zainal pun belajar banyak hal. Khususnya tentang aturan sebagai penyelenggara. Sekaligus belajar untuk bekerja profesional dalam menata sistem demokrasi ke depan. ”Disamping sebagai PPK, saya juga juga aktif melakukan berbagai kegiatan sosial dan membentuk kelompok organisasi pemuda di kecamatan Burau seperti KNPI, untuk menggalang generasi muda ke arah yang positif,” terangnya.
Zainal menjadi komisioner KPU Luwu Timur di tahun 2008. Ketika itu namanya berada di urutan ke 6 untuk masa jabatan 2008-2013. Namun, karena ada salah seorang anggota KPU Lutim yang hijrah ke parpol, Zainal akhirnya masuk sebagai komisioner pergantian antar waktu selama kurang lebih lima bulan. ”Kemudian untuk periode selanjutnya, saya terpilih lagi menjadi komisioner KPU. Sampai sekarang untuk masa jabatan 2018-2023 saya dipercaya menjadi ketua KPU Kabupaten Luwu Timur,” tandasnya.
Ditanya tentang suka duka menjadi komisioner KPU Luwu Timur, Zainal menyebut lebih banyak sukanya. ”Sukanya adalah, kita bisa berkolaborasi dengan berbagai pihak mengenai tatanan dan sistem demokrasi. Kemudian kita bisa memahami geopolitik dan kenderungan politik masyarakat. Karena akan sangat susah kita dapatkan hal-hal seperti itu jika kita tidak ada di dalamnya selaku penyelenggara. Oleh karena itu kami di KPU banyak membangun relasi dengan pihak lain di luar KPU. Tujuannya untuk mendukung kesuksesan tugas-tugas kami selaku penyelenggara pemilu,” bebernya.
Sementara dukanya, lanjut Zainal, terkadang ada pekerjaan-pekerjaan tak terduga yang harus diselesaikan pada saat itu sehingga dirinya harus bekerja ekstra diluar jam kerja yang ditetapkan.
”Duka yang lain lagi adalah sulitnya menghadapi orang yang tidak mau menerima penjelasan yang rasional meskipun sudah diberikan penjelasan dengan aturan yang ada. Apalagi orang tersebut sudah terlanjur menjudge kita,” jelasnya.
Selaku penyelenggara yang akan menghelat pesta demokrasi dalam waktu dekat, KPU Lutim saat ini terus melakukan sosialisasi dan pendidikan politik terhadap pemilih. Terutama mengenai pentingnya menyalurkan aspirasi sebagai warga negara yang baik, dan tidak bersikap apatis. (ati)

Komentar Anda





Comments
To Top
.