Metro

Dosen Unismuh Bahas Linguistik Forensik di Kemah Lisabu HPBI Gowa


Dosen Bahasa Indonesia Unismuh Makassar Dr Amal Akbar (kiri) didampingi Ronisalasa pada bincang bahasa yang dilaksanakan pada Kemah Lisabu HPBI Gowa, Rabu malam (28/10).

MALAM datang bersama gigil. Beberapa titik lampu semburat di sela pepohonan pinus Lembanna, Kecamatan Tinggimoncong, Rabu malam (28/10). Peserta Kemah Literasi, Sastra, dan Budaya (Lisabu) Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) Gowa berbenah diri dan berbincang ringan sembari menanti santap malam.

Saat waktu salat Isya berlalu, pelantang suara kembali diaktifkan. Terdengar panggilan panitia agar peserta segera bergabung dalam lingkaran karena diskusi kebahasaan akan dimulai.

Ronisalasa, wakil ketua HPBI Gowa, mengambil tempat di depan spanduk kegiatan. Setelah peserta siap, diundangnya pemantik diskusi untuk hadir dan mengambil tempat di sampingnya. Lelaki agak kurus berambut panjang dengan lampu senter di kepalanya itu lalu duduk. Dirapatkan jaket yang melindungi dirinya dari dingin.

Bersyukur embus angin tidaklah kencang malam itu. Dia diperkenalkan sebagai Amal Akbar, seorang dosen bahasa Indonesia di Unismuh Makassar. Dirinya diundang oleh panitia untuk berdiskusi bersama tentang isu kebahasaan yang menarik saat ini.

Menolak disebut ahli bahasa, Amal memulai pemaparannya dengan terlebih dahulu menyapa peserta Kemah Lisabu, pengurus, dan dewan pakar HPBI Gowa yang hadir. Selanjutnya, Amal dengan lugas membahas tentang peluang para ahli bahasa untuk bekerja secara profesional sebagai saksi ahli pada persidangan yang melibatkan bahasa sebagai barang bukti aduan, atau yang lainnya.

Pada kesempatan tersebut Amal juga ‘menyadarkan’ pengurus HPBI. ”Kita jangan hanya fokus ke kajian linguistik mikro, tetapi juga harus melirik linguistik makro,” ujarnya.

Melanjutkan pembahasan tentang saksi ahli, diskusi berkembang ke arah kajian linguistik forensik, yang oleh sebagian besar masyarakat Indonesia masih agak kurang akrab. Pada ranah ini, ahli bahasa disebutkan bisa menjadi penyelamat bagi terdakwa.

Menanggapi mengenai peluang HPBI Gowa untuk menjalin kerja sama dengan pihak pengadilan atau kejaksaan mengenai saksi ahli ini, Ayatollah, salah seorang dewan pakar HPBI Gowa merekomendasikan agar HPBI mampu mengambil posisi sebagai pencegah agar anak-anak atau remaja tidak sampai terjerat  hukum karena masalah bahasa.

”HPBI Gowa dapat bekerja sama dengan sekolah untuk memberikan pendidikan dan pemahaman mengenai hal tersebut, terlebih dengan diberlakukannya UU ITE,” katanya.

Pernyataan diamini oleh Nurliah yang juga dewan pakar HPBI Gowa. Ia memberi penegasan agar segera dipikirkan teknis mengenai perlindungan dini terhadap peserta didik ini.

Di akhir diskusi, peserta yang hadir bersepakat akan melakukan kajian lebih mendalam tentang linguistik forensik dan peluang yang ada dalam penerapannya. (rls)

Komentar Anda





Comments
To Top
.