Connect with us

Headline

Penyelenggara Lemah!

Peristiwa Berdarah saat Debat, KPU dan Bawaslu Makassar Dikritik

-

Kritik Penyelenggara

Sebelumnya, Komite Pemantau Legislatif (Kopel) Indonesia mengkritik KPU Makassar lantaran memindahkan lokasi debat ke Jakarta.
Dihubungi kemarin, Direktuf Eksekutif Kopel Indonesia Anwar Razak yang dimintai tanggapannya, mengatakan insiden tersebut menunjukkan bahwa di Jakarta juga tidak dijamin aman untuk pelaksanaan debat kandidat. “Justru saya lihat Makassar bisa relatif aman, karena pengamanan bisa dimaksimalkan,” jelas Anwar Razak.
Kopel sudah mempertanyakan kenapa debat mesti di Jakarta. Ini terkait akses publik yang mesti lebih utama dipertimbangkan, karena ada hak setiap orang Makassar di situ. Kopel tegas soal ini karena melihat bahwa tidak alasan membawa debat ini ke Jakarta.
“Kopel sudah mengingatkan pengamanan jauh bisa dimaksimalkan di Makassar ketimbang di Jakarta. Saya tidak tahu apa persiapan KPU Makassar di Jakarta dan dengan siapa mereka berkoordinasi terkait pengamanan. Tapi dengan kejadian penikaman itu menunjukkan KPU Makassar sangat lemah soal pengamanan,” sindir Anwar Razak.
Terkait insiden yang melukai salah satu pendukung pasangan calon, pengamat politik dari Unibos Dr Arief Wicaksono mengemukakan bila inilah yang jadi keprihatinan bersama. Ketika salah satu tahapan debat pilwali Makassar sementara berlangsung, ternyata ada saja pihak-pihak yang ingin mengganggu jalannya proses itu.
”Oleh karena itu, pertama kita harus mendorong agar pihak kepolisian tegas melaksanakan tugasnya dengan segera mendapatkan otak, dan pelaku penikaman yang kalau dilihat dari video CCTV yang beredar adalah sebuah bentuk kejahatan terencana,” ujarnya, kemarin.
Kedua, lanjut Arief, kita harus terus mendukung agar KPU dan Bawaslu bertanggung jawab serta terus memperbaiki kinerjanya. Karena peristiwa itu merupakan cerminan dari lemahnya kinerja penyelenggara.
“Jangan seperti sekarang. Sampai detik ini penyelenggara dan kepolisian diam seribu bahasa, dengan alasan peristiwa terjadi diluar gedung pelaksanaan debat. Padahal, peristiwa itu terjadi, justru pada saat pihak keamanan sedang banyak bertugas,” jelas Arief Wicaksono.
Pengamat politik dari Unhas Dr Ali Armunanto juga mengkritik penyelenggara. “Saya rasa ini pelajaran buat penyelenggara dan pasangan calon. Penyelenggara seharusnya paham bahwa meski acara dilaksanakan di Jakarta, tapi pasti pendukung fanatik akan ikut ke sana. Semestinya disiapkan tempat dan pengamanan yang ketat. Jangan dibiarkan saja berkerumun di sekitar tempat kegiatan dengan pengamanan seadanya,” terangnya.
Untuk pasangan calon, kata Ali Armunanto, sebaiknya memang yang dibawa ke acara debat adalah para pemikir atau thinktank saja. ”Die hard supporternya tidak usah diikutkan, karena tindakan militan seperti ini biasanya bukan dilakukan oleh thinktank, tapi die hard supporter,” jelas Armunanto. (jun-rhm)

Laman: 1 2 3

Share

Komentar Anda


Populer Minggu ini