Metro

Teliti Pasang ri Kajang, Wakasek SMPN 21 Makassar Raih Doktor di UNM


Wakasek SMPN 21 Anis Marlina mempertahankan disertasinya pada promosi doktor di Selasa (17/11) di Aula Lantai 5 Gedung PPs UNM, Selasa (17/11).

MAKASSAR, BKM — Pasang ri Kajang merupakan falsafah hidup komunitas masyarakat adat Ammatoa di Kabupaten Bulukumba, yang berfungsi mengatur segala aspek kehidupan warganya dalam pergaulan hidup sehari-hari sepanjang hidupnya.

Pasang ri Kajang adalah kalimat atau ungkapan berisi nasihat atau petuah dan disampaikan dari mulut ke mulut. Merupakan pencerahan atau penuntun hidup bagi masyarakat Ammatoa.

Hal itu diungkap Anis Marliana ketika mempertahankan disertasinya berjudul Nilai, Fungsi, dan Makna Pasang ri Kajang sebagai Representasi Kearifan Lokal Masyarakat Ammatoa Kajang di Kabupaten Bulukumba (Kajian Hermeneutika), Selasa (17/11) di Aula Lantai 5 Gedung Program Pascasarjana (PPs) UNM.

Ujian promosi doktor dipimpin Prof.Dr.Anshari,M.Hum., dengan anggota Prof.Dr.Muhammad Rapi Tang,MS., Prof.Dr.Johar Amir,M.Hum., Prof.Dr. Achmad Tolla,M.Pd., Prof.Dr.Ramly,M.Hum., dan Dr. Munirah, M.Hum.

Anis Marliana yang juga wakil kepala sekolah di SMP Negeri 21 Makassar tertarik meneliti, karena Pasang ri Kajang sarat pendidikan karakter, memiliki nilai kearifan lokal, dan perlu ditafsir maknanya agar masyarakat memahami kandungan nilai, fungsi, dan maknanya dengan baik.

Temuan riset disertasi menunjukkan nilai kearifan lokal Pasang ri Kajang berupa nilai religius, pendidikan, dan sosial. ”Nilai religius seperti sambayang tangatappu je’ne talluka (sembahyang yang tidak putus dan wudhu yang tidak batal). Mengingat secara terus-menerus di dalam hati. Jadi, tidak gerakan secara hakikat namun dengan kedalaman hati,” tutur Anis.

Nilai pendidikan seperti nikasipalliangngi ammanra’-manraki borong (dipantangkan merusak hutan). Mengatur warga Ammatoa agar tidak merusak hutan. Pendidikan hukum dan lingkungan hidup sangat penting.

”Nilai sosial seperti a’lemo sibatu a’bulo sipappa (seperti sebuah jeruk dan sebatang bambu). Menjaga hubungan sosial kemasyarakatan. Masyarakat Ammatoa selalu menjaga persatuan dan kesatuan kuat dan kokoh,” tambahnya.

Seusai menjawab sanggahan dan bantahan tim penguji, Anis Marliana dinyatakan lulus dengan IPK 3,94 dan predikat kelulusan sangat memuaskan.

Prof.Dr.Anshari,M.Hum selaku promotor sangat salut dan bangga atas raihan prestasi seorang guru yang berjuang gigih meraih gelar akademik tertinggi di kolong langit ini.

Guru Besar FBS dan Wadir III PPs, menilai topik disertasi yang mengungkap nilai kearifan lokal sangat bermanfaat bagi masyarakat di tengah ancaman peradaban modern. ”Kajian ini sebagai benteng pertahanan budaya lokal dari serangan budaya asing. Selain itu, dapat dijadikan sebagai materi pendidikan karakter,” ujarnya. (rls)

Komentar Anda





Comments
To Top
.