Gojentakmapan

Pedagang Pasar Allu Tidak Kebagian Lapak


Gegara tidak Diberikan SK oleh Kadis Koperindag Jeneponto

JENEPONTO, BKM — Pedagang pasar di Pasar Allu mengajukan protes. Pasalnya, sebelum dilakukan rehabilitasi bangunan Pasar Allu di Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto, mereka memiliki lapak. Namun setelah bangunan pasar tersebut selesai direhabilitasi, ada di antara mereka yang tidak kebagian lapak.
Dia tidak kebagian lapak lantaran tidak diberikan surat keterangan (SK) dari Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Koperindag) Jeneponto, Muh Jafar dengan alasan semua lapak yang telah disiapkan untuk pedagang Pasar Allu, sudah ada pemiliknya masing-masing alias sudah full.
Salah satu pedagang lama di Pasar Allu yang tidak kebagian lapak, Astira Asis, menuturkan, dari awal pendataan namanya tetap muncul bersama nama-nama yang akan mendapatkan lapak. Begitu pula pada pendataan kedua dan ketiga, namanya tetap muncul.
”Namun saat mau penyerahan SK dari Dinas Koperindag Jeneponto, nama saya hilang entah kenapa. Saya rasa ini ada dugaan permainan dan saya tidak akan terima. Tidak mungkin orang baru langsung mendapatkan lapak. Sedangkan saya pedagang yang sudah lama membayar pajak di dalam, malah tidak dapat lapak kan. Ini tidak adil kalau begitu,” cetus Astira Asis.
Kepala Dinas Koperindag Jeneponto, Muh Jafar saat ditemui di ruangan kerjanya terkait dengan adanya keluhan pedagang tersebut. Kalau memang mereka memberikan informasi yang berbeda antara kepala pasar yang lalu, Asdar dengan Kepala UPTD Pasar Allu, Ramli Ruba.
”Nanti kita akan lakukan penelusuran dan pemutakhiran data melalui kepala pasar yang lalu dengan kepala pasar yang sekarang. Karena yang ketahui itu data sebenarnya adalah kepala pasar yang lama, yaitu Asdar. Dia menjabat sebagai kepala Pasar Allu sudah bertahun-tahun,” jelas Muh Jafar.
Ditambahkan, wajar kalau kepala pasar yang sekarang tidak tahu kalau ditanya terkait pendataan pembagian lapak. Karena yang mendata itu adalah kepala pasar yang lalu Asdar.
”Jadi lebih bagus kalau bisa kita pertemukan supaya informasi yang kita dapatkan akurat dan berimbang. Kami selaku pimpinan hanya sebatas menerima data dari petugas pasar tersebut yang sudah diparaf secara berjenjang untuk disepakati. Kami tidak mungkin turun ke akarnya kalau tidak ada data dari petugas pasar itu sendiri. Kalau memang ada begini kami akan secepatnya sikapi. Karena semua masalah ada solusinya. Ini hanya seperti paku yang bengkok tidak susah diluruskan. Benang kusut saja bisa diurai,” tuturnya.
Masih kata dia, terkait pemanfaatan lapak untuk pedagang, tentu mengacu pada data. Kemudian dilihat mana pedagang yang sadar dengan kewajibannya, walau pun pedagang lama kalau tidak sadar dengan kewajibannya, biasanya dievaluasi.
”Karena banyak pedagang yang merepotkan petugas yang suka berjanji dengan kewajibannya, main kucing-kucingan sama petugas pasar,” katanya.
Tapi itu hanya persolan mental. Tidak ada yang bisa disalahkan. Karena ini hanya karakter. Bukan hanya di Pasar Allu, tapi hampir semua pasar perilaku sebagian oknum seperti itu. Jadi tidak semuanya. Hanya segelintir orang yang memang mentalnya seperti itu tapi selalu di warnai ada kejadian seperti itu di setiap pasar.
Ramli Ruba selaku UPTD Pasar Allu saat dikonfirmasi menambahkan, dirinya juga tidak tahu siapa yang layak dapat lapak dan siapa yang tidak layak. Hanya kepala pasar lalu yang tahu, yaitu Asdar. Karena dia yang mendata sebelumnya.
”Saya kan sempat jadi pelaksana di sana selama tiga bulan tapi tidak pernah ada muncul seperti ini, nanti saya lepas pelaksana di Pasar Allu baru ada muncul seperti ini,” ungkapnya.
Di tempat yang sama, mantan kepala pasar yang lama, Asdar, menjelaskan, terkait sebagai mantan kepala Pasar Allu yang lama, saat pendataan yang bersangkutan (Astira Asis) memang ada namanya di pendataan pertama bahkan sampai pendataan ketiga.
Namun setelah pembagian SK lapak kepada para pedagang, bukan dirinya lagi yang berwenang.
”Saya juga heran kenapa tidak ada lagi namanya Astira Asis. Padahal, dia memang pedagang yang sah disitu. Dan ada lapaknya dibongkar. Inilah yang membuat juga saya bingung dan heran, tidak mengerti ada apa, dan mengapa bisa terjadi,” tandasnya. (krk/b)

Komentar Anda





Comments
To Top
.