Headline

Basah Kala Hujan, Kadang Tunggu Murid Terbangun


Kisah Ibu Guru Magfirah Mengajar Murid di Tengah Pandemi

IST JAGA JARAK-Ibu guru Magfirah mengajar muridnya yang berdekatan tempat tinggal di salah satu rumah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, seperti menjaga jarak dan mengenakan masker.

SINJAI, BKM — Pandemi covid-19 telah berlangsung sejak bulan Maret. Hingga kini, angka positif masih terus bertambah. Kegiatan belajar mengajar masih berlangsung secara daring, walau ada di antaranya yang melakukan secara tatap muka.

Seperti yang dilakoni Magfirah. Guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) 196 Mangasa, Kecamatan Bulupoddo, Kabupaten Sinjai ini. Ia tidak bisa menyampaikan materi ke para muridnya secara virtual, karena tidak semua dari mereka memiliki gawai.
Kalaupun ada yang punya handphone, mereka menghadapi kendala jaringan internet. Magfirah pun harus mencari cara agar murid-muridnya bisa tetap mengikuti pembelajaran di tengah keterbatasan yang ada.
Salah satu solusi yang mesti ditempuh adalah mengunjungi rumah murid-muridnya satu persatu. Setiap hari, terkecuali hari Minggu, Magfirah harus menempuh jarak kurang lebih 2 km dari sekolah ke rumah anak didiknya.
Jika akses jalan ke rumah muridnya bisa dilalui kendaraan roda dua, seperti berada di pinggir jalan, ia menggunakan sepeda motor. Namun, bila tak dapat dicapai dengan motor, ia harus rela berjalan kaki sejauh kurang lebih 500 meter.
Kondisi lebih parah akan ditemuinya kala musim penghujan tiba seperti saat ini. Bu guru Magfirah mesti membekali diri dengan membawa payung ketika berkunjung ke rumah muridnya. Namun alat itu tak mampu melindungi dirinya secara utuh dari air hujan. Akibatnya, tak jarang ia harus berbasah-basah terkena tetes air yang terbawa angin.
”Tapi setidaknya tidak terlalu basah-basah ketika sampai ke rumah murid. Namanya juga payung, kan,” tuturnya, kemarin.
Biasanya, lanjut Magfirah, ketika sampai ke rumah muridnya, ia selalu memperingatkan mereka untuk mematuhi protokol kesehatan saat pembelajaran tatap muka berlangsung, seperti memakai masker dan menjaga jarak.
”Untuk yang rumahnya berdekatan, biasanya saya mengumpulkan mereka di satu rumah dengan tetap mematuhi protokol kesehatan,” ucap Magfirah.
Tidak hanya kendala jalan rusak yang ditemui Magfirah. Namun terkadang ia biasa mendapati ada muridnya yang belum bangun ketika dirinya datang untuk mengajar. Akibatnya, sang guru harus menunggu beberapa menit untuk memulai pemberian materi. Karena dirinya mesti berburu dengan waktu agar bisa mengunjungi rumah muridnya yang lain.
Sebagai seorang guru dan ibu rumah tangga dengan lima orang buah hati, Magfirah harus pintar-pintar membagi waktu antara keduanya. Sebelum berangkat mengajar, ia terlebih harus mempersiapkan segala keperluan suami dan anak-anaknya.
Karenanya, ia berharap pandemi ini bisa segera berlalu. Covid-19 bisa segera teratasi sehingga proses belajar mengajar dapat kembali normal dengan kebiasaan baru. Guru dapat berjumpa dengan muridnya di dalam kelas. (pkl)

Komentar Anda





Comments
To Top
.