Connect with us

Event

Mariana Ubah Pola Pikir Keluarga dan Masyarakat Tentang Seksual

-

KOMUNIKASI -- Mariana sedang berkomunikasi dengan salah seorang remaja putera tentang materi edukasi yang diberikan.
SEJAK dari dulu hingga sekarang, banyak orangtua begitu tertutup atau merasa tabu ketika membicarakan masalah seksual kepada anaknya. Bahkan, mereka terkadang memarahi anaknya ketika si anak bertanya tentang sesuatu yang berbau seksual. Bagi mereka, anak yang di bawah umur belum pantas bicara soal seksual. Karena mereka kuatir itu akan memengaruhi perkembangan psikologis anaknya.
Padahal, tanpa mereka sadari, dengan ketertutupan mereka berbicara tentang masalah seksual kepada anaknya, ditambah lagi minimnya informasi yang didapatkan seorang anak tentang masalah kesehatan seksual, sehingga terkadang mereka menjadi korban pelecehan.
Kenyataan ini menggugah Mariana Yunita Hendriyani Opat untuk menjadikan sesuatu yang tabu dibicarakan baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat jadi tidak tabu lagi.
Bagi Tata, begitu Mariana Yunita Hendriyani Opat akrab disapa, edukasi tentang seksual ini terutama dari sisi kesehatannya sangat penting untuk dibicarakan di kalangan anak-anak dan remaja. Informasi tentang kesehatan seksual ini adalah informasi paling fundamental yang sebenarnya harus diberikan kepada anak-anak dan remaja.
Karena kesehatan seksual itu sendiri tidak hanya bicara soal organ reproduksi. Tapi juga bicara banyak hal. Misal tentang bagaimana anak-anak dan remaja ini bisa menjaga dan merawat organ reproduksinya, bisa mencintai dirinya, dan juga mereka bisa membentuk relasi yang sehat dengan orang-orang di sekelilingnya,
Terus terkait bagaimana mereka bisa mempersiapkan kehidupan berkeluarga mereka nantinya. Nah, lewat edukasi kesehatan seksual ini, teman-teman bisa menciptakan kehidupan yang lebih baik nantinya. Karena lewat salah satu penelitian di Amerika, remaja yang mendapatkan akses informasi atau edukasi tentang kesehatan seksual ini bisa lebih mencegah diri mereka dari perilaku seksual yang berisiko.
”Untuk hal tabu, biasanya kami membawanya pada hal-hal di lingkungan tempat tinggal anak dan remaja, Terus, jangan lupakan orangtua atau keluarga adalah ring nomor satu bagi anak dan remaja sasaran kita. Jadi mereka harus dilibatkan. Mereka harus diberikan juga penjelasan tentang mengapa ini penting, Atau kenapa orangtua sangat penting sekali partisipasinya dalam edukasi seksual,” tutur Tata, Kamis, 26 November 2020.
Bentuk Bacarita Kespro
Di kalangan anak-anak dan remaja di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Tata adalah sosok pribadi yang supel dan hangat. Karena sosoknya inilah sehingga dia dapat merangkul teman-temannya yang punya visi dan misi yang sama untuk membentuk komunitas.
Pada 30 Agustus 2016, Tata membentuk komunitas yang diberi nama Tenggara Youth Community. Dari komunitas inilah lalu menghadirkan program yang diberi nama Bacarita Kespro. Bacarita sendiri diambil dari bahasa Melayu Kupang yang berarti Bercerita. Sedangkan Kespro adalah Kesehatan Reproduksi. Jadi Bacarita Kespro ini adalah bercerita tentang kesehatan reproduksi.
Dari Bacarita Kespro ini diberikan informasi dan edukasi terkait hak kesehatan seksual dan reproduksi kepada anak dan remaja. Jadi mereka diajarkan bagaimana merawat diri mereka, mencintai diri mereka, kemudian bagaimana bisa membantu teman-teman mereka yang mengalami kesulitan dan tindak kejahatan yang terkait dengan kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual.
Dalam menjalankan program edukasi kesehatan seksual ini tidak saja menyasar kepada anak dan remaja perempuan, tapi juga anak dan remaja lakilaki, bahkan gender lainnya. Mereka yang menjadi objek dari edukasi ini berasal dari kelompok poor atau miskin, marginal atau terpinggirkan, social excluded atau mereka yang dikeluarkan dari lingkungan sosialnya, dan secara underserved atau tidak pernah dilayani.
Tata mengakui, sebagian besar dari remaja di Nusa Tenggara Timur tidak memiliki akses terhadap sumber informasi pendidikan seksual. Apalagi kalau dalam keluarga tidak ada komunikasi antara orangtua dan anak terkait kesehatan reproduksi ataupun kesehatan seksual.
Sehingga membuat anak dan remaja rentan menjadi korban pelecehan seksual maupun kehamilan di luar pernikahan. Nah, ketika mereka mengalami kehamilan di luar pernikahan, otomatis mereka akan dikeluarkan dari sekolah. Kondisi ini tentu membawa dampak cukup besar kepada anak dan remaja tersebut. Karena di satu sisi, mereka harus menanggung kehamilan, juga mereka harus merasakan kenyataan pahit dikeluarkan dari sekolah.
Kegigihan Tata untuk terus memberi edukasi kepada kalangan anak dan remaja di Nusa Tenggara Timur terkait masalah seksual, dilatarbelakangi pengalaman buruk yang pernah dialaminya. Dia pernah menjadi korban pelecehan ketika masih kecil. Anehnya oleh masyarakat di sekitarnya menganggap hal itu biasa-biasa saja.
”Kalau misalkan saya, mungkin masih bisa bangkit dan move on. Kemudian bisa tetap hidup, tetap baik, dan tetap kuat. Tapi bagaimana dengan teman-teman yang mengalami hal sama dengan saya. Atau hal lebih buruk dari yang saya alami, tapi kemudian mereka tidak bisa bangkit. Kemudian mereka didiskriminasi, mereka distigma, serta mereka dikucilkan dari lingkungannya. Nah mereka itu harus bagaimana,” ujar Tata.
Saat ini, Bacarita Kespro sedang membuat kerjasama dengan Puskesmas atau Polides untuk bisa menjadi tempat anak atau remaja di desa tersebut dapat mengakses layanan terkait kesehatan seksual.
Ciptakan Metode Pembelajaran Sendiri
Dalam melakukan komunikasi kepada para anak dan remaja, Tata menerapkan pola komunikasi dua arah. Dimana, dia bersama temannya di Tenggara Youth Community menciptakan metode pembelajaran tersendiri. Sehingga, anak dan remaja tersebut tidak merasa digurui.
”Ketika melakukan edukasi, kami tidak melakukannya secara satu arah. Misal anak-anak dikasi informasi terus mereka ditanya apa ada yang mau ditanyakan. Kalau mereka menjawab tidak, maka selesailah sosialisasinya. Kami tidak ingin seperti itu. Kami ingin ada komunikasi dua arah. Metode yang kami lakukan itu kami ciptakan sendiri. Jadi ada urutannya. Misal pembukaan pakai game atau display, ada komunikasi dan diskusi dengan anak atau remaja. Jadi itu kami buat alat peraganya. Misal terbuat dari karton dan lain-lain. Sehingga anak-anak itu selalu
mengeluarkan pendapat mereka. Jadi nanti kami diskusikan kira-kira yang mereka pikirkan atau mereka lakukan itu benar atau tidak. Atau seharusnya seperti apa gitu,” ungkap Tata.
Awal melakukan kegiatan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi ini,  Tata lebih banyak di Kota Kupang. Tapi kemudian keluar ke tempat lainnya. Seperti ke Desa Neke, Kabupaten Timor Tengah Selatan, ke Tuatuka di Kabupaten Kupang, ada juga ke Pulau Kera. Ini adalah sebuah pulau kecil dekat kota Kupang. Untuk ke sananya harus ditempuh dengan naik perahu. Pernah juga ke Padadita di Sumba Timur.
Belajar dari Buku
Kepiawaiannya dalam memberikan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi kepada anak dan remaja, ternyata tidak didapatkan dari bangku kuliah. Melainkan dari membaca buku-buku yang dibelinya. Sebelumnya, Tata bergabung di satu komunitas remaja di salah satu LSM di kota Kupang
”Selain dari membaca buku, saya juga mendapatkan pengetahuan dari kegiatan di LSM ini. Kemudian saya ikut pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan sejumlah lembaga. Misal Komisi Penanggulangan AIDS, kemudian dari komunitas-komunitas lain baik yang ada di NTT maupun dari luar NTT,” tambah Tata.
Dalam melakukan edukasi seksual kepada anak dan remaja, Tata tidak mendapatkan pendampingan dari pihak medis. Misal dokter kandungan.
”Tapi dari beberapa kali pelatihan itu ada beberapa kenalan kami dokter, jadi pasti mereka juga ikut memberikan informasi. Ada juga kayak talkshow dengan teman-teman dari BKKBN. Ada duta genre itu kami juga libatkan. Mereka memfasilitasi edukasi kesehatan seksual,” terang Tata.
Untuk mencapai hasil maksimal dari edukasi ini, Tata menerapkan sistem keberlanjutan. Artinya, dia dan teman-temannya tidak hanya datang sekali memberi edukasi ke suatu kelompok atau komunitas. Mereka bisa datang dua hingga tiga kali. Begitu pula ketika terjadi halangan, maka mereka tetap melakukan komunikasi. Jika ada informasi tentang kesehatan seksual atau reproduksi, maka informasi itu akan diteruskan atau diforward ke pendampingnya.
Keberhasilannya dalam menjalankan kegiatannya tidak terlepas dari sistem kerja yang diterapkan. Yakni dengan melakukan kolaborasi. Dimana, selalu menggaet komunitas lain yang kegiatannya senantiasa bersama remaja. Jadi kalau misal ada hal-hal yang perlu disampaikan, biasanya langsung ke komunitas yang sudah biasa dihubungi.
Atasi Berbagai Tantangan
Kegiatan edukasi masalah kesehatan seksual dan reproduksi yang dilakukan Tata bersama teman-temannya, ternyata juga menghadapi beragam tantangan.
Ketika memutuskan untuk terjun memberikan edukasi masalah seksual kepada anak dan remaja, tantangan terberat yang dirasakannya adalah bagaimana membangun kepercayaan dari orangtua atau pendamping dan juga anak serta remaja untuk tahu dan faham isu terkait kesehatan seksual dan reproduksi.
”Jadi inilah tantangan terberat yang kami rasakan ketika mulai merintis program edukasi masalah seksual dan reproduksi. Karena ini adalah isu yang baru serta isu yang tabu. Namun semuanya dapat kami atasi dengan kerja secara berkolaborasi untuk memberi pemahaman tentang manfaat yang akan didapatkan dari kegiatan edukasi ini,” tutur Tata.
Tantangan berat lainnya yang dirasakan Tata dalam melakukan edukasi saat ini adalah dengan hadirnya pandemi virus Corona atau Covid-19. Pasalnya, dengan pandemi Covid-19, semua kegiatan harus berpatokan pada protokol kesehatan. Mulai dari menggunakan masker, mencuci tangan yang bersih, menjaga jarak (physical distancing), dan menghindari kerumunan (social distancing). Apalagi Kupang masuk dalam zona hitam.
”Selama masa pandemi Covid-19, kami memilih tidak melakukan kegiatan di Kota Kupang maupun luar Kupang. Takutnya ada terjadi apa-apa. Apalagi Kota Kupang masuk dalam zona hitam.
Agar edukasi ini tetap berjalan, maka kami melakukan sosialisasi secara online. Biasanya diskusi via whatsapp, ada Bacarita Kespro via live IG (Instagram). Kami juga tetap membagi informasi melalui Facebook, Instagram, zoom, dan fasilitas lainnya. Dengan edukasi secara online ini bukannya tanpa hambatan juga. Karena target kita adalah kebanyakan anak-anak dan remaja di desa. Dimana, listrik saja ada yang tidak ada, akses internetnya cukup susah. Tapi kemudian bagaimana informasi bisa tetap sampai kepada mereka. Itu semua menjadi tantangan bagi kami. Jadi kami sekarang berfikir dan berbuat bagaimana informasi itu bisa sampai kepada mereka,” jelas Tata.
Menurut Tata, keberhasilannya melakukan edukasi seksual seperti sekarang, pastinya tidak terlepas dari support voluter Tenggara. Voluter Tenggara merupakan pihak pertama yang sangat mendukung dan mensukseskan kegiatan edukasi ini. Karena mereka yang mau memberikan waktu dan tenaga serta pikirannya untuk memberikan edukasi ini kepada remaja dan anak-anak.
Kedua, mendapatkan bantuan dan dukungan dari komisi penanggulangan AIDS Provinsi NTT juga dari komisi penanggulangan AIDS Kota Kupang, BKKBN. Dan saat ini bekerjasama atau berkolaborasi dengan Woman for Indonesia. Kegiatan edukasi ini  juga mendapat dukungan teman-temannya dari International Youth Alliance for Family Planning, dan beberapa kolaborasi dari lembaga internasional lainnya.
Semangat Tata untuk terus mengedukasi anak dan remaja di NTT tentang kesehatan seksual dan reproduksi akan terus bergelora. Apalagi, aktivitasnya ini mendapat dukungan serta support dari orangtuanya.

Laman: 1 2

Share

Komentar Anda

Populer Minggu ini