Metro

Brandon Dg Naba, Mahasiswa Asing Asal Australia Presentasi Hasil Riset di PPs UNM


Brandon Stuart Marshall Dg Naba mempresentasikan hasil riset disertasinya secara virtual, Rabu (2/12). Sejumlah 22 peserta, termasuk dari luar negeri mengikuti pemaparan Brandon.

MAKASSAR, BKM — Brandon Stuart Marshall, mahasiswa asing asal Australia mempresentasikan  hasil riset disertasinya untuk memeroleh gelar doktor dalam bidang Pendidikan Bahasa Inggris, Program S3 pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (PPs UNM), Rabu (2/12) secara virtual.

Brandon memaparkan risetnya dengan judul An Ecological Description of Multilingual Language Use Among The Makassar People of South Sulawesi (Deskripsi Ekologis Penggunaan Bahasa Multilingual di Antara Masyarakat Makassar di Sulawesi Selatan). Riset ini bertujuan menerapkan perspektif ekologis dalam menggambarkan bagaimana bahasa digunakan oleh masyarakat Makassar di Sulawesi Selatan.

Riset Dg Naba, nama panggilan suku Makassar Brandon yang disematkan oleh masyarakat tempat lokasi bermukim sekaligus lokasi risetnya di Sampulungan, Kabupaten Takalar, menggunakan desain kualitatif etnografis. Data diperoleh dari observasi partisipan, wawancara, diskusi kelompok terpumpun, dan perekaman penggunaan bahasa secara alami. Data kuantitatif digunakan melalui survei sosiolinguistik berskala kecil.

Hasil riset Brandon Dg Naba menunjukkan bahwa, pertama, masyarakat pedesaan Makassar secara  komunikatif dwibahasa, yaitu mereka berbahasa Indonesia dan bahasa Makassar. Masyarakat mencampurkan kedua bahasa tersebut dalam berbagai cara untuk mencapai tujuan komunikasi yang berbeda dan mencerminkan identitas sebagai orang Indonesia dan Makassar. Ditemukan pula bahwa topik lebih penting daripada lawan bicara dalam menentukan pilihan bahasa yang digunakan sesama warga desa.

Kedua, lebih spesifik ditemukan bermacam bahasa yang digunakan masyarakat pedesaan Makassar pada waktu dan keadaan berbeda. Jenis bahasa yang dipakai, yaitu bahasa Indonesia baku, bahasa lokal (bahasa Indonesia-Makassar), bahasa Makassar baku, bahasa umum, dan bahasa Arab klasik.

Ketiga, dalam konteks kehidupan keagamaan masyarakat Makassar ikut diperhitungkan. Mereka termasuk dwibahasawan, meskipun penggunaan bahasa Arab terbatas dibandingkan bahasa Indonesia dan Makassar. Bahasa Makassar merupakan bahasa utama dalam ceramah takziah.

Keempat, dalam perspektif literasi, masyarakat Makassar memiliki warisan yang kaya berhubung sejarah kerajaannya ditulis aksara lontarak dan teks keagamaan ditulis aksara serang. Namun, dewasa ini, literasi dikuasai bahasa Indonesia.

Kelima, masyarakat Makassar umumnya hidup dengan etika multibahasa yang adil. Mereka memiliki sikap positif terhadap semua bahasa dalam ekologi bahasa mereka. Kebanggaan etnis dan transmisi antargenerasi Makassar tetap kuat di pedesaan yang bertanda baik bagi pelestarian berkelanjutan bahasa Makassar.

Brandon Dg Naba bermukim di lokasi riset selama kurang lebih 5 tahun. Penulisan disertasi dibimbing oleh promotor Prof Drs. Muhammad Basri, MEd,Phd. dan kopromotor Prof Dr Anshari,MHum dan Prof Dr Jasruddin,MSi. Dalam seminar hasil penelitian Brandon, bertindak sebagai penguji Prof Murni Mahmud,MEd,PhD dan Amirullah,MEd, PhD.

Seminar hasil penelitian ini semakin istimewa, karena diikuti oleh beberapa  profesor dari luar negeri, seperti Inggris, Amerika, dan Australia. Ketua Prodi S3 Pendidikan Bahasa Inggris Prof Drs Muhammad Basri,MEd,PhD sangat bangga karena hadir Prof Dr Rev Mark Garner sebagai pakar ekologi linguistik dari Roehampton.

“Sejumlah 22 orang peserta mengikuti seksama pemaparan riset Brandon Dg Naba. Kehadiran pakar dari mancanegara membuktikan bahwa riset ini sangat berkualitas,” puji Prof Basri.

Prof Basri semakin antusias dan bersemangat untuk menjadikan prodi yang dipimpinnya terakreditasi  internasional. Belum cukup setahun meraih akreditasi nasional A dari BAN PT, Prof Basri segera mengusulkan untuk meraih akreditasi internasional. (rls)

Komentar Anda





Comments
To Top
.