Gojentakmapan

Kepala Pasar Klaim Poduksi Tempe Normal


Di Balik Kenaikan Harga Kedelai

GOWA, BKM — Pandemi Covid-19 yang masih melanda sampai saat ini, telah membuat semua sektor perekonomian mengalami inflasi. Semua usaha terjepit. Salah satunya adalah usaha tempe tahu.

Karena harga kedelai mengalami inflasi, maka para pelaku usaha makanan olahan kedelai ini pun kesulitan bahan baku. Kini harga kedelai naik menjadi Rp9.600 per kilogram dari semula hanya Rp7.000 per kilogram.

Seperti diakui Suarni, salah satu pengusaha tempe tahu rumahan, dirinya terpaksa harus menaikkan harga produksi tahu dari Rp70.000 menjadi Rp75.000 per ember kepada para pedagang kaki lima alias pengecer tahu tempe.

”Saya naikkan harga karena harga kedelai juga naik,” kata Suarni saat dihubungi, Minggu sore (3/1).

Suarni mengatakan, bahan baku kedelai yang dia pakai untuk diolah menjadi tahu dan tempe biasanya sebanyak 750 kilogram per hari. Namun, sejak bulan lalu (Desember 2020) bahan baku yang digunakannya menurun hingga 400 kilogram per hari.

”Saat ini saya hanya bisa memenuhi bahan baku kedelai sebanyak 400 kilogram per hari. Saya tidak bisa menggunakan hingga 750 kilogram. Sebab harga kedelai mahal,” jelas Suarni yang menetap di Jalan Swadaya, Kelurahan Tompobalang, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.

Suarni yang memiliki empat orang karyawan ini mengaku terpaksa akan menutup usaha tempe tahunya bila kondisi harga kedelai terus menerus mengalami kenaikan.
”Saya pasti akan tutup usaha saya ini jika harga kedelai menembus Rp10.000 per kilogram. Ini sudah sangat mahal. Tentu saya tidak akan sanggup menggaji empat karyawan saya karena keuntungan tidak ada. Biaya produksi akan lebih tinggi,” kata Suarni.

Terpisah, Kepala Pasar Induk Minasamaupa Sungguminasa, Zainuddin Langke yang dikonfirmasi terkait naiknya harga kedelai di pasaran, Senin (4/1), mengakui, tempe mulai berkurang di pasar sejak 31 Desember 2020 lalu.

Berkurangnya tempe dan tahu tersebut di pasaran lantaran sejak akhir tahun 2020 tersebut rerata pengusaha tempe ikutan libur.
”Jadi pengusaha tempe juga turut istrahat hingga tiga hari mulai tanggal 31 Desember, 1 dan 2 Januari juga libur. Proses pembuatan tempe itu tiga hari dan mereka juga libur. sehingga produksi tempe tahu di pasar makin berkurang. Tapi kurangnya itu bukan berarti langka. Tempe tetap ada cuma produksinya saja yang kurang. Jadi tidak langka meski harga kedelai naik,” kata Zainuddin Langke.

Diakui, kenaikan harga kedelai juga tidak terlalu signifikan. Sehingga tetap ada produki tempe dan tahu. Apalagi di Gowa bukan cuma satu dua orang pengusaha tempe.

”Jadi mulai besok, produksi tempe akan normal kembali karena para pengusaha tempe tahu kembali eksis berproduksi,” kata Zainuddin Langke. (sar)

Komentar Anda





Comments
To Top
.