Headline

Lantunkan Ayat Suci Al-Qur’an Kala Lapar tak Punya Makanan


Lagi, Kisah Pilu Ibu yang Ditinggal Merantau Anaknya

BULUKUMBA, BKM — Satu lagi kisah pilu tentang seorang ibu. Kali ini karena ditinggal merantau oleh anak-anaknya. Ia kini seorang diri di sebuah gubuk yang sebenarnya tak layak huni. Sesuatu yang sangat menyentuh pun kerap dilakoninya.

DUSUN Pa’lipungan, Desa Bajiminasa, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba. BKM berkunjung ke daerah ini, Minggu (10/1). Bermaksud menemui seorang nenek yang kondisi hidupnya sangatlah memprihatinkan.
Tempat tinggalnya berupa gubuk yang sebagian di antaranya sudah nyaris rubuh. Lantainya masih tanah. Di bagian tengah terdapat tikar plastik yang melapisi. Sementara di dapur dan tempat cuci piring, semuanya berlantai tanah. Atap sengnya sudah bocor di mana-mana. Di sinilah Nenek Sattimah tinggal. Ia akrab disapa Nek Tima.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, Nek Tima biasanya dibantu oleh para tetangganya. Dua orang anaknya pergi merantau sejak puluhan tahun silam. Satu ke Kalimantan, dan satunya lagi ke Negeri Jiran Malaysia.

Dari sejumlah sumber dan penelusuran lainnya, diperkirakan Nek Tima saat ini sudah berusia sekitar 104 tahun. Hal itu mengacu pada ingatan masa kanak-kanak yang tuturkan. Namun, jika menilik raut wajahnya yang masih awet muda, umurnya berkisar 80-an tahun.
Hanya saja, ketika berkisah tentang perjalanan hidupnya dari kecil, setidaknya Nek Tima berusia jauh melampaui angka 80-an. Peristiwa zaman Hindia-Belanda masih terekam kuat dalam memorinya.
Sebe
Nek Tima pernah melakoni profesi sebagai guru mengaji di kampungnya. Ia melakukannya dengan ikhlas tanpa memungut bayaran. Dia mengaku sudah pernah mendapat bantuan. Beberapa di antaranya dari BAZNas Bulukumba.
Ada satu hal yang cukup mengharukan ketika ia ditanya soal apa impiannya suatu hari kelak. ”Saya ingin punya rumah yang layak sebelum meninggal,” tuturnya.
Nek Tima lalu bercerita tentang kesulitan sehari-hari yang dihadapinya terkait kebutuhan makanan. Namun dirinya tak pernah mengeluh. Sebaliknya, hal yang sangat menakjubkan dilakukannya. Setiap kali dirinya merasa lapar dan tidak satupun yang bisa mengganjal perutnya, Nek Tima lalu melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Dia memperbanyak mengaji.
Hidup sebatang kara dengan kondisi yang memprihatinkan tidak membuatnya berputus asa. Ia tetap berusaha mensyukuri apa yang diberikan Allah Swt kepada dirinya.
Ditanya tentang anak-anaknya yang merantau ke negeri seberang, Nek Tima mengaku sangat merindukan mereka. Anaknya yang bernama Aci merantau ke Kalimantan. Sedangkan anaknya yang bernama Aco mengadu nasib di Malaysia. Kedua anaknya sudah lama berkeluarga.
Nek Tima mengungkapkan anak-anaknya juga biasa mengirimkan uang. Walaupun jumlahnya sedikit, dia tetap bangga dan bersyukur. (min/b)

Komentar Anda





Comments
To Top
.