Bisnis

Kementan Ungkap Penyebab Ketergantungan Kedelai Impor


JAKARTA, BKM — Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) RI, Suwandi, mengungkapkan penyebab di balik ketergantungan RI terhadap kedelai impor. Salah satu penyebabnya adalah karena produktivitas produksi kedelai dalam negeri yang belum mampu mencapai target potensinya.
Tahun ini, pemerintah berencana meningkatkan produksi kedelai dalam negeri, yakni hingga mencapai 325 ribu hektare. Tapi lahan seluas itu hanya mampu memproduksi sebanyak 1,5 juta ton kedelai. Sedangkan sebenarnya RI bisa memproduksi hingga 3,5 juta ton kedelai.
”Dengan tanam 325 ribu hektare, produktivitas sekitar 1,5 juta ton di bawah potensi. Memang potensi riset Litbang yang dirilis itu bisa 3,5 juta ton, baik itu varietas Rajabasa, Agropuro, Malika, Baluran, Usowei ini yang varietas baru itu yang didorong sehingga bisa memasok produksi 1,5 ton per hektare bisa masuk 500 ribu ton sampai panennya bulan 9,” ungkap Suwandi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI, Jakarta, Rabu (13/1).

Penyebab lainnya karena keuntungan menanam kedelai kurang menguntungkan menurut para petani. Sebab, biaya produksinya cukup tinggi dan keuntungannya pun kecil. Menanam kedelai hanya mampu memberi keuntungan Rp1 juta per hektare. Jumlah keuntungan itu jauh tertinggal dibanding keuntungan yang didapat dari menanam padi, jagung atau tebu.
”Biaya produksi itu masih mahal antara Rp5.000 sampai Rp6.000, pengalaman sebelum Covid-19 itu harga kedelai lokal rendah sekali Rp6.500 sampai Rp7.000 per Kg. Sehingga, keuntungan menanam kedelai data BPS tahun 2017 itu cuma Rp1 juta per hektare. Itu sangat rendah sekali. Jauh di bawah menanam padi dan jagung. Sehingga petani lebih memilih yang untungnya lebih tinggi, seperti padi, jagung dan beberapa tempat memilih tebu,” ungkapnya.
Menanam kedelai juga terbilang cukup sulit. Tanaman kedelai rawan dengan penyakit dan kerap jadi incaran hama seperti tikus. (int)

Komentar Anda





Comments
To Top
.