Headline

Harga Bensin Eceran Rp40 Ribu/Liter


Mabes Polri Kerahkan Enam Ekor Anjing Pelacak ke Reruntuhan Bangunan

MAMUJU, BKM — Harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya bensin mengalami lonjakan yang cukup tinggi di wilayah yang terkena dampak gempa bumi Mamuju, Sulawesi Barat. Pada hari Minggu (17/1), harga premium di tingkat pengecer mencapai Rp40 ribu per liter. Padahal biasanya hanya Rp10 ribu per liter.
BKM mendapati kenaikan harga tersebut ketika melakukan pemantauan dalam wilayah Kota Mamuju, Minggu (17/1) siang. Pengendara sepeda motor pun dengan terpaksa membelinya karena tak ada lagi alternatif untuk mendapatkannya.
Gempa bumi magnitudo 6,2 yang mengguncang Kabupaten Majene dan Mamuju, Sulbar, Jumat (15/1) dini hari telah meluluhlantakkan daerah ini. Bangunan fisik milik pemerintah dan masyarakat banyak yang mengalami kerusakan parah. Hingga Minggu kemarin pukul 14.30 Wita, tercatat ada 59 orang warga Mamuju yang meninggal dunia. Ribuan orang mengungsi ke wilayah yang lebih tinggi, karena khawatir akan terjadi gempa susulan dan kemungkinan terjadinya tsunami.
Kepala Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pusat Dwikorita Karnawati meminta agar korban gempa di Mamuju dan Majene yang tengah mengungsi agar tetap tenang. Tidak mudah terpancing dengan informasi yang tak jelas sumbernya. Apalagi sampai mengikuti seruan untuk meninggalkan Mamuju.
”Tidak perlu panik. Jangan mudah terpengaruh isu yang mengatakan kekuatan gempa susulan bisa mencapai magnitudo 8,2. BMKG tidak pernah menyatakan seperti itu. Yang kami imbau, jauhilah bangunan yang mudah rubuh. Jauhi runtuhan bangunan, atau lereng yang mudah longsor. Jangan berada dekat dengan pantai,” ujar Dwikorita yang berkunjung ke lokasi gempa di Mamuju, Minggu (17/1).
Meski begitu, ia menyerukan kepada warga untuk tetap waspada terhadap gempa susulan. ”Jadi tidak perlu keluar Mamuju, karena sekarang kami ada di sini. Insyaallah Tuhan melindungi kita semua,” imbuhnya.
Hingga kemarin, ribuan warga masih berada di pengungsian. Mereka terlihat mendirikan tenda untuk berteduh di sisi jalan poros Majene hingga Mamuju. Ada yang di pegunungan, tanah lapang, gedung sekolah, hingga di halaman rumah. Kebanyakan memilih lokasi yang dianggap aman, seperti dataran yang lebih tinggi.
Akses jalan poros Majene-Mamuju sudah bisa dilalui, namun sangat rawan terjadi longsor susulan. Apalagi intensitas hujan masih relatif tinggi.

Anjing Pelacak

Hingga saat ini tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian para korban yang diperkirakan masih terjebak di reruntuhan bangunan.
Kabid Humas Polda Sulbar Kombes Pol Syamsu Ridwan, mengatakan untuk mempermudah pencarian, mabes polri sudah menerjunkan 15 orang personel polisi satwa dan enam ekor anjing pelacak.

Ia mengharapkan, dengan pelibatan anjing pelacak tersebut bisa ditemukan posisi korban yang diduga masih tertimbun material tanah di lokasi bencana, sehingga bisa ditindaklanjuti oleh tim gabungan.

“Sudah ada 15 personel polisi satwa dan enam ekor anjing pelacak dari Mabes Polri. Semoga anjing pelacak ini bisa membantu menemukan jika masih ada korban yang tertimbun,” ujarnya, kemarin.

Dari pantauan langsung di Rumah Sakit Mitra Manakarra, Mamuju yang menjadi salah satu lokasi terparah, personel polisi satwa mengidentifikasi masih ada kemungkinan korban yang tertimbun di reruntuhan bangunan. Karena itu tim SAR gabungan masih melakukan pencarian korban.

Kodam Kirim Pasukan

Kodam XIV/Hasanuddin memberangkatkan pasukan satuan tugas (Satgas) pengamanan logistik dan Pam VVIP dari Batalyon Kavaleri (Yonkav) 10/Mdg menuju Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Pelepasan berlangsung di lapangan apel Yonkav 10/Mdg Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Minggu (17/01).

Pengiriman personel ini dilakukan Kodam ini dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban pascagempa magnitudo 6,2 mengguncang wilayah tersebut, pekan lalu.
Pasukan yang diberangkatkan sebanyak 1 SSK akan bergabung dengan pasukan lain yang lebih dahulu berada di lokasi.
Pemberangkatan pasukan melalui bandara Lanud Sultan Hasanuddin Makassar menuju Bandara Mamuju dengan menggunakan pesawat Hercules. Dipimpin Komandan SSK Lettu Kav Mustakin Usman.

Pasukan baret hitam milik Kodam Hasanuddin ini sebagai satgas pengamanan guna mendukung personel organik komando kewilayahan (Kowil) yang sudah ada guna menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat.

Mengungsi ke Makassar

Sebagian warga Majene dan Mamuju yang terdampak gempa memilih untuk mengungsi ke Makassar, Sulawesi Selatan. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel telah menyiapkan tempat pengungsian bagi mereka yang telah dievakuasi ke Makassar. Mereka diangkut dengan menggunakan pesawat TNI Angkatan Udara.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial Sulsel Gemala Faoza mengatakan, pihaknya telah menyiapkan segala kebutuhan para pengungsi korban gempa Sulbar. Namun ternyata, para korban yang telah dievakuasi ke Makassar lebih memilih ke rumah keluarganya masing-masing.
“Semua korban yang sampai ke Maadsar ternyata mau ke rumah keluarganya, padahal kita sudah sediakan tempat. Setelah tiba di bandara, gelombang pertama ini semuanya sudah dijemput oleh keluarganya,” kata Gemala.
Oleh karena itu, sejak datangnya para korban ini, tempat pengungsian yang disediakan di kantor Dinas Sosial Sulsel di Jalan AP Petta Rani Makassar masih dalam keadaan kosong. Gemala menyebut, kapasitas tampung untuk pengungsi di kantor Dinsos bisa mencapai 800 orang.
“Kami sudah siap. Bahkan pernah 800 orang bisa kami tampung di kantor. Pokoknya kami mengoptimalkan semua sarana yang ada,” tandasnya.
Ia menambahkan, pihaknya juga telah menyiapkan tim penanggulangan bencana untuk pemeriksaan kesehatan para korban yang telah dievakuasi dari Sulbar ke Lanud Hasanuddin.
Berdasarkan data yang diterima Dinas Sosial, evakuasi korban gempa Sulbar ke Makassar telah dilakukan dua gelombang. Tercatat 25 orang sudah tiba sejak Jumat (15/1) malam lalu. Sementara pada Sabtu (16/1) sebanyak 69 orang.
“Untuk periksaan kesehatan kami tidak memaksa, tapi tetap kami harus langsung melakukannya setelah tiba di bandara. Gunanya untuk mencegah penularan covid-19 dan penyakit-panyakit menular lainnya,” terang Gemala. (*-nug)

Komentar Anda





Comments
To Top
.