Headline

KPK Awasi Rekonstruksi Puskesmas Batua


BKM/RAHMAT REKONSTRUKSI -- Penyidik Tipikor Ditreskrimsus Polda Sulsel menggelar rekonstruksi secara tertutup di lokasi proyek pembangunan Puskesmas Batua, Kamis (21/1).

MAKASSAR, BKM — Proses hukum sengkarut proyek pembangunan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Batua, Kota Makassar terus bergulir. Terkini, pada Kamis (21/1), tim penyidik Tindan Pidana Korupsi (Tipikor) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sulsel bersama tim ahli konstruksi independen Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI turun melakukan rekonstruksi fisik terhadap bangunan senilai Rp25,5 miliar itu.
Langkah tersebut sebagai bagian dari penyidikan kasus dugaan korupsi pada proyek yang dilaksanakan tahun anggaran 2018 ini. Kegiatan rekonstruksi berlangsung secara tertutup dengan pengawalan ketat aparat kepolisian bersenjata lengkap. Bahkan, sebagian Jalan Abdullah Dg Sirua di sekitar Puskemas Batua diblokade hingga radius ratusan meter.
Berdasarkan pantauan di lokasi rekonstruksi, selain tim penyidik Tipikor Ditreskrimsus Polda Sulsel, rekonstruksi tersebut melibatkan KPA, PPK, PPTK, konsultan pengawas, serta pihak rekanan pelaksana proyek.
Direktur Ditreskrimsus Polda Sulsel Kombes Pol Widoni Fedri yang juga turut hadir, mengatakan rekontruksi ini akan berlangsung hingga 26 Januari. “Kegiatan ini akan berlanjut hingga tanggal 26 (Januari). Hal itu dilakukan untuk mengetahui apa yang menjadi kekurangan dalam proyek fisik bangunan,” terangnya.
Dalam rekonstruksi ini, menurut Widoni, pihak ahli konstruksi dan BPK RI akan mengambil sampel material serta menghitung kerugian yang terdapat dalam fisik bangunan yang nantinya akan dijadikan barang bukti bila persidangan dilaksanakan. “Sedangkan tim dari KPK ini hanya memonitor kegiatan ini sampai dengan akhir proses,” ujar Widoni.
Dijelaskan Widoni, ada banyak titik di lokasi bangunan Puskesmas Batua yang diambil sampel untuk dijadikan alat bukti. “Semuanya kita ambil sampelnya untuk dicocokkan. Mana yang menjadi dan apa syarat dari campuran. Intinya antara lain campuran semennya,” tandasnya.
Hanya saja, Widoni enggan merinci apa-apa saja dan berapa jumlah sampel barang bukti yang disita oleh penyidik dari hasil rekonstruksi kali ini. Ia juga belum bisa menyimpulkan apa hasil dari kegiatan ini. Semuanya masih dalam tahap mencocokkan dan mensinkronkan data dengan fakta di lapangan. Terkait berapa kerugian negara dalam kasus ini, Widoni mengatakan belum ada. Ia menyerahkan sepenuhnya kepada pihak BPK untuk menghitungnya. (mat)

Komentar Anda





Comments
To Top
.