Politik

PAN dan PKS Tetap Besar Karena Partai Terbuka


MAKASSAR, BKM–Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) diprediksi masih tetap akan besar, meski tergerus dengan sejumlah kadernya yang membentuk partai baru.
Pengamat politik dari Unibos Makassar Dr Arief Wicaksono mengemukakan bila PAN dan PKS sudah mendapat lawan baru yakni kehadiran partai baru dalam setiap pemilu legislatif, namun keduanya masih tetap besar.
Arif menuturkan bila menurut beberapa kajian kepartaian di Indonesia, PAN dan PKS adalah contoh partai yang sempat berhasil melampaui kapasitas elektoralnya. PAN misalnya, tidak lagi seperti dulu yang relatif mengandalkan simpul ormas Muhammadyah dalam mendulang suara. Begitu pula dengan PKS, yang telah mencanangkan dirinya sebagai partai terbuka, bukan lagi partai yang melulu mengandalkan umat Islam sebagai potensi suaranya. “Akan tetapi keduanya, memiliki kesamaan relatif, yakni tajamnya polarisasi antar faksi internal, sampai harus terpecah keluar dan melahirkan partai baru,”jelas Arief.
Begitu pula dengan Partai Berkarya yang terkesan tidak pernah serius menyelesaikan masalah dualisme atas legalitas organisasinya. Dengan kondisi seperti itu, tentu target kinerja ketiga partai tersebut akan terus dipertanyakan pada pileg kedepan.
Pengamat politik dari Unismuh Makassar Dr Luhur A Prianto menegaskan bila sekarang ini lanskap politik kita di kuasai oleh kelompok partai-partai nasionalis. Perihal yang tidak menguntungkan bagi partai-partai berbasis agama. “Koalisi besar yang di pimpin oleh PDIP pun melibatkan beberapa partai-partai nasionalis religius di dalamnya,”jelas Luhur.
Dijelaskan bila ceruk suara pemilih Islam politik yang diperebutkan partai-partai berbasis Islam politik, semakin menyempit. “PAN dan PKS bersama partai-partai baru berhaluan Islam politik, berada di lintasan dan ceruk politik yang sama. Mereka bersaing memperebutkan basis suara pemilih muslim.,”jelasnya
Tidak mudah bagi partai-partai ini mempertahankan basis pemilihnya di tahun 2019, dengan kondisi perpecahan internal yang telah melahirkan partai baru. Dengan resources partai yang solid dan bersatu sekalipun, sulit bagi mereka bersaing dengan partai koalisi pemerintah. “Kecuali mereka mampu mentransformasi kekecewaan publik pada kinerja pemerintah, menjadi dukungan politik elektoral,”ujarnya.
Tapi bukan hal mudah, dengan ruang politik yang terbatas dan sumberdaya politik yang berdiaspora ke partai baru. Semua kembali pada usaha masing-masing partai untuk mempertahankan dan memperluas dukungan. “Kalau revisi UU pemilu gagal, dan angka parliamentary treshold (PT) tidak dinaikkan, setidaknya menjadi peluang bertahan bagi partai-partai papan bawah,”pungkas Luhur. (rif)

Komentar Anda





Comments
To Top
.