Connect with us

Headline

Ditinggal Bapak Kandung, BPJS Tertunggak Sejak Ibu Diceraikan

Kisah Pilu Balita Penderita Hydrocephalus

-

BKM/RUSDI NASARUDDIN HYDROCEPHALUS-Putra Riyansa, balita penderita hydrocepalus terbaring lemas di ruang ICU RSUD Barru didampingi ibunya Jumeriah.

KISAH pilu datang dari balik ruang intensive care unit (ICU) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Barru. Seorang bayi mungil terbaring lemas di atas tempat tidur. Alat bantu pernapasan terpasang di mulut dan hidungnya.

NAMANYA Putra Riyansa. Usianya dua tahun delapan bulan. Sudah 13 hari lamanya ia dirawat intensif di rumah sakit. Putra tak mampu menggerakkan badannya. Bahkan mata kirinya sudah tidak bisa melihat karena gangguan saraf mata akibat penumpukan cairan di bagian kepala.
Kini kondisinya antara sadar dengan tidak. Sejumlah alat medis menempel di bagian tubuh bocah ini. Di kepala hingga ke usus masih dibantu selang. Perasaan miris akan muncul pada siapa pun yang melihat kondisinya. Secara medis balita ini disebutkan menderita hydrocephalus.
Pembengkakan kepala ini merupakan yang kedua kalinya dialami Putra. Hydrocephalus pertama dideritanya sejak usia sejak satu tahun enam bulan. Bahkan pernah menjalani bedah kepala pada 2019 di RS Abdul Wahab, Samarinda.
Jumeriah, ibunda balita ini hanya bisa pasrah menghadapi penderitaan yang dialami putranya. Ayah kandung Putra bernama Ismail berkali-kali dihubungi oleh mantan istrinya ini. Perempuan usia 28 tahun ini bermaksud menyampaikan jika Putra masuk rumah sakit di Barru dan butuh biaya.
“Saya sampaikan ke ayahnya Putra, kalau BPJSnya sudah satu tahun lebih tidak pernah dibayarkan. Mau ambil biaya dari mana kalau tidak punya kartu BPJS,” tutur Jumeriah yang ditemui ketika tengah mendampingi anaknya di RS, Senin sore (22/2).
Dengan mata sembab, ibu yang ditinggal cerai oleh mantan suami keduanya itu tak bisa berbuat apa-apa menghadapi kondisi ini. Mantan suaminya yang menjadi buruh kebun sawit di Kaltim dengan enteng menjawab mau apalagi kalau tidak punya biaya.
Sejak bercerai dengan Ismail, ia memilih merantau ke Desa Siddo, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru. Jumeriah ikut dengan kakaknya yang sudah menetap di daerah ini.
Guna menyambung hidup dan memenuhi kehidupan sehari-harinya, ia hanya berharap dari gaji seadanya sebagai asisten rumah tangga pada salah satu keluarga di Siddo yang berbaik hati mempekerjakan dirinya.
Jumeriah tampak berusaha tegar dengan sabar menerima kenyataan hidup yang dihadapi. Kini Putra Riyansa kembali akan berhadapan dengan meja bedah untuk kedua kalinya. Pihak RSUD Barru terus berupaya untuk merujuk ke Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo( RSWS) di Makassar guna menjalani operasi lanjutan di bagian kepalanya.
Pihak RSUD Barru mengklaim balita penderita hydrocephalus ini sebagai pasien umum, karena BPJS Putra sudah menunggak lebih dari satu tahun.
Di tengah kepiluan derita Putra Riyansa, sejumlah lembaga di Kabupaten Barru bersimpati kepadanya. BAZNas, Yayasan Yassiberrui, hingga Polres Barru memberikan bantuan. Bahkan saat BKM melakukan wawancara dengan Jumeriah, tim Kurir Langit berjumlah dua orang sudah berada di sisi tempat tidur Putra. Perwakilan Kurir Langit membawa amplop berisi uang sumbangan sebesar Rp 7 juta. Menurut tim perwakilan Kurir Langit, bantuan ini untuk membantu biaya hidup Putra Riyansa selama perawatan di Makassar.
Saat ini juga semakin banyak pihak yang bersimpati terhadap penderitaan Putra. Apalagi ada Forum Yassiberrui yang membantu menguruskan KTP, KK hingga BPJS supaya bocah tersebut tak lagi berstatus sebagai pasien umum.
Perwakilan Forum Yassiberrui, Salham yang dihubungi mengakui jika pihaknya bekerja sama dengan Yayasan Relawan Akhirat dan pemerintah Desa Siddo untuk mengadvokasi pasien balita penderita hydrophalus ini hingga tidak lagi mengalami hambatan perawatan medis.
” Alhamdulillah, semua dokumen seperti KTP, KK sudah selesai kita urus, setelah difasilitasi pihak Dinas Capil dan Kependudukan. Begitu pula dengan kepesertaannya sebagai pemilik kartu KIS dari wilayah asal domisilinya di Kaltim sudah dicabut di sana, kemudian diselesaikan di kantor BPJS Barru. Kartu KISnya sudah aktif dan telah kami serahkan kemarin,” kata Salham.
Direktur RSUD Barru dr Andi Nikmawati yang dihubungi, Selasa (23/2) menyatakan Putra menderita hydrocephalus. ”Sudah dua minggu dirawat. Kemarin (Senin (22/2) baru selesai diurus kartu BPJS oleh Pemda Barru dan berbagai pihak terkait,” ujar dr Nikma.
Dijelaskan, Putra didiagnosa encefalopathy akibat Hydrocephalus. Sejak Senin sudah diupayakan melakukan sisrute untuk merujuk pasien ke semua rumah sakit di Makassar, tetapi belum ada yang menerimanya. Karena pasien ini harus ditangani oleh spesialis bedah syaraf dan rumah sakit yang mempunyai ruang perawatan intensif untuk bayi. Sementara tidak semua rumah sakit mempunyai fasilitas dan dokter bedah syaraf.
“Untuk tindakan bedah itu ditentukan oleh dokter bedah syaraf yang nanti merawat pasien tersebut. Kita di RSUD Barru sudah lakukan perawatan untuk membantu menangani pasien ini melalui tim dokter spasialis RSUD Barru yang tentunya sesuai dengan kemampuan rumah sakit tipe C di Barru,” pungkasnya. (udi/b)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com

Populer Minggu ini