Connect with us

Headline

Mampu Kuliahkan Empat Anak Hingga Raih Sarjana

Bertemu Petani Salassae yang Kelola Kebun Karet secara Mandiri

-

BKM/UNI MANDIRI-H Se'leng dan Rukman Pabe', dua petani di Desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba yang berhasil mengelola kebun karet secara mandiri.

TANAMAN karet di Kabupaten Bulukumba telah dikembangkan sejak tahun 1986. PT London Sumatera Tbk (Lonsum) menjadi satu-satunya perusahaan yang mengelolanya. Usaha produksi terus berlangsung hingga saat ini. Selain dikelola oleh perusahaan, kebun karet kini juga telah dikelola oleh para petani.

DI Desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa, pengelolaan tanaman karet berbasis rumah tangga kian berkembang. Semuanya bermula sejak tahun 1998 semenjak lepas dari kontrak plasma dengan PT Lonsum Tbk. Para petani melakukan pengelolaan karetnya secara mandiri. Mulai dari pengelolaan lahan, penanaman bibit, pemeliharaan, hingga pemanenan, dan kemudian proses penjualan dilakukan sendiri oleh para petani di desa tersebut.

Ditemui di rumahnya, Kepala Desa Salassae Gito Sukamdani mengatakan, telah banyak kebun karet karet dikelola oleh masyarakat tani di daerahnya. Masyarakat desa ini bahkan telah memiliki kebun karet sendiri.
”Hasil dari kebun karet warga Desa Salassae telah membantu perekonomian masyarakat. Khususnya membantu petani dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” ujar Gito.

Bahkan, salah seorang petani karet bernama H Se’leng (62) telah berhasil menyekolahkan empat orang anaknya hingga menyelesaikan studinya di salah satu kampus ternama di Kota Makassar. ”Alhamdulillah, semenjak saya memutuskan untuk menjual mobil truk milik saya dan menggantinya dengan membeli lahan dan menanam karet kurang lebih 12 tahun yang lalu, sekarang sudah saya rasakan manfaatnya. Empat anak saya mampu bersekolah dan mendapatkan gelar sarjana berkat hasil dari getah karet,” ucap H Se’leng yang telah memiliki 6 hekhtare lahan karet yang sudah berproduksi.
Karet kini bukan lagi sebagai tanaman yang dikelola oleh pihak perusahaan. Pengembangannya semakin merambah di kalangan masyarakat tani Desa Salassae. Bahkan menarik minat sebagian besar masyarakat tani di beberapa desa dalam wilayah Kecamatan Bulukumpa. Seperti Rukman Pabe’ (44).
‘K’ita sekarang kekurangan lahan untuk menanam karet. Andai terdapat lahan yang bisa kita tanami, mungkin saya akan menambah lagi luas lahan. Bahkan lahan sawah saya, saya ubah menjadi kebun karet. Tanaman karet ini memang terlihat sedikit hasilnya, namun tidak menguras modal yang besar. Juga tidak memerlukan perawatan yang rumit,” ucapnya sembari memperlihatkan hasil sadapannya.

Menurutnya, tanaman karet ini sudah sepatutnya menjadi perhatian pemerintah untuk lebih dikembangkan lagi. Terutama dalam hal pemberian fasilitas kepada petani karet berbasis rumah tangga yang belum mendapat bantuan. Termasuk bimbingan dari pemerintah.
Proses pengelolaan tanaman karet tersebut murni dijalankan atas dasar ketertarikan secara pribadi masyarakat di Desa Salassae, melihat potensi yang telah diperoleh oleh pihak swasta yang sejak dahulu melakukan memproduksi dan memasarkan karet. (pkl)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com

Populer Minggu ini