Connect with us

Headline

Dua Dosen UMI Diskorsing, Jabatannya Dicopot

Buntut Perkelahian di Depan Mahasiswa

-

MAKASSAR, BKM — Dua dosen di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar mendapatkan sanksi tegas. Mereka dinyatakan telah melanggar kode etik yang sulit ditolerir, setelah sebelumnya dilakukan proses mediasi namun tidak menemui titik temu. Kedua dosen itu adalah Muhajir dari jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, serta Ketua Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Dr Hadawiah.
Kepala Humas UMI Makassar Nurjannah Abna, mengakui telah ada rekomendasi dari Dewan Etik Fakultas ke Dewan Etik Universitas. Rekomendasi tersebut menyusul peristiwa perkelahian antara keduanya di depan mahasiswa beberapa waktu lalu. Bahkan video kejadian tersebut viral di dunia maya. Kedua belah pihak diputuskan telah melakukan tindakan yang sulit ditolerir oleh pihak kampus.
”Rekomendasi yang diterima dewan etik kami, keduanya diputuskan dikenakan sanksi sesuai aturan yang berlaku. Jika dalam proses mediasi fakultas tidak ada hasil, maka akan dibawa ke tingkat dewan etik,” terang Nurjannah ketika dikonfirmasi, Rabu (3/3).
Baik Muhajjir maupun Hadawiyah diberikan sanksi pembinaan oleh kampus. Selama itu, mereka diminya untuk merenungi perbuatan masing-masing.
“Kami tekankan tidak ada pemecatan. Hanya pencopotan jabatan. Keduanya sudah dibebastugaskan dari jabatan per tanggal 1 Maret kemarin,” ucapnya.
Berdasarkan hasil rapat komisi disiplin tanggal 1 Maret, lanjut Nurjannah, keduanya dilepaskan dari jabatan dan diberikan sanksi akademik berupa skorsing enam bulan, terhitung 1 Maret-31 Agustus 2021. Selama menjalani skorsing, yang bersangkutan wajib mengikuti pembinaan di Pesantren Darul Mukhlisin UMI Padanglampe.
Hal senada disampaikan Pelaksana Tugas Ketua Komisi Etik UMI Prof La Ode Husen. Menurutnya, berdasarkan laporan dari tingkat fakultas, diputuskan bahwa Hadawiah dan Muhajir terbukti melakukan pelanggaran kode etik.
“Komisi Disiplin Universitas yang menjatuhkan hukuman itu. Kita kan memang punya aturan internal,” tegasnya.
BKM telah mencoba untuk meminta tanggapan Hadawiyah dan Muhajir terkait sanksi tersebut. Namun, mereka belum memberi respons. (ita)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com

Populer Minggu ini