Connect with us

Headline

Dari Prosesi Pra-Mattompang Benda Pusaka Peninggalan Raja-raja Bone

Dibersihkan dengan Air yang Diambil dari Tujuh Sumur

-

BKM/HERMAN PRAMATTOMPANG-Prosesi pra-mattompang yang dilaksanakan di Museum Arajangnge, Kompleks Rujab Bupati Bone, Jalan Petta Ponggawae, Kelurahan Watampone, Kecamatan Tanete Riattang, Senin (29/3).

BONE, BKM — Hari Jadi Bone (HJB) ke-691akan diperingati 6 April 2021 mendatang. Sebelum momen bersejarah itu dihelat, Pemerintah Kabupaten Bone melaksanakan satu ritual yang menjadi bagian penting dari prosesi, yakni pra-mattompang dengan membersihkan sebersih-bersihnya benda pusaka peninggalan raja-raja Bone.

Di Museum Arajangnge, Kompleks Rumah Jabatan Bupati Bone, Jalan Petta Ponggawae, Kelurahan Watampone, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Senin (29/3). Mereka yang berpakaian ada ramai berada di tempat ini. Ada Bupati Bone Andi Fahsar Mahdin Padjalangi, Wakil Bupati Ambo Dalle serta unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Tampak pula para tokoh adat serta bissu. Mereka duduk bersila. Di depannya terdapat meja-meja kecil. Di atasnya terdapat aneka benda-benda pusaka. Pada bagian tengah ada tujuh wadah berwarna kuning keemasan berisi air.
Tak lama lagi proses pra mattompang akan digelar. Bupati Bone Andi Fahsar mengatakan, kegiatan ini sudah menjadi sebuah tradisi. Dilaksanakan satu kali dalam setahun. Usai pra-mattompang, nantinya akan diikuti prosesi mattompang.

“Pra mattompang ini dilakukan dengan cara membersihkan sebersih-bersihnya seluruh benda pusaka peninggalan raja-raja Bone. Sementara untuk mattompang, pelaksanaannya pada tanggal 7 (April) nanti. Di situ akan tetap dibersihkan, tapi tidak seperti yang kita lakukan hari ini. Kenapa? Karena ini kan memakan waktu yang lumayan lama,” kata Andi Fahsar.
Proses pembersihan benda-benda tersebut dilaksanakan dengan ritual yang melibatkan pemimpin, tokoh, dan para bissu sebagai pelaksana.
Tujuannya untuk merawat seluruh benda-benda peninggalan kerajaan Bone di masa lalu.
Dengan begitu, benda-benda tersebut dapat dilestarikan sehingga dapat menjadi salah satu bahan edukasi serta pembelajaran bagi generasi selanjutnya.

Benda-benda kerajaan tersebut merupakan suatu bukti otentik, bahwa di Bone pernah ada kerajaan yang memiliki pengaruh besar dan turut mewarnai sejarah nasional Indonesia.

Sebelum pelaksanaan mattompang atau sassossoro, terlebih dahulu dilakukan proses mallekke toja (memindahkan atau mengambil air). Yang digunakan untuk mattompang arajang bukan air biasa, melainkan air suci yang diambil dari beberapa mata air sumur. Dalam bahasa Bugis, sumur disebut bubung.
Ada tujuh sumur yang menjadi tempat mengambil air untuk prosesi. Masing-masing bubung Parani, dan bubung Bissu, keduanya berada di wilayah Kecamatan Barebbo. Oleh para nenek moyang terdahulu disebut berada di Saliweng Benteng (di luar dari benteng).
Ada pula bubung Laccokkong yang terletak di Kelurahan Watampone, Kecamatan Tanete Riattang. Para leluhur menyebutnya berada di laleng benteng (di dalam benteng). Empat sumur lainnya, masing-masing bubung Lassonrong, bubung Ittello, bubung Garua, dan Bubung Lemoape.

Budayawan Bone Andi Yushan mengatakan, tujuh sumur tersebut memiliki sejarah dari zaman pendahulu. Salah satu contohnya adalah bubung Laccokkong. Pada masa raja ke-3 Karaeng Palua, air sumur Laccokong dijadikan sebagai tempat pertama kali anak raja dimandikan. Hal itupun dilakukan secara turun temurun.

“Dari air tujuh sumur itulah yang digunakan untuk mensucikan benda pusaka. Jadi mattompang itu bukan sekadar membersihkan benda pusaka. Tapi terlebih dahulu rilangie (dicuci dengan air), kemudian ditompang (diusap menggunakan air jeruk). Yang terakhir itu disossoro (ditaburi tepung tepung halus) agar tidak karatan,” jelas Andi Yushan.
Sebelum benda pusaka ditompang, terlebih dahulu yang dilakukan adalah mattedu arajang (mengambil benda pusaka dari tempatnya). Prosesi ini dilakukan oleh para bissu dan ketua tokoh adat sambil mendoakan dengan maksud bahwa benda pusaka tersebut ingin dibersihkan. Ketika zaman dahulu benda pusaka tersebut diperlihatkan kepada raja. Namun untuk saat ini diperlihatkan ke bupati dan Forkopimda.

“Benda pusaka yang ditompang itu antara lain lamakkawa, lateya riduni, benda pusaka ade’ pitu. Jadi yang berupa senjata tajam saja yang dibersihkan. Yang payung emas dan salempang itu tidak dibersihkan,” tambah Andi Yushan
.
Untuk peringatan HJB ke-691, Pemkab Bone menyebarkan sedikitnya 500 undangan ke unsur Pemerintah Provinsi Sulsel dan kabupaten lain. Raja-raja dari kerajaan lain tidak diundang, karena masih dalam suasana pandemi. (man/b)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com

Populer Minggu ini