Connect with us

Headline

Tentang Ritual Mattompang Arajang di Hari Jadi Bone

Dulu Dilakukan Ketika Kerajaan Menghadapi Musuh dan Wabah Penyakit

-

BKM/HERMAN MATTOMPANG ARAJANG-Prosesi mattompang arajang yang dilaksanakan di halaman Kompleks Rujab Bupati Bone, Rabu (7/4). Kegiatan ini merupakan rangkaian peringatan HJB ke-691.

BONE, BKM — Ritual mattompang arajang atau prosesi pembersihan benda-benda pusaka peninggalan kerajaan menjadi salah satu kegiatan utama pada perayaan Hari Jadi Bone (HJB) yang digelar setiap tahunnya. Hal serupa kembali dilakukan tahun ini, sebagai rangkaian HJB ke-691.

RABU (7/4), satu hari usai peringatan HJB ke-691. Banyak orang yang berkumpul di halaman Kompleks Rumah Jabatan Bupati Bone di Jalan Petta Ponggawa, Kelurahan Watampone, Kecamatan Tanete Riattang. Mereka masing-masing mengenakan pakaian adat.
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman hadir di tepat ini. Tampak pula Kapolda Irjen Pol Merdysyam. Anggota DPR RI Andi Rio Idris Padjalangi, serta anggota DPRD Provinsi Sulsel yang putra Bone.
Termasuk sejumlah bupati dan wakil bupati dari kabupaten lain di Sulsel, serta luar Sulsel. Seperti Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf, Bupati Pinrang Andi Irwan Hamid, Wakil Bupati Sinjai Andi Kartini Ottong, Wakil dan Bupati Wajo Amran.

juga Wakil Bupati Mamuju Ado Mas’ud, Wakil Bupati Kartanegara Rendi Sholihin, serta Wakil Bupati Tanah Bumbu Muhammad Rusli.

Bupati Bone Andi Fahsar Mahdin Padjalangi yang bertindak selaku tuan rumah, mengucapkan terima kasih kepada para tamu undangan yang sudah menyempatkan hadir pada kegiatan mattompang arajang ini.

“Atas nama masyarakat dan pemerintah dan masyarakat Kabupaten Bone, saya mengucapkan terima kasih atas kesediaan untuk hadir secara bersama-sama di Bumi Arung Palakka. Besarnya kepedulian kita semua terhadap Kabupaten Bone menjadi wujud nyata sinergitas positif dalam proses penyelenggaraan pemerintahan,” ucap Andi Fahsar.

Ia juga menjelaskan bahwa peringatan HJB tahun 2021 ini dilaksanakan dengan sangat sederhana, berbeda tahun-tahun sebelum pandemi covid-19.

Bahkan di tahun 2020, perayaan HJB perayaan ditiadakan karena covid. ”Namun untuk tahun ini kita laksanakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” terangnya.

Mattompang Arajang

Mattompang arajang biasa juga disebut massossoro’ arajang, merupakan proses pembersihan benda-benda kerajaan Bone. Yang dibersihkan adalah benda-benda peninggalan raja-raja Bone, seperti senjata tajam dan benda-benda kerajaan lainnya.

Ritual tersebut dilaksanakan dengan melibatkan pemimpin, tokoh, dan para bissu. Tujuannya untuk merawat seluruh benda-benda peninggalan kerajaan Bone yang berasal dari masa lalu. Dengan begitu, benda-benda tersebut dapat dilestarikan sehingga dapat menjadi salah satu bahan edukasi serta pembelajaran bagi generasi selanjutnya.

Budayawan Bone Andi Youshand Petta Tappu, menyebut acara mattompang arajang sudah ada sejak dulu. Dilakukan pada masa pemerintahan La Ummasa Raja Bone ke-2 yang memerintah pada tahun 1365-1368. Ia dikenal dengan gelar Petta Panre Bessie (pandai besi).

“Di masa kepemimpinan raja ke-2 La Ummasa itu memang sudah dilakukan mattompang. Meski hanya memimpin selama tiga tahun, tapi beliau telah mewariskan tata cara pembersihan benda tajam peralatan perang. Dulu, mattompang tidak dilakukan setiap tahun, melainkan ketika kerajaan menghadapi musuh, ketika terjadi wabah penyakit, dan kemarau panjang. Mattompang dilakukan di Saoraja atau Istana Raja,” terang Youshan
d
.
Benda pusaka peninggalan raja-raja Bone yang ditompang, seperti Teddung Pulaweng (Payung Emas). Merupakan payung pusaka kerajaan Bone yang telah ada sejak zaman kejayaan raja Bone XV La Tenritatta Arung Palakka. Ini merupakan pusaka yang diterima oleh kerajaan Bone sebagai bentuk penghargaan dari kerajaan Pariaman, yang merupakan wujud sikap persaudaraan antara kedua kerajaan. Sesudah pemerintahan raja Bone ke-15, maka pusaka ini menjadi alat perlengkapan resmi pengangkatan dan pelantikan raja-raja hingga ke masa raja terakhir.

Kemudian ada Sembangeng Pulaweng (Salempang Emas). Ini merupakan pusaka kerajaan Bone pada masa Raja Bone ke-15 La Tenritatta Arung Palakka. Dipersembahkan kepada pemerintah kerajaan Bone sebagai penghargaan atas keberhasilan membangun kerja sama dengan raja Pariaman.

Selanjutnya Keris Lamakkawa. Senjata tajam ini juga disebut Tappi Tatarapeng Pusaka Raja Bone ke-15 La Tenri Tatta Arung Palakka. Seluruh hulu dan sarungnya berlapis emas.
Pada zamannya, pusaka ini dipergunakan oleh Arung Palakka dalam setiap pertempuran melawan musuh kerajaan. Pusaka ini memiliki sifat ketajaman serta sangat berbisa, sehingga sekali tergores (terluka) sekejap waktu akan meninggalkan atau dalam bahasa bugis disebut makkawa. Pusaka ini juga merupakan salah satu perlengkapan resmi dalam upacara pelantikan dan pengangkatan Raja-Raja Bone.

Kemudian Latea Riduni, sebuah kalewang yang hulunya berlapis emas dan dihiasai intan permata.
Pusaka ini juga merupakan pusaka Raja Bone ke-15 La Tenritatta Arung Palakka. Pusaka ini dikebumikan bersama raja yang mangkat, namun setiap kali itupun memunculkan diri di atas makam yang diliputi cahaya terang benderang. Sehingga atas kejadian itu, maka pusaka ini disebut Latea Riduni (yang tak untuk dikebumikan). Pusaka ini kemudian disimpan dan mendapatkan pemeliharaan, serta dipergunakan sebagai perlengkapan resmi dalam upacara pelantikan dan pengangkatan raja-raja Bone.

Tidak hanya itu benda pusaka kerajaan Bone, juga ada tombak Lasalaga (tombak). Lasalaga merupakan tombak yang pada pegangan dekat mata tombak dihiasi emas. Ini merupakan simbol kehadiran raja Bone. Tombak tersebut diberikan nama Lasalaga dikarenakan pada saat perang, raja-raja terdahulu sering menggunakannya. Tombak ini mempunyai kelebihan bahwa pada saat dilepaskan oleh pemiliknya, akan mencari sasaranya sendiri.

Kemudian yang terakhir Alameng Tatarapeng (senjata Adat Tujuh atau Ade’ Pitue). Pusaka kerajaan ini adalah sejenis kalewang yang hulu serta sarungnya berlapis emas, dan merupakan kelengkapan pakaian kebesaran anggota Ade’ Pitu.
Selain itu, ada pula perlengkapan-perlengkapan yang dipakai oleh bissu. Bissu adalah sebutan bagi pemimpin agama bugis kuno yang di percaya oleh para raja untuk melaksanakan upacara-upacara keagamaan demi memuji sang pencipta.
(man/b)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com

Populer Minggu ini