Connect with us

Headline

KUA Pastikan Bora-Ira Menikah Siri

-

BONE, BKM — Pernikahan seorang pria berusia lanjut dengan seorang perempuan yang masih berumur 19 tahun, menjadi perbicangan hangat. Foto pernikahan mereka yang berlangsung, Rabu (7/4) viral beredar di dunia maya. Keduanya merupakan warga Dusun Cuppiga, Desa Bana, Kecamatan Bontocani.
Mempelai pria diketahui bernama Bora (58). Sementara yang perempuan bernama Irha Fasilah, berusia 19 tahun.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bone Wahyuddin Hakim yang dikonfirmasi, Kamis (8/4), membenarkan adanya pernikahan tersebut. Namun, mereka nikah siri dan tidak terdaftar di Kantor Urusan Agama (KUA) setempat.

“Pernikahan itu memang benar ada. Mereka dinikahkan oleh imam desa. Tapi pernikahannya tidak resmi secara undang-undang. Mereka nikah siri. Tadi (kemarin) saya sudah minta kepala KUA untuk cek langsung di sana,” kata Wahyuddin Hakim.
Selain itu, lanjutnya, mempelai perempuan juga diketahui berstatus janda tanpa anak. Bukan gadis seperti yang diberitakan. Sebelumnya, Ira juga menikah siri dengan suami terdahulu.

“Jadi nikah siri itu tidak tercatat di negara dan banyak hak hak yang tidak akan dimiliki oleh mereka. Termasuk tidak akan memiliki bukuh nikah,” jelasnya.
Sebelumnya,

Kepala Desa Bana Ishak, juga mengakui pernikahan kedua warganya itu. Kata dia, Bora dan Ira menjalin hubungan suami istri atas dasar suka sama suka dan tidak ada paksaan. Apalagi, mereka masih memiliki hubungan keluarga.

“Informasi dari warga, awalnya pengantin pria bercanda kepada si perempuan untuk menikahinya. Karena yang laki-laki memang belum pernah menikah dan ingin dirawat. Kemudian si perempuan akhirnya menerima lamaran tersebut,” kata Ishak.
Menurut Ishak, di kampungnya Bora hanya diketahui bekerja sebagai petani biasa. Sementara istrinya merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Berdasarkan dari data kependudukan, Ira juga belum pernah menikah.

“Mahar pernikahan mereka Rp10 juta dan satu petak tanah kebun. Acara nikahannya dilakukan secara sederhana, karena juga masih suasana pandemi. Selain itu, kondisi ekonomi mereka juga sangat sederhana,” tambah Ishak.

Bora dan Ira tampak begitu bahagia dengan pernikahan mereka. Hal itu terlihat saat prosesi terakhir pernikahan, yaitu mappasihada. Istilah ada di kampung ini bertujuan untuk saling mengakrabkan dan mempererat hubungan satu sama lain.

“Mappasihada ini dilakukan dengan saling menyuap gula dan kelapa atau jenis makanan khas lainnya. Ini dilakukan setelah selesai resepsi. Keduanya terlihat sangat bahagia saat itu,” kunci Ishak. (man/c)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com

Populer Minggu ini