Connect with us

Headline

Hindari Didata Detektor, Siap-siap Didatangi Aparat

-

MAKASSAR, BKM — Pemerintah Kota Makassar telah meluncurkan program Makassar Recover di tengah pandemi covid-19. Di dalamnya mencakup tiga hal penting, yakni penguatan imunitas, adaptasi sosial, dan pemulihan ekonomi. Salah satu bagian dari upaya mendukung dan menyukseskan program ini adalah master covid. Dari 14 kecamatan di Makassar, semuanya telah memiliki master covid.

KHUSUS di Kecamatan Wajo, master covid dipercayakan kepada Aulia Arsyad. Penunjukan itu cukup beralasan. Sebab perempuan berhijab itu pernah menjadi camat di wilayah ini.
Dalam sesi Podcast pada program RanahRus yang dipandu Andi Rustan, Sabtu (3/4), Auliah memaparkan program Makassar Recover. Khususnya upaya pemerintah kota guna memberikan rasa nyaman dan aman masyarakat di tengah berlangsungnya pandemi.

“Penguatan imunitas, adaptasi sosial, dan pemulihan ekonomi melalui program Makassar Recover tentunya akan memberikan rasa nyaman terhadap masyarakat untuk beraktivitas,” ujar Aulia Arsyad
Aulia Arsyad mengatakan, Pemkot Makassar, khususnya Kecamatan Wajo kini tengah gencar menyosialisasikan program Makassar Recover sebagai inovasi penanggulangan covid- 19. Salah satu metode yang nantinya akan diterapkan adalah sistem barcode. Di situ akan tertera data-data warga. Mulai dari nama, alamat, hingga rekam medis. Selain itu, ada pula pemindaian barcode di setiap rumah dan terlihat di pusat pemantauan yang berada di Balai Kota.
“Sementara ini yang akan berjalan adalah pendataan ke masyarakat. Para tim detektor koordinasi bersama tim tenaga kesehatan (nakes),” terang Aulia.
Sebagai orang yang pernah memimpin wilayah Kecamatan Wajo, Aulia begitu mengetahui situasi di daerah ini. Termasuk kendala yang akan ditemui tim detektor bersama nakes jika turun melaksanakan tugas di lapangan.
”Kendala yang mungkin dihadapi di lapangan, tidak semua warga mau membukakan pintu kepada tim detektor yang datang. Apalagi di sini banyak pengusaha yang tinggal ruko-ruko,” jelas Aulia.

Untuk mengatasi hal seperti itu, lanjut Aulia, pihaknya akan melibatkan aparat TNI dan Polri melalui Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Mereka akan turun melakukan pendekatan persuasif kepada masyarakat. Pelibatan mereka sekaligus dalam upaya penelusuran (tracing) kasus covid-19 yang ada di wilayah Kecamatan Wajo.
Aulia juga memberi penjelasan penggunaan barcode bagi warga tidak mampu dan tidak memiliki gawai yang bisa mengunduh aplikasi. Mereka nantinya akan diberikan kartu barcode yang bisa dibawa ke mana-mana. Kartu tersebut dapat digunakan di tempat dan fasilitas layanan umum yang memerlukan persyaratan bercode.
”Barcode di HP ataupun kartu nantinya akan terkait dengan proses pelayanan di tempat-tempat fasilitas umum. Jika ada di antara pengguna barcode itu yang terdeteksi dan terkonfirmasi covid-19, tidak akan dilayani. Selanjutnya diminta untuk isolasi mandiri jika terdeteksi tanpa gejala,” terangnya.
Setelah upaya penguatan imunitas dilakukan, program Makassar Recover memasuki tahapan adaptasi sosial. Masyarakat bisa beraktivitas seperti sediakala, tentunya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan sebagai kunci utama.
Selama beraktivitas itu berlangsung, Aulia Arsyad merincikan, masyakarat akan dipantau oleh pihak kecamatan masing-masing wilayah. Melalui aplikasi yang sudah didaftarkan, mereka akan diawasi. Aplikasi ini telah disematkan fitur Indeks Kepatuhan Protokol Kesehatan (IKPK). Di mana masyakarat harus mematuhi prokes.
Terkhusus masyarakat yang merupakan pelaku usaha, mereka yang memperoleh IKPK bisa dapat modal usaha dari Pemkot Makassar. Bahkan, warung kecil di lorong sekalipun bisa mendapatkannya.
“Pemerintah menyiapkan insentif modal usaha. Termasuk warung-warung kecil di lorong. Untuk bisa mendapatkannya, mereka harus mencapai indeks kepatuhan yang tinggi,” tuturnya.
Di sini sistem QR barcode kembali diterapkan. Ini untuk pengecekan segala sistem protokol kesehatan. “Penerapan QR barcode untuk mengetahui status kesehatan. Stiker QR tempat usaha, stiker QR code lorong, stiker QR code rumah, protokol event, protokol perbatasan dan protokol izin usaha. Mereka ada barcode berdasarkan NIK-nya. Kalau mereka tidak mau diperiksa barcodenya, tidak akan terbuka. Semua fasilitas umum menggunakan pembaca barcode. Barcode berdasarkan data aplikasi,” jelas Aulia. (jun)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com

Populer Minggu ini