Connect with us

Headline

Nembak Cewek Pakai Pantun, Ambo tak Lagi Diberdayakan

Kisah Rijal Djamal, Content Kreator dan Youtuber Makassar

-

JIKA menyebut nama Rijal Djamal, Anda tentu langsung teringat tentang seorang lelaki yang sering tampil berpantun di depan publik. Itu baru satu keahlian yang dimilikinya. Masih ada kelebihan lain yang dipunyai oleh Rijal.

DALAM sesi Podcast Harian Berita Kota Makassar yang dipandu Putri Sasongko, Senin (12/4), Rijal berkisah tentang asal muasal ia menyukai pantun. Bermula ketika dirinya selalu ikut lomba yang sifatnya religi. Seperti lomba ceramah, lomba pidato bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia. Bahkan bahasa Bugis. Peringkat satu selalu di tangan.
Yang paling tinggi prestasinya adalah lomba pidato bahasa Arab, ia lakoni ketika duduk di bangku SMP pesantren di Makassar. Juara satu public speaking juga kerap diraihnya. Rijal masuk Unhas juga karena prestasinya itu. Juara satu lomba di Unhas membuatnya mewakili kampus merah tersebut di level nasional. Tepatnya di Aceh.
”Dua kali berturut-turut ikut lomba di Unhas saya selalu juara satu. Di tahun 2010 saya lagi mau ikut lomba, langsung diprotes. Katanya, saya terlalu sering ikut di jenis lomba yang sama. Ada 40 peserta lomba yang protes. Akhirnya saya tidak ikut lomba diarahkan untuk lomba yang lain, juga dalam konteks ke-Islam-an, yaitu lomba hifdzil Qur’an. Tapi karena itu bukan bidang saya, akhirnya ada lomba pekan seni. Salah satunya adalah pantun. Masih berhubungan dengan public speaking. Kebetulan waktu saya SMP suka pantun. SMA saya pakai pantun buat nembak cewek. Akhirnya ikut ini,” tuturnya sambil tertawa.
Kebetulan, lanjut Rijal, partnernya di Unhas kala itu adalah seorang perempuan bernama Mira. Ia lalu mengajaknya untuk ikuti lomba pantun tersebut. Hadiah untuk juara satu Rp2 juta per kelompok. Lombanya berbalas pantun dalam kelompok. Keduanya pun ikut lomba dan juara.
”Dewan jurinya suka dengan penampilan kami. Akhirnya ada Tudang Sipulung I Lagaligo yang mempertemukan semua budayawan di Sulsel, kita diminta jadi MC. Pak Gubernur hadir dan banyak orang pemprov suka. Termasuk tokoh-tokoh budaya. Mereka lalu meminta nomor HP. Kebetulan waktu itu masih BBM. Minta nomor BB,” jelas Rijal.
Dari banyak tampil di berbagai even, akhirnya terbentuklah komunitas UKM Pantun dan Seni Kreatif Universitas Hasanuddin (Unhas) yang digawanginya. Menurutnya, ada tiga hal penting yang mendorong hadirnya komunitas tersebut. Pertama, masih banyak mahasiswa yang kalau ngomong dengan dosen tidak sopan. Pantun mudah-mudahan bisa menginternalisasi, bahwa sebelum diucapkan hendaknya dipikir dulu.
Yang kedua, seni pertunjukan yang ada di Kota Makassar masih itu-itu saja. Kalau bukan tari, ya teater. Pantun menjadi alternatifnya. ”Ketiga, kita mau ada sebuah unit kegiatan mahasiswa di Unhas yang kira-kira tidak hanya mengedukasi, tapi juga menghibur,” ujarnya.
Membentuk Forum Kreativitas Pemuda Sulsel dan menjadi ketua pertama, Rijal ditanya tentang bagaimana nasib FKP sekarang. Dikatakan, periode kepengurusannya telah habis di tahun 2019. Forum ini didirikan karena banyak mahasiswa yang suka pantun, bukan hanya dari Unhas, tapi juga kampus lain dan ingin bergabung. Bahkan ada dari daerah. Perlu open publik.
”Dulu itu saya orangnya suka berkompetisi. Akhirnya selalu ikut lomba di Dispora. Baik itu lomba pertukaran pemuda antarnegara, saya selalu ikut. Tapi rezekinya selalu runner up. Selalu saya incar Autralia dan Jepang waktu itu,” bebernya.
Pernah pula ikut pemilihan pertukaran pemuda antarprovinsi dan lolos. Di Dispora itu seksi kreativitas, tapi sayangnya tidak punya wadah para alumni yang biasa bergelut di situ. Rijal akhirnya diminta untuk buat Pekan Raya Pemuda setiap 28 Oktober sebagai wadah berkreatvitas para pemuda. Kendalanya saat ini, mereka yang terlibat dalam FKP sekarang banyak yang berada di daerah. Kini diagendakan pembentukan FKP di daerah, dan Luwu Raya telah terbentuk. ”Saat ini fokus ke gerakannya, bukan organisasinya,” kata Rijal.
Rijal menegaskan pula akan ada gebrakan yang dilakukannya di tahun 2021 ini. Tepatnya 28 Oktober mendatang.
Tentang tokoh Ambo yang membesarkan nama Rijal, kenapa ditinggalkan? ”Prestasi terakhir Ambo adalah diundang ke Malaysia dalam rangka International Pantun Festival, integrasi kebudayaan di Universitas Kebudayaan Malaysia (UKM). Sebenarnya tidak meninggalkan Ambo. Tapi karena lebih pada partner saya seorang cewek (Indo), ada batasan ketika sudah masuk fase selanjutnya. Harus taat pada keluarga dan suami,” terang Jamal.
Ia mengaku sudah beberapa kali melakukan seleksi untuk mendapatkan Indo yang baru. Mulai dari penyiar radio, dan yang lain. Beberapa kali tampil, namun tidak dapat feelnya.
Karena tidak lagi memberdayakan karakter Ambo, Rijal akhirnya masuk ke media sosial (medsos). Jadi content creator agar tidak ‘hilang’. ”Bukan meninggalkan, tapi situasinya,” imbuhnya.
Rijal juga menjawab tentang keputusannya dalam pelaksanaan pilwali Makassar tahun 2020 lalu. Seperti apa penjelasannya? Bisa disaksikan di Youtube Harian Berita Kota Makassar. (*/rus)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com

Populer Minggu ini