Connect with us

Metro

Kritisi Minimnya Truk Sampah

-

int Mario David

MAKASSAR, BKM–Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar mengkritisi masih minimnya armada truk di tingkat kecamatan, hal ini menyebabkan tidak efesiennya pelayanan persampahan kota lambat.
Anggota Komisi B Bidang Ekonomi dan Keuangan DPRD Kota Makassar, Mario David, mengatakan, buruknya pelayanan tersebut kemudian berimbas pada retribusi persampahan.
“Pelayanan dulu kita maksimalkan, baru masyarakat mau bayar, itu selain lemahnya koordinasi kelemahan kedua kita itu adalah memang masih minimnya armada sampah kita yang masih kurang,” ujarnya.
Berdasarkan laporan DLH armada sampah di tingkat kelurahan untuk motor roda tiga dilaporkan baru berjumlah 1035, sementara truk berjumlah 393 sementara Gerobak sampah berjumlah 60.
Ia mengakui, jumlah tersebut masih sangat sulit mengakomodir secara efektif persampahan kota. Idealnya jumlah armada harus bisa mengakomodir tiap RT dalam kota (di luar kepulauan) yang berjumlah 3.000 dari total 5020 RT, dan RW sebanyak 987 dari 1.002.
“Idealnya itu Fukuda (motor pengangkut) kita itu satu RT satu motor, jadi harus kira-kira 3000-an motorta, supaya apa, tiap RT itu melayani semua rumah dalam satu hari,” jelasnya.
Sementara armada mobil truk juga harus mampu mengakomodir tiap RW agar pengangkutan ke depannya dapat terintegrasi dengan baik.
“Karena biasakan satu RW itu ada empat sampai enam RT-nya, nanti mereka mengangkut, menunggu itu mobilnya dia kumpulin semua RT. RW dalam kota jumlahnya kan 987-an yang diakomodir, jadi kira-kira butuh segitu idealnya, kalau ada itu semua lengkap, top markotop,” ujar legislator Nasdem ini.
Saat ini akibat minimnya jumlah armada, tonase yang bisa diangkut perharinya jadi terbatas, alhasil pengangkutan sampah kerap kali harus mengantri. Dalam beberapa kasus pengangkutan yang lamban bahkan dapat berimbas pada keenggangan masyarakat untuk membayar.
Selain itu upaya ini harus dibarengi dengan etos kerja RT dan RW masing-masing, jika keduanya bisa dimaksimalkan, maka otomatis retribusi akan ikut meningkat.
“Nah ketika ini semua berjalan, rajin tiap hari angkut jam tujuh sudah datang, kemudian bersih, pastimi kita bilang ia tawwa kasihannya, nah ini iuranmu, bahkan masyarakat bikinkan kau kopi. Kalau sekarang. Makanya ini tidak maksimal pi masyarakat mau bayar,” ungkapnya.
Dengan kondisi demikian potensi retribusi persampahan kota Makassar belum sepenuhnya digali, jika dikelola maksimal kata dia potensi retribusi dikalkulasi mampu menembus Rp75 miliar per tahun.
“Kita kan rapat kemarin, itu kira-kira ada 300.000 rumah tangga yang ada di Kota Makassar, kalau kita kali Rp15.000 saja itu berarti ada Rp4,5 milliar perbulan itu kurang lebih bisa sampai Rp54 milliar per tahun potensinya, itu baru rumah tangga, jadi potensinya ini bahkan bisa sampai Rp75 milliar sebenarnya, ada perhotelan dan industri, industri itu bisa sampai Rp20 milliar loh,” ungkapnya.
Sementara saat ini seluruh kecamatan hanya mampu menghasilkan sekitar Rp15-25 milliar.(nug)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com

Populer Minggu ini