Connect with us

Headline

Kepedulian di Tengah Pandemi, 40 Kegiatan Setahun

Pencetus Relawan Millenial Makassar, drg Syahrul Afandi,MKes

-

PANDEMI covid-19 telah memantik banyak kalangan untuk berbuat. Sebuah organisasi yang peduli dengan kondisi tersebut pun lahir di awal virus ini masuk Kota Makassar. Namanya Relawan Millenial Makassar. Sang pencetus,drg Syahrul Afandi,MKes hadir di sesi Podcast Berita Kota Makassar yang dipandu Putri Sasongko, Selasa (27/4).

DI awal penjelasannya, Syahrul bertutur bahwa ada dua sikap berbeda menghadapi pandemi, yakni menerimanya secara positif dan ada yang negatif. Sementara pandemi ini bukanlah kesalahan pemerintah.
”Kami berusaha mengambil sisi positifnya dengan tidak mencaci pemerintah. Apalagi ini bersifat global. Karena itu kami berusaha membantu, bagaimana caranya ikut berpartisipasi sebagai kaum millenial. Dibentuklah sebuah komunitas yang diberi nama Relawan Millenial Makassar,” terang drg Syahrul.
Setahun silam, tepatnya 5 April 2020, komunitas relawan ini terbentuk. Cita-cita mulia menyertainya, yaitu membantu pemerintah mengurangi penyebaran virus corona, khususnya di awal-awal kemunculannya. Apalagi ketika jumlah kasus positif yang pernah menyentuh angka 11.000 per hari di Indonesia.
Ketika itu ada beberapa organisasi di Makassar yang melakukan penggalangan dana untuk menyediakan alat pelindung diri (APD) bagi para tenaga kesehatan (nakes), yang ketika itu sangat langka. ”Sebagai millenial, kami mengumpulkan donasi. Sambil mencoba berkomunikasi dengan OKP guna menyatukan pergerakan agar lebih maksimal,” ujarnya.
Diakui drg Syahrul, pemantik hadirnya komunitas relawan ini adalah kalangan millenial yang berada di Jakarta. Karena mereka terlebih dahulu terdampak pandemi, sehingga berbuat lebih dulu. Dalam gerakan kerelawanan millenial di Jakarta tergabung dr Tirta, serta hadirnya influencer Ria Ricis yang juga seorang selegram.
”Gerakan teman-teman di Jakarta itu yang coba kami turunkan di Makassar. Tujuannya untuk mengedukasi masyarakat dalam menghadapi pandemi. Juga membantu masyarakat yang terdampak. Bedanya yang di Jakarta dengan kami di Makassar, mereka memiliki bujet yang berlebih. Sementara di Makassar tidak terlalu besar,” terangnya.
Walau begitu, hal tersebut bukan menjadi penghalang untuk memberi empati. Dengan mengajak selegram Makassar, seperti Tumming Abu, Relawan Millenial Makassar bergerak membagi-bagikan masker. Kehadiran para influencer dalam gerakan ini, diakui Syahrul, membawa efek yang cukup besar. Sebab terkadang mereka bisa lebih didengar oleh masyarakat dibanding dokter ataup pemerintah. Para pegiat media sosial itu juga diajak untuk membuat konten yang mengedukasi masyarakat di tengah pandemi.
”Kami organisasi yang terbentuk secara insidentil. Donaturnya juga seperti itu. Di Makassar ini jumlah orang baiknya cukup banyak. Mereka luar biasa,” tandas Syahrul.
Berkat kepedulian para donatur itu, Relawan Millenial Makassar mampu menggelar 40 kegiatan dalam rentang waktu setahun terakhir. Kerja sama dengan berbagai pihak terus dijalin. Salah satunya dengan Polrestabes Makassar serta yayasan Bosowa. Dokter Fadli Ananda juga pernah diajak berkolaborasi untuk membagi-bagikan sembako kepada orang yang membutuhkan. Termasuk telah menyebarkan 12.000 face shield ke 12 pasar di Makassar.
Sebagai sebuah organisasi yang berurusan dengan hal-hal sosial, drg Syahrul menyadari bahwa pihaknya harus membangun kepercayaan dari masyarakat. Untuk itu, legalisasi berupa akta penidirian kini telah dimiliki. Langkah ini sebagai upaya membangun sebuah organisasi yang lebih profesional.
RMM pun telah bekerja sama dengan sebuah lembaga sosial lain guna menyalurkan bantuan kepada korban bencana gempa bumi di Mamuju, Sulawesi Barat. Sebanyak Rp70 juta donasi telah disalurkan ke warga yang terdampak.
Saat ini, RMM kembali bergerak untuk membangkitkan ekonomi masyarakat di tengah pandemi. Salah satunya melalui gerakan Bangkit dari Masjid. Melalui gerakan ini, masjid menjadi pilot project tempat perputaran ekonomi kembali.
Syahrul kemudian menyebut salah satu contoh bantuan alat pencuci motor. Sarana tersebut diberikan kepada pengurus masjid untuk dikelola. Hal itu kemudian berkembang dengan kehadiran semacam garud-gardu kecil yang melayani masyarakat. Hal ini untuk membangun jiwa UKM mereka.
”Jangan sampai kita diserang dari segi kesehatan, juga dihantam di sektor ekonomi. Karena itu kita berusaha untuk membangkitkan perekonomian masyarakat,” tandasnya. (*/rus)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com

Populer Minggu ini