Connect with us

Headline

ASS tak Dilibatkan Bahas Proyek, tidak Kenal Anggu

Rudy Mengaku tak Dilapori Soal Ruas Jalan Palampang-Munte-Bontolempangan

-

MAKASSAR, BKM — Walau jabatannya sebagai wakil gubernur kala itu, Andi Sudirman Sulaiman tak pernah dilibatkan dalam pembahasan proyek yang akan dilaksanakan di Sulawesi Selatan. Oleh Gubernur Nurdin Abdullah, dirinya hanya diajak berkomunikasi terkait pengawasan dan progress.
”Untuk secara spesifik sama sekali tidak pernah membicarkana masalah proyek. Apalagi fee proyek. Hanya komunikasi soal pengawasan dan progress,” ungkap Andi Sudirman dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Makassar, Kamis (3/6). Ia hadir sebagai saksi terkait suap dan gratifikasi proyek infrastruktur di Sulsel yang mendudukkan pengusaha Agung Sucipto sebagai terdakwa. Sidang berlangsung secara terbuka di Ruang Sidang Utama Prof Harifin A Tumpa.
Jaksa penuntut umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga mencecar ASS dengan pertanyaan soal hubungannya dengan tersangka Edy Rahmat dan Sari Pudjiastuti. Menurut Andi Sudirman, dirinya mengenal Edy, karena sempat datang ke rujab waktu seusai dirinya dilantik sebagai sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Sulsel. “Dia memperkenalkan diri sebagai sekretaris PU dan Perumahan Rakyat,” ungkapnya. “Kalau Ibu Sari Pudjiastuti dua kali (datang) ke saya. Saat selesai dilantik dan ketika kasus ini,” tandasnya.
Ketika ditanya soal Agung Sucipto yang menjadi terdakwa penyuap Nurdin Abdullah, Sudirman mengaku tidak mengenal sosok tersebut. Ia baru tahu tentang pengusaha yang karib dipanggil Anggu itu setelah NA terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK bersama Sekretaris Dinas PUPR Sulsel Edy Rahmat. “Tidak kenal (Agung Sucipto) dan tidak tahu. Baru tahu setelah setelah kasus ini,” ujarnya.
Ia menegaskan, sebagai wagub saat itu, dirinya fokus melakukan pengawasan internal dan soal pengadaan proyek. Mulai dari mengawal visi-misi dan progress internal. “Saya fokus bagaimana menyukseskan ini (program). Komunikasi soal spesifik proyek tidak pernah,” akunya.
Sudirman juga menjelaskan terkait proyek jalan Palampang-Munte-Bontolempangan. Ia mengaku sama sekali tidak mengetahui soal proyek yang dikerjakan oleh terdakwa. Sebab dalam setahun ada ratusan proyek yang dikerjakan. Bukan hanya proyek jalan Palampang-Munte-Bontolempangan.
“Saya tahu dari media (peresmian proyek jalan Palampang-Munte-Bontolempangan dan Titik Nol Pantai Bira Bulukumba) setelah kunjungan gubernur (Nurdin Abdullah) keliling. Saya tidak hadir karena saya tidak diundang,” ucapnya.
Sebelum mengikuti persidangan, Andi Sudirman terlebih dahulu harus menunggu. Adik mantan Menteri Pertanian Amran Sulaiman ini terlihat bercengkrama dengan para saksi lain di ruang tunttu.
Ia mengaku baru tiba dari Jakarta, Rabu malam (2/6) usai dimintai keterangan di KPK. Pagi harinya ASS harus kembali bersaksi karena kasus suap dan gratifikasi yang menyeret Nurdin Abdullah.
JPU KPK Muh Asri Irwan, mengatakan pihaknya menghadirkan Andi Sudirman yang sebelumnya merupakan wakil gubernur Sulsel, dengan tujuan untuk memperjelas masalah anggaran. “Yang paling tahu soal itu tentu wakil gubernurnya, serta Prof Rudy Djamaluddin dari PUPR,” ujar Asri.
Selain ASS, JPU juga menghadirkan empat orang saksi dalam sidang kali ini. Yakni Kepala Dinas PUPR Sulsel Rudy Djamaluddin dan Kabid Bina Marga PUPR Sulsel Eddy Jaya Putra. Dua lainnya adalah mantan ajudan Nurdin Abdullah, masing-masing Syamsul Bahri dan Salman Natsir.
Kepala Dinas PUPR Sulsel Rudy Djamaluddin dalam kesaksiannya, mengatakan bahwa awalnya ia tidak mengenal sosok Agung Sucipto. Ia baru mengetahui sosok Anggu setelah kasus suap terhadap Nurdin Abdullah dan Edy Rahmat diungkap KPK.
Dia mengaku hanya tahu nama Anggu, dan ternyata itu itu Agung Sucipto setelah kasus ini terungkap. Mantan pelaksana tugas (plt) wali kota Makassar ini juga tidak mengetahui secara spesifik proyek jalan Palampang-Munte-Bontolempangan yang dimenangkan oleh Agung Sucipto. Ia beralasan tidak mendapatkan laporan dari tersangka Edy Rahmat yang bertindak sebagai sekretaris Dinas PUPR Sulsel.
“Saya tidak tahu pelaksanaan proyek jalan Palampang-Munte-Bontolempangan. Tidak pernah dilaporkan oleh sekretaris (Edy Rahmat). Ada KPA (kuasa pengguna anggaran) yang lebih tahu teknisnya. Mereka lebih tahu,” kata dia.

Rudy juga menjelaskan soal dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebesar Rp1,2 triliun yang didapatkan Pemprov Sulsel dari pemerintah pusat. Ia menyebut, dari dana PEN tersebut ada di antaranya yang digunakan untuk proyek pengerjaan jalan di Dinas PUTR Sulsel.
“Terus terang untuk (pendanaan proyek) dari PEN, saya tidak hafal ruas-ruasnya (jalan). Karena banyak proyek jalan,” tuturnya.
Usai mendengar keterangan para saksi, Ketua Majelis Hakim Ibrahim Palino mengatakan sidang akan kembali digelar pekan depan. Tepatnya Kamis, 10 Juni 2021 dengan agenda masih keterangan saksi.
“Sidang dilakukan sekali seminggu agar pemeriksaan saksi bisa maksimal. Jika mendesak baru sidang kita lakukan dua kali seminggu,” tandasnya. (mat)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com

Populer Minggu ini