Connect with us

Headline

Kesaksian Dua Mantan Ajudan NA

-

DUA mantan ajudan Gubernur Sulsel Nonaktif HM Nurdin Abdullah memberi kesaksian di Pengadilan Tipikor Makassar, Kamis (3/6). Mereka adalah Syamsul Bahri dan Salman Natsir.

Menurut Syamsul Bahri, ia mengenal Nurdin Abdullah di Bantaeng tahun 2003. Ketika menjadi ajudan saat Nurdin jadi gubernur, ada beberapa orang pengusaha yang pernah datang ke kantor gubernur, seperti Robert dan Haeruddin. Masing-masing pernah menyerahkan uang di rujab gubernur.
Saat Robert datang untuk menghadap, Syamsul diminta untuk bertemu Robert di parkiran rujab. Waktu itu Januari 2021. ”Kardus berisi yang saya bawa ke rumah jabatan, lalu disimpan di kamar tidur pojok,” ungkap Syamsul.
Esok harinya, ia disuruh untuk menemui seorang pengusaha lain bernama Haeruddin. ”Ada titipan untuk gubernur. Lalu titipan tersebut saya simpan di ruang kerja, kemudian saya laporkan,” terangnya.
Ada pula pengusaha Fery Tandiari yang pernah datang pada bulan Januari. Syamsul kemudian bertemu dengannya di Jalan AP Petta Rani. ”Titipan dari Fery saya bawa ke rujab sebesar Rp2,2 miliar. Saya disuruh simpan di ruang kerja,” bebernya.

Ada pula pengusaha bernama Haji Momo. Di bulan Januari agak malam, diserahkan amplop kepada Syamsul Bahri. ”Uangnya gelondongan. Untuk satu bulan operasional Rp200 juta. Tergantung kegiatan. Ada juga uang sumbangan yang dibagikan untuk kepentingan umum sebesar Rp2,5 miliar,” sebut Syamsul.
Saksi Salman Natsir mengaku mengenal Anggu sejak di Bantaeng. Sesaat sebelum Edy Rahmat terjaring OTT KPK, Salman sempat berkomunikasi dengannya. Edy menanyakan posisi NA. ”Silakan hubungi ajudan lain,” ujarnya.
Salman juga mengaku pernah diperintahkan oleh NA untuk menerima uang. Ia menerima pesan WhatsApp dan disuruh datang ke kediaman pribadi Nurdin di Perumahan Dosen Unhas, Tamalanrea. Setibanya di sana, ia disuruh menemui Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa Sari Pudjiastusi untuk menerima titipan.
”Saya hubungi Ibu Sari dan dia sedang berada di Hotel Rinra. Saya kemudian jemput lalu mengarah ke (apartemen) Vida View. Setelah menunggu, ada mobil hitam datang dan memindahkan koper ke mobil saya. Setelah dipindahkan, baru disampaikan kalau itu uang,” jelasnya.

Salman kemudian mengantar Sari kembali ke Hotel Rinra. Selanjutnya ia membawa uang dalam koper itu ke Bank Mandiri Panakkukang, dan menyerahkannya kepada seseorang bernama Ardi di depan ruang tunggu. Selanjutnya ke Perumahan Dosen menemui Nurdin untuk melapor. (mat)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com

Populer Minggu ini