Connect with us

Headline

KPK Sasar Kontraktor Senior di Kasus NA

-

MAKASSAR, BKM — Sebanyak 10 saksi diperiksa secara maraton oleh tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus suap dan gratifikasi di Sulawesi Selatan. Mereka ditanya soal aliran dana ke Gubernur Sulsel Nonakrif Nurdin Abdullah.
Juru bicara KPK Ali Fikri menyampaikan hal itu, Rabu (9/5).

KPK memanggil kontraktor yang cukup terkenal di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Mereka dimintai keterangan sebagai saksi kasus yang menyeret Nurdin Abdullah.
Ada beberapa nama kontraktor baru yang disasar dalam pemeriksaan ini. Mereka adalah Petrus Yalim, Thiawudy Wikarso, dan John Theodore.

Mereka sudah lama malang melintang dunia kontraktor.
Petrus Yalim diketahui pemilik perusahaan PT Putra Jaya yang berlamat di Jalan AP Petta Rani Makassar. Berdasarkan data dari dokumen KPPU, PT Putra Jaya mengikuti tender-tender pengerjaan jalan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Thiawudy Wikarso adalah pengusaha konstruksi yang juga banyak mengerjakan proyek pembangunan jalan di Sulawesi Selatan. Ia tergabung dalam Asosiasi Aspal Beton Indonesia (AABI). Jabatannya adalah bendahara DPD AABI Sulawesi Selatan.
Selanjutnya Fery, menjabat sekretaris DPD AABI Sulawesi Selatan. Ia adalah direktur PT Karya Pare Sejahtera.

Fery Tandiary juga pernah menjabat sebagai sekretaris umum Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia atau Gapensi Provinsi Sulsel periode 2014-2019. Ia juga pernah tercatat sebagai wakil ketua Umum Bidang Jasa Konstruksi Kadin Sulsel.
Nama Fery Tanriady populer ketika menjabat bendahara DPW Partai Nasdem Sulsel. Namanya juga disebut-sebut dalam sidang hak angket DPRD Sulsel tahun 2019 lalu.
Terakhir adalah John Theodore. Kontraktor senior ini sudah berkarier lama di dunia konstruksi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Ia memimpin perusahaan PT Makassar Indah Graha Sarana yang disingkat MIGS. John Theodore terkenal ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan proyek revitalisasi dan perluasan Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin. Saat itu, John Theodore mendapatkan pujian dari presiden SBY tahun 2008 lalu.

Ia juga pemilik Makassar Mall di pusat kota Makassar.
Di hadapan majelis hakim pada sidang kasus terdakwa Agung Sucipto pekan lalu, Kepala Biro Pengadaan Barang/Jasa Sekertariat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Sari Pudjiastuti menceritakan kronologi kontraktor Haji Momo memberikan uang sebesar Rp1 miliar kepada NA melalui perantara. Sari menjawab pertanyaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Zainal Abidin, apakah Nurdin Abdullah pernah menerima uang dari kontraktor lain.

“Ada, Pak. Rp1 miliar itu di Desember 2020. Suatu ketika saya diminta ke rujab oleh ajudan Pak Gubernur, seperti biasa untuk melaporkan progres lelang,” kata Sari kepada JPU.
“Dia (NA) mengatakan, memerlukan biaya operasional Rp1 miliar. Dia bertanya siapa yang bisa membantu. Setelah itu saya menyampaikan jika itu tergantung beliau, dan pak NA memilih Haji Momo,” lanjutnya.

Selain itu, ada pengusaha yang banyak mengerjakan proyek di Bone Hendrik Tjuandi. Ia adalah direktur PT Citra Pribumi Teknik Perkasa. Perusahaan ini beralamat di Kota Watampone, Kabupaten Bone.

“Para saksi yang dimintai keterangan lebih banyak para kontraktor. Ada juga dari pegawai negeri Sipil,” kata Ali
Fikri.

Ali menambahkan, mereka yang dimintai keterangan pada hari Selasa (8/6) adalah Petrus Yalim, Mega Putra, Kemal Wahyudi, dan Rober Wijaya.

“Saksi Petrus dikonfirmasi antara lain mengenai dugaan adanya aliran penerimaan sejumlah uang dalam bentuk gratifikasi pada tersangka Nurdin Abdullah. Kemudian Mega Putra Pratama, Andi Kemal Wahyudi, dan Rober Wijaya didalami keterangannya antara lain terkait dengan dugaan aliran sejumlah uang dari beberapa pihak kepada Nurdin. Karena telah mendapatkan beberapa paket pekerjaan proyek di Pemprov Sulsel,” terang Ali Fikri.
Nama-nama pengusaha tersebut, lanjutnya,juga sempat disebut oleh mantan ajudan Nurdin, Syamsul Bahri pada sidang ketiga di Pengadilan Negeri Makassar, pekan lalu. Mereka disebut pernah memberi uang ke Nurdin.

Kemudian, lanjut Ali Fikri, ada Andi Sahwan yang juga seorang PNS. Ia dikonfirmasi antara lain terkait dengan paket pekerjaan proyek pada Dinas Bina Marga di Pemprov Sulsel.

Ali mengatakan beberapa waktu sebelumnya, tim penyidik juga telah memeriksa beberapa saksi untuk Nurdin Abdullah.
Mereka adalah para pengusaha.

Di antaranya, Kwan Sakti Rudy Moha, Herman Sentosa, dan Imelda Obey. Ketiganya diperiksa sebagai saksi dan didalami pengetahuannya antara lain terkait dugaan penerimaan gratifikasi oleh Nurdin Abdullah dalam bentuk sejumlah uang.

Kemudian ada karyawan swasta yakni La Ode Darwin dan Arief Satriawan yang juga seorang Konsultan. Namun, kata Ali, mereka tidak hadir.

“Pemanggilan ulang akan segera dilakukan dan dijadwalkan,” tandas Ali Fikri. (jun)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com

Populer Minggu ini