Connect with us

Headline

Bantah Kesaksian Sari, NA Sumpah Demi Allah

-

BKM/CHAIRIL SIDANG LANJUTAN-Saksi yang dihadirkan dalam lanjutan sidang dengan terdakwa Agung Sucipto di PN Makassar, Kamis (10/6). Gubernur Sulsel Nonaktif Nurdin Abdullah juga dihadirkan sebagai saksi secara virtual dari tempatnya ditahan di Rutan KPK Cabang POMDam Jaya Guntur.

MAKASSAR, BKM — Sidang lanjutan Agung Sucipto, terdakwa kasus suap dan gratifikasi proyek infrastruktur di Sulsel digelar, Kamis (10/6). Berlangsung di ruangan Harifin Tumpa Pengadilan Negeri Makassar.
Jaksa penuntut umum (JPU) menghadirkan lima saksi pada sidang tersebut. Salah satunya adalah Gubernur Sulsel Nonaktif HM Nurdin Abdullah. Mendekam di Rutan KPK Cabang POMDam Jaya Guntur usai terjaring operasi tangkap tangan (OTT), NA dihadirkan secara virtual dari tempatnya ditahan. Ia mengenakan baju batik berwarna cokelat.
Di depan majelis hakim pengadilan, NA membantah tudingan saksi Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa Sulsel Sari Pudjiastuti. Ia bersumpah seraya mengucapkan kalimat demi Allah.
Menurut Nurdin, dirinya tidak pernah memberikan instruksi kepada Sari Pudjiastuti untuk memenangkan Agung Sucipto pada tender lelang proyek infrastruktur di Sulsel. Ia bahkan bereaksi keras ketika dicecar oleh majelis hakim.

Walau begitu, NA pernah memanggil Sari Pudjiastuti sebanyak tiga kali untuk bertemu dengannya di rumahnya di kompleks Perumahan Dosen Unhas Tamalarea dan rumah jabatan gubernur. Hanya saja, dia membantah keterangan Sari Pudjiastuti yang menyebutkan bahwa dirinya pernah memberi instruksi untuk memenangkan Agung Sucipto dalam tender proyek.
“Tiga kali, kalau tidak salah. Tapi tidak benar kalau saya memberi instruksi ke Ibu Sari. Saya panggil untuk membahas laporan tentang pelelangan. Demi Allah saya tidak pernah menyuruh,” tukasnya.
Nurdin mengatakan, dalam tiga pertemuan itu dirinya hanya menerangkan agar semuanya dilakukan sesuai dengan syarat yang berlaku. Sehingga, kata dia, keterangan Sari Pudjiastuti itu tidak benar.
Selain itu, Nurdin juga membantah keterangan mantan ajudannya, Salman terkait uang dari H Momo sebesar Rp1 miliar. Ia mengaku tidak pernah menerima langsung uang tersebut dan tidak menggunakannya.
“Jadi saya jujur, itu saya instruksikan untuk THR anak-anak, termasuk walpri (pengawal pribadi), sopir dan bagian dapur. Kalau ada proyek yang bisa dibagi untuk mereka,” jelasnya.
Kendati begitu, NA tak bisa mengelak saat Ibrahim Palino menanyakan apakah pernah melihat uang baru hasil tukar dari bank. Nurdin mengakui melihat uang itu diamplopkan. Namun, ia berdalih hal itu murni diatur oleh Syamsul, ajudannya saat itu.
Selain Nurdin, saksi lain yang hadir juga pengusaha atas nama Petrus Yalim. Kemudian ada pegawai Bank BNI Cabang Arif Rate, Siti Abidah Rahma. Saksi lain ada Raymond Ferdinand Halim dan Andi Gunawan yang mengaku anak angkat Agung Sucipto.

Para saksi mengaku mengenal Agung Sucipto. Salah satunya Direktur PT Agung Perdana Bulukumba Raymond Ferdinand Halim.
Raymond mengaku sudah mengerjakan proyek Pemprov Sulsel sejak tahun 2019 hingga 2020. Proyek itu khusus pengerjaan jalan di Bulukumba dan sekitarnya.
“Jalan Munte-Bontolempangan dikerjakan Agung Perdana pada tahun 2019. Kemudian, PT Cahaya sepang tahun 2020, Palampang-Bontolempangan,” kata Raymond.
Raymond mengaku pada pengerjaan tersebut, Raymond pernah dihubungi oleh Edy Rahmat, mantan sekretaris Dinas PUTR Pemprov Sulsel. Ia meminta bantuan. Agung Sucipto sebagai pemilik perusahaan kemudian memerintahkan agar ditransferkan uang Rp5 juta.
Begitu pun saat Nurdin Abdullah melakukan kunjungan kerja ke Bulukumba, Agung meminta agar Raymond menyiapkan uang Rp10 juta. Raymond juga mengaku setiap ada pejabat Pemprov Sulsel yang mau ke Bulukumba, ia selalu yang dihubungi. Para pejabat itu selalu minta difasilitasi hotel gratis dan uang operasional. (mat-jun)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com

Populer Minggu ini