Connect with us

Metro

Penyerapan Beras Petani Terhenti

-

Ervina Sulaeha

BULUKUMBA, BKM — Gudang penyimpanan Perum Bulog di Kabupaten Bulukumba penuh. Hal itu membuat penyerapan beras maupun gabah petani terhenti untuk sementara waktu.
Kepala Perum Bulog Cabang Bulukumba, Ervina Sulaeha ditemui di ruang kerjanya Kamis (10/6) mengatakan ada dua gudang milik Perum Bulog di Kabupaten Bulukumba. Kedua gudang itu berada di Kecamatan Gantarang. Satu di Kalimassang, Kelurahan Mariorennu, dan satunya lagi di Desa Palambarae.

“Iya gudang penuh sejak bulan lalu, jadi kami sudah tidak lagi menyerap gabah maupun beras milik petani,” beber Ervina.
Untuk kuota di dua kompleks gudang tersebut, yakni 8.000 ton di Kelurahan Mariorennu dan 4.500 ton di Desa Palambarae.
Rendahnya penyaluran beras, membuat gudang cepat penuh, apalagi produksi beras petani meningkat tahun ini.
Sejak 2018 lalu, setelah Bansos dan Rastra dialihkan ke BPNT, sumber beras tak diambil dari Perum Bulog.

“Biasanya dua kali lipat dari sekarang kita bisa salurkan. Dulu itu kita yang nyari beras, sekarang tidak,” kata ervina
Dengan tertutupnya penyerapan beras di Perum Bulog, maka diprediksi harga bakal membuat harga beras anjlok. Pasalnya, patokan harga yang selama ini dijadikan acuan adalah harga dari Perum Bulog.
“Ada andilnya terkait harga diluar. Patokan umum harga selalu ke Bulog. Kalau mereka tahu di Bulog sudah penuh pasti pasaran umum rendah,” beber Ervina.
Kini Bulog mendistribusikan beras ke outlet binaannya. Itu bisa menyerap beras mulai dari 500 kilo sampai satu ton, setiap pekannya.
“Ritel dan distributor. Karena sementara permintaan juga lesu dan harga lagi turun. Kita juga tidak bisa ngapa-ngapain. Namun kita punya outlet binaan, ada sebanyak 20-an yang aktif saat ini,” jelasnya.
“Kita buat semacam toko pangan. Jadi toko kecil yang kita bina, kita masukan barang disana, seperti beras, terigu, gula pasir, dan lainnya,” tambahnya.
Tahun 2020 masih ada 1.800 ton lebih. Tahun 2021 masih ada 1.600 ton lebih. Jadi sekitar 3.500-an ton di gudang Palambarae,” katanya. Sementara di gudang Kalimassang, tahun 2020 masih ada 400 ton. Gabah tahun 2020, masih proses giling.

“Setelah kami melihat ada ketidakmampuan kapasitas gudang. Yang problematik sekarang adalah serapan penyaluran masyarakat ke Bulog,” jelasnya.
Pihaknya memiliki dua tugas, yaitu penyerapan dan penyaluran. Untuk penyerapan, katanya, sudah dilakukan hingga tanggal 8 Mei 2020 lalu. (min/C)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com

Populer Minggu ini