Connect with us

Headline

Bahan Bom Ikan Diselundupkan dari Luar Negeri

Delapan Nelayan Tersangka, 100 Batang Detonator Disita

-

IST TERSANGKA-Delapan nelayan yang diamankan Ditpolairud Polda Sulsel dan telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ilegal fishing.

MAKASSAR, BKM — Sebanyak delapan orang pelaku penangkapan ikan secara ilegal (ilegal fishing) berhasil diamankan jajaran Direktorat Polairud Polda Sulsel. Selain itu, polisi juga menyita raturan bom ikan siapa pakai. Termasuk 100 batang detonator.
Kapolda Sulsel Irjen Pol Merdisyam merilis pengungkapan kasus ini di markas Ditpolairud Polda Sulsel Jalan Ujungpandang, Makassar, Rabu (26/6). Ia didampingi Kabid Humas Kombes Pol E Zulpan. ”Ada delapan lokasi dan waktu berbeda, yang berlangsung bulan maret hingga Juni,” ujar Irjen Merdi.

Ia kemudian merinci lokasi tersebut. Tanggal 13 Maret 2021 di pesisir Pulau Kodingareng, Makassar. 25 April 2021 di sekitar perairan Karang Matelak, Teluk Bone. 8 Mei 2021 di Pulau Kodingareng, Makassar. Kemudian, di bulan Juni penangkapan terjadi disekitar perairan kepulauan sembilan Teluk Bone 3 Juni 2021.
Penangkapan juga dilakukan di pesisir Pulau Lambego, Kabupaten Selayar, dan 5 Juni 2021 di perairan kurang lebih 7 mil sebelah selatan pulau Butung-butungan, Kecamatan Kalu-kalukuang Masalima, Kabupaten Pangkep, dan di perairan Pulau Kalu-kalukuang, Selat Makassar, Kabupaten Pangkep, serta di pesisir Pantai Kelurahan Pancaitana, Kecamatan Salomekko, Kabupaten Bone.
Delapan orang yang diamankan polisi, masing-masing berinisial HL (44), AG (50), SR (30), HR (39), MH (44), MR (42), dan RS (33). Mereka merupakan nelayan yang mencari ikan di perairan lokasi penangkapan. Polisi telah menetapkannya sebagai tersangka dan ditahan di markas Ditpolairud Polda Sulsel.
Kapolda menjelaskan, penangkapan tersangka dilakukan berdasarkan laporan dan informasi dari masyarakat tentang adanya penggunaan bom ikan oleh oknum para nelayan. Hal itu kemudian ditindaklanjuti dengan patroli oleh tim Ditpolair Baharkam dan tim lidik Subdit Gakkum Ditpolairud Polda Sulsel.

Irjen Merdisyam juga menjelaskan asal usul beberapa bahan peledak yang berhasil disita. Di antaranya, pupuk amonium nitrate sebagian besar berasal dari Malaysia yang diselundupkan melalui jalur laut ke Kalimantan, masuk hingga Sulawesi Selatan, kemudian diedarkan di pulau-pulau. Sementara detonator sebagai pemicu ledakan berasal dari luar negeri yang diselundupkan masuk ke Indonesia melalui jalur laut ke perairan Sulsel, kemudian diedarkan ke pulau-pulau di wilayah Sulsel. Sedang sumbu api sebagai pengantar panas merupakan pabrikan maupun rakitan yang biasanya dibuat di Indonesia.

Adapun barang bukti yang disita dari seluruh tersangka, antara lain enam perahu, tiga unit kompressor, tujuh rol selang, 10 buah sepatu bebek, regulator 10 unit , kacamata selam 11 buah, GPS 3 unit, 101 bom ikan yang sudah terangkai, dan detonator 100 batang.

Dari hasil pemeriksaan di Labfor Polda Sulsel, ada empat komponen yang ditemukan.

Terdiri dari power atau sumber daya. Umumnya digunakan dengan cara dibakar dan masih tradisional. Kedua, bahanp eledaknya jenis eksplosif menggunakan senyawa amonium nitrat fuel oil (ALFO) atau sejenis pupuk yang dicampur bahan bakar seperti bensin atau minyak tanah.

“ALFO ini jenis peledak high eksplosif dengan kecepatan ledak sekitar 4.760 meter perdetik,” kata Merdisyam.

Ketiga, detonator rakitar berupa beberapa campuran bahan peledak. Yaitu Trinitrotoluena (TNT) dengan kecepatan ledak 6800 meter perdetik jenis high eksplosif. Pentaeritritol tetranitrat (PETN), dengan daya ledak 8000 meter perdetik, high eksposif. Dan Potasium klorat, dengan kecepatan 800 meter perdetik jenis low eksplosif.

“Detonator ini berfungsi sebagai pemicu rangkaian bom,” tambahnya.

Keempat adalah saklar menggunakan sumbu api yang dibakar. Pada barang bukti terdapat dua sumbu api. Sumbu api pabrikan dan sumbu api rakitan yang menggunakan kepala korek.

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol E Zulpan menjelaskan, keberhasilan mengungkap ilegal fishing ini sangat berarti bagi keberlanjutan potensi sumber daya ikan dan lingkungan di wilayah Sulsel.

Kata dia, dampak penggunaan bom ikan sangat merugikan, karena rusaknya keberlanjutan potensi sumber daya ikan dan lingkungannya. Salah satu bagian pentingnya adalah hancurnya ekosistem terumbu karang dan punahnya biota laut.

”Dampak ini memberi pengaruh kuat sehingga dapat terjadi akibat yang sangat luas. Pada aspek ekologi dapat menurunkan stabilitas lingkungan ekosistem perairan, menurunnya keseimbangan regenerasi dan produktifitas ekosistem, sehingga tidak lagi berfungsi maksimal.

“Kemudian dari aspek perikanan dapat menurunkan produktifitas perikanan yang secara langsung ikut menurunkan dan menghilangkan sumber pendapatan masyarakat,” jelas E Zulpan.
Karena perbuatannya, para tersangka dijerat Undang-Undang RI
Pasal 1 ayat (1) UU Darurat RI No. 12 tahun 1951 dan/atau pasal 84 ayat (1) UU RI No 45 tahun 2009 tentang perubahan atas UU No 31 tahun 2004 tentang perikanan, dengan ancaman pidana penjara hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup, atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya dua puluh tahun. Dan/ atau pidana penjara paling lama enam tahun dan denda paling banyak Rp1,2 miliar. (jul-nug)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com

Populer Minggu ini