Connect with us

Metro

Kaji Ekologi Penggunaan Bahasa Multilingual, Brendon Daeng Naba Raih Status Promovendus di UNM

-

Brendon Daeng Naba mengikuti ujian tutup disertasi via zoom meeting, Rabu, 23 Juni 2021.

MAKASSAR, BKM — Brendon Marshall,BA,MApp.Ling,  atau dikenal pula dengan nama panggilan Brendon Daeng Naba mengikuti ujian tutup disertasi pada Rabu, 23 Juni 2021, via zoom meeting. Pria bule yang sudah fasih berbahasa Makassar ini adalah mahasiswa Program Doktor (S3) di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar.

Brendon tercatat sebagai mahasiswa angkatan 2017 meneliti dan menulis disertasi dengan judul An Ecological Description of Multilingual Language Use Among the Makassar People of South Sulawesi (Deskripsi Ekologis Penggunaan Bahasa Mulitilingual di Masyarakat Makassar di Sulawesi Selatan). Pembimbing Prof Drs Muhammad Basri,MA,PhD selaku promotor serta Prof Dr Anshari,MHum dan Prof Dr Jasruddin,MSi selaku kopromotor.

Mantan dosen bahasa Indonesia di La Trobe University Australia ini melakukan riset di Desa Sampulungan, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar. Selain meneliti di desa tersebut, dia bersama keluarga juga bermukim selama kurang lebih lima tahun. Keluarga Brendon Daeng Naba telah menyatu dengan seluruh aktivitas masyarakat di lokasi risetnya.

Riset Brendon Daeng Naba bertujuan menerapkan perspektif ekologis dalam menggambarkan bagaimana bahasa digunakan masyarakat Makassar yang multilingual di Sulawesi Selatan, khususnya mereka yang bermukim di daerah pedesaan.

Desa Sampulungan sebagai lokasi risetnya terletak di wilayah perbatasan Kabupaten Takalar, Kabupaten Gowa, dan Kota Makassar sehingga mobilitas masyarakat pedesaan sangat tinggi dalam berinteraksi dengan perkotaan sebagai basis penggunaan bahasa Indonesia.

Daeng Naba –panggilan akrabnya di Desa Sampulungan– meneliti dengan menggunakan disain kualitatif etnografis. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi partisipan, wawancara, diskusi kelompok terpimpin atau focus group discussion (FGD), dan perekaman. Riset ini juga menggunakan disain kuantitatif berupa survei sosiolinguistik berskala kecil.

Temuan riset Daeng Naba yang bertempat tinggal di Bendigo Australia, antara lain secara spesifik menemukan bermacam-macam jenis bahasa yang digunakan masyarakat Makassar perdesaan pada waktu dan keadaan yang berbeda. Jenis bahasa tersebut, yaitu bahasa Indonesia baku, bahasa Indonesia lokal atau bahasa Indonesia-Makassar, bahasa Makassar halus (H), bahasa Makassar Umum (L), dan bahasa Arab Klasik.

Ditemukan pula bahwa masyarakat Makassar umumnya hidup dengan etika multibahasa yang adil di mana mereka memiliki sikap positif terhadap semua bahasa yang tersedia dalam ekologi bahasa mereka. Namun, bagi masyarakat awam, kelancaran biasanya hanya diperoleh dalam bahasa Makassar (L) dan bahasa Indonesia-Makassar.

Tim penguji dalam ujian disertasi Brendon Daeng Naba, yaitu Ketua Prof Drs Muhammad Basri,MA,PhD, Sekretaris Prof Dr Anshari,MHum, dan anggota Prof Dr Jasruddin,MSi, Amirullah, SPd,MEd,PhD, Prof Murni Mahmud,SPd,MHum,PhD, dan Drs Asrun Lio,MHum,PhD. (rls)

 

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com

Populer Minggu ini